
Pemandangan menara Eifell terlihat dari tempat mereka makan malam, kini semua sudah duduk bersama sambil makan dan bercengkrama satu sama lain. Kasih merasa agak risih karena selama makan terus saja di perhatikan oleh Steven.
Tiba-tiba ada yang menarik baju Steven dari belakang sampai lelaki itu jatuh ke lantai. Lalu di tendang beberapa kali oleh seorang pria. Wajah pria itu tampak familliar meskipun memakai kacamata.
“Bang Darren!”Pekik Kasih.
Pantas saja tidak ada yang membantu karena mereka paham kalau darren yang datang, tak lama menyusul juga Delon dan Davin sambil memegang Hot Dog di tangan mereka. Delon langsung duduk di sebelah Suzy dan minta di suapin makanan. Davin sendiri berjongkok di depan Steven yang masih berbarinmg di lantai dan menamparnya dua kali.
“Hentikan! Kenapa kalian berdua bersikap demikian?” tanya Kasih.
Kedua kakanya langsung diam dan berdiri masing-masing di sebelah kiri dan kanan lalu Darren berkata “Siapa suruh dia berani melamar adik bungsu kami tanpa meminta izin.”
“Benar! Hal ini pun kami ketahui dari Suzy waktu tadi Delon menelpon, untung saja kami sudah berada di kota ini. Rencananya mau beri kejutan ke Ayah dan Ibu, ngga tahunya dengar kalau cecenguk ini berani melamar saudara kami,” papar Davin menjelaskan.
“Hei ,bangun jangan manja.Apa yang akan kau lakukan jika Lemah! Adik perempuanku harus punya pria tangguh bukan menye – menye dan hanya bisa mengandalkan uang saja,” kata Darren dengan tegas.
“Kan sudah ku bilang, kalau berani ajak Kasih kencan harus meminta izin ketiga kakaknya apa lagi ini mau ajak menikah?Wow tidak bisa, kamu harus berusaha keras,tidak seenak pikiranmu,” sambung Delon.
“Kalian bertiga ini selalu saja demikian. Setiap ada yang dekati adikmu langsung jadi seperti anjing herder, mau Kasih jadi perawan tua,” ujar Bu Kalina sambil geleng kepala melihat tingkah ketiga anak lelakinya.
“Kau salh Delon, kini Kasih punya aku juga sebagai kakaknya,” kata Philip tak mau kalah.
“Kamu Cuma terkait karena hubungan darah, selama ini kami yang menjaganya. Jadi ingat baik-baik, harus utamakan Kasih melebihi pacarmu sekalipun,” ujar Darren dengan sinis.
__ADS_1
“Kasih, mereka bertiga seram sekali,” Bisik Karenina.
“Kau harus waspada jika Darren mengakuimu juga maka Dokter Sonny akan tamat,” balas Kasih mengingatkan kembarannya.
Nina pun mengganguk, sedangkan Bi Kinan malah tertawa melihat drama di depannya.
“Aku pasti bisa menjaga kedua adikku,” sahut Philip.
“Saat pulang, ikutlah dengan kami. Usai lukamu sembuh, latihan fisik dengan kami biar semakin kuat,” ajak Davin.
“Baik!” Philip menyanggupi permintaan ketiga pria itu.
Steven bangkit lalu membungkukan badannya dan berkata “Ketiga kakak dari Kasih aku minta izin untuk mengajak adik kalian kencan sesekali.”
“Dapat dari mana motornya?” tanya Kasih heran.
“Bang Darren beli dari orang di sana kala melihat motor keren itu dan besok akan di kirim ke rumah,” jawab Davin.
“Steven pakai apa?” tanya Suzy sambil menatap calon kakak iparnya.
“Tunggu, Hei kamu kemarilah,” panggil Davin ke salah satu pelayan dan mulai berbahasa perancis untuk berkomunikasi lalu mendapatkan kunci dan di berikan ke Steven.
“Ikuti dia maka akan di anatar ke motornya, pakai saja dan bayar sewannya,” kata Davin.
__ADS_1
“Aku baru tahu Davin bisa bahasa asing?” tanya Suzy.
“Dia memang tidak melanjutkan kuliah, Namun anak itu senang kosakata asing dan belajar otodidak sehingga bisa beberapa bahasa,” kata Bu Kalina menjelaskan.
“Sayang sekali dia tidak melanjutkan kuliah,” ujar Karenina.
“Itu pilihan kak Davin karena dia mau mengatur sawah dan peternakan milik keluarga dan sekarang bisa sukses. Aku juga mendapatkan biaya hidup dari dia,” kata Kasih.
“Wah itu artinya dia sangat pintar manajemen, ada berapa bahasa yang dia kuasai?” tanya Philip.
“Perancis, Jepang, Mandarin, Arab dan Inggris,” jawab Kasih.
“Luar biasa, itu sangat banyak,” kata Philip kagum.
“Ayo kita lihat balapannya,” ajak Oma Gina.
“Apakah tidak berbahaya?” tanya Bi Kinan cemas.
“Tenanglah Delon sangat mahir dalam balapan motor dan masalah lomba ini pasti Darren sudah paham resikonya,” jawab Bu Kalina berusaha menenangkan.
“Aku membesarkan Steven saja sudah pusing apalagi kamu membesarkan ketiga jagoan itu,” kata Oma Adimiharja.
“Tidak juga, kami malah bangga akan ke emapt anak ini. Mereka saling membantu dan menyayangi,” sahut Pak Budi.
__ADS_1
Semua keluar dari restoran dan ke depan jalan untuk melihat balapan. Steven dan mengikuti sang pelayan agak kaget melihat kondisi motornya yang cuma biasa saja. Pria ini mulai berpikir keras strategi untuk menang. Dengan cepat dia menyalakan mesin motor dan berada di sampingDelon untuk memulai balapan.