
“Untunglah darah kalian berdua cocok, kami akan segera melakukan transfusi darah. Kalian minumlah susu dan makan roti,” kata Suster usai mendapatkan kantong darah dari kedua gadis ini.
“Kasih ,makasih ya kamu mau bantu kakakku,” kata Karenina sambil memeluk.
“Sama-sama.”
Karenina segera melepaskan pelukan kala ketiga kakak Kasih datang untuk menjemput.
“Sudahkan ayo pulang,” kata Darren sambil menatap tajam ke arah Nina.
“Aku pulang ya, sampai jumpa,”ujar Kasih.
Nina cuma menggangukan kepala, entah mengapa di takut melihat kakak sulung Kasih. Memang Darren terlihat sangat jahat dan menyeramkan padahal hatinya paling baik di antara kedua Kakak lainnya.Bi Kinan segera memapah sang Nona dan mengambilkan tongkatnya supaya mampu berdiri. Sebenarnya agak berat kalau meninggalkan saudaranya, tetapi tidak mungkin tetap di sana. Resikonya akan ketahuan.
“Kita mampir makan dulu, Kasih habis mendonorkan darah padahal baru sembuh,”kata Davin.
“Benar, makan bubur ayam yuk. Di depot Pak untung dekat sini enak loh,” ujar Delon.
“Iya makan itu saja, aku juga ingin coba soto kikilnya. Kemaren Davin makan dan tidak bagi aku,” pinta Kasih sambil mengadu.
__ADS_1
“Jelas tidak bisa berbagi, Kakak makan pedas sekali kalau kamu makan nanti tidak bisa pulang dari rumah sakit karena diare,” sahut Davin.
“Kasih ingat jangan terlalu dekat ke saudaramu. Tidak boleh ketahuan dahulu,” kata darren memperingatkan.
“Iya,bang.”
Mobil pun segera melaju menuju salah satu depot makanan favorit mereka, di sana memang tersedia banyak menu dan emping melinjonya paling enak.
“Kamu makan dua porsi saja, soto dan bubur ayam,” kata Davin.
“Aku juga mau seperti Kasih,” pinta Delon.
“Biarin, selama masih bisa makan ya makanlah,” ujar Delon tak mau kalah.
“Bagus deh, oia Bang Darren ngga usah di bayarin kali ini Delon saja yang traktir kita. Sekali-kali dia harus keluar uang, sepertinya kita belum merasakan gajinya bulan ini,” kata Davin.
“Benar juga, kau yang bayar,” ujar Darren.
“Jiiaa abang kok tega sih, aku kan harus nabung buat nikah,” kata Delon memelas.
__ADS_1
“Makanya jangan genit dan rakus. Tak ada protes sana pesan dan bayar,” ujar Davin.
Kasih dan Darren tertawa melihat akting Delon yang berpura-pura lemas menuju ke kasir.
Di tempat lainnya,
Chandra terlihat makin depresi, satu per satu temannya malah meninggalkan saat dia terpuruk. Berita mengenai kasus yang menjerat sang Mama sudah beredar melalui pemberitaan media cetak dan online. Keberadaan Enno pun tak bisa di temukan, perusahaan peninggalan ayahnya juga tengah terseok-seok berusaha bangkit kala kematian pemimpin dan juga batalnya beberapa kontrak kerja sama. Sementara itu masuk juga beberapa surat juga telepon dari para pemegang saham yang menuntut ganti rugi. Hal terparah adalah sebagian besar uang tabungan Ibunya telah di habiskan untuk gaya hidup sosialita yang mahal dan membayar para berondong miliknya.
“Arghhh sial kenapa begini!” teriak Chandra.
Pria itu malah membenturkan kepalanya ke tembok beberapa kali lantaran stress menghadapi segala persoalan ini. Dia benar-benar tak tahu musti berbuat apa lagi? ini pertama kalinya dia mengalami krisis keuangan. Handphone miliknya terus berbunyi , tetapi dia enggan mengangkat karena mengira hanya penagih hutang padahal Suami Cecilia yang menelponnya akibat kuatir akan keadaan adik iparnya.
"Bagaimana di angkat?" tanya Cecilia.
"Tidak sayang, apa kita ke rumahmu saja besok usai menjenguk Philip, ke kantor polisi lalu melihat Chandra," saran sang suami.
"Iya begitu saja, besok kita lihat keadaan keluargaku," kata Cecilia.
Meskipun sudah di tolak, di buang dan tak di anggap,tetapi gadis itu tetap peduli akan keadaan keluarganya.
__ADS_1
"Semoga Chandra tidak berbuat hal bodoh," gumam sang kakak.