
Bab 56
Suasana tegang meliputi pagi itu, Pak Budi dan Bu Kalina bersiap untuk operasi sang putri siang ini. Mereka membeli bungkus beberapa bubur kacang hijau dengan ketan hitam untuk sarpan pagi ini juga sebuah roti keju cokelat untuk
masing-masing anggota keluarga.
“Bu, enak juga ya buburnya,” ujar Kasih.
“Kalau kau menyukainya besok akan ibu belikan lagi,” ucap Bu Kalina.
“Aku juga dong, Bu,” pinta Dellon dengan manja.
“Hah! Kau ini sudah besar masih mau mengiri lagi,” kata Pak Budi.
“Dasar tukang cari perhatian,” ujar Darren.
Tak lama masuklah dua orang perawat memberikan obat,mengukur tekanan darah lalu berujar “Siapkan diri, siang kita akan segera ke
ruang operasi.”
“Baik, Sus,” sahut Kasih.
Kedua perawat tadi segera meninggalkan ruangan dan melakukan pemeriksaan di kamar lainnya. Darren segera mendekati sang adik dan berkata“Dek, jangan takut ya.”
__ADS_1
“Tenang saja,Bang.” kata Kasih berusaha tersenyum walaupunhatinya sebenarnya takut juga. Ini adalah pertama kalinya dia akan melakukan operasi, selama ini tak pernah sekalipun sakit sampai di rawat seperti ini.
Paling hanya deman, batuk atau pilek saja.
“Ayo habiskan sarapannya,” ujar Pak Budi.
“Bang Davin masih belum kemari ya ,Bu?” tanya Kasih.
“Belum,dia lagi angkat pakaian, lipat dan bawa kemari juga cuci baju kotor yang ada di tempat kost,” jawab Bu Kalina.
“Tenang saja, siang sebelum kau operasi davin pasti sudah datang. Kami semua akan menemanimu,” kata Pak Budi.
“Terimakasih.”
gadis nampak memperhatikannya, paras rupawannya menarik perhatian kaum hawa.
Pak Budi menunggu di depan pagar agar sekuriti
membolehkannya masuk ke dalam, melihat kedatangan sang putra membuat pria tua
ini sumringah. Keduanya pun segera masuk ke dalam.
“Bapak, apakah operasi sudah mau di mulai?” tanya Davin.
__ADS_1
“Sedikit lagi, kita semua juga sedang menunggu suster datang,” jawab Pak Budi.
“Baguslah, jadi aku masih bicara bercakap-cakap dengan Kasih,” kata Davin.
“Dia juga mencarimu sejak tadi pagi,” ujar Pak Budi.
“Aku tahu, Dellon ada kirim SMS menyuruh aku secepatnya cuci baju karena Kasih menungguku,” ucap Davin.
Sesampainya di depan ruang rawat inap sudah ada suster yang memindahkan kasih ke tempat tidur lain dan ada roda di ujung kakinya sehingga
mudah di bawa menuju ruangan operasi. Selang infus juga di periksa sebelum meninggalkan kamar rawat inap.
Di dalam ruangan operasi, gadis ini sudah berganti pakaian dan terdapat beberapa Dokter juga perawat di sana. Kasih berdoa dalam hatinya
sebeum memulai operasi. Sakit sekali suntikan bius yang di berikan ke dalam tubuh mungil itu. Sedikit meringgis menahannya, namun dia berusaha menjadi kuat karena hanya ini jalannya satu-satunya agar bisa kembali ke masyarakat umum tanpa di pandang rendah akibat berwajah
jelek. Menghilangkan muka buruk rupa.
“Kasih siap ya kita mulai sekarang operasinya,” kata Dokter Sintia.
“Baik, Bu Dokter,” sahut Kasih.
Perlahan kesadarannya mulai hilang mungkin efek obat bius, lalu tak terdengar lagi semua suara yang ada di dalam ruangan
__ADS_1
operasi. Para dokter mulai melakukan pekerjaan luarbiasa untuk memperbaiki wajah sang korban penyiraman air keras. Gadis muda yang memiliki masa depan cerah.