
Karenina kini sedang giat bekerja memulai lini produk kecantikan bagi perusahaan KCP , yang merupakan warisan kedua orangtuanya. Gadis ini seusai homeschooling memilih berada di dalam laboratarium mini miliknya.
Sore itu sang Kakak Philip pulang lebih awal dan
mendatanginya di tempat uji coba produknya dan memberikan sebuah undangan berwarna merah muda dan emas menjadi satu. Karenina pun menghentikan pekerjaannya dan mengambil kertas itu.
“Oh Connie mau ulang tahun, kita akan pergi kesana?” tanya Karenina.
“Tak perlu deh untuk apa? Malas melihat kelakuan mereka,”jawab Philip sambil mengambil sebuah botol kecil berisi parfum yang sedang di
kembangkan sang adik.
“Ini harum sekali cocok untuk pria, kenapa kau malah lebih banyak membuat produk parfum pria. Bukankah Ambassador kita Suzy seorang
wanita?” tanya Philip dengan heran.
“Tak apa, toh sejumlah make up di wajah sudah selesai dan wewanggian ini untuk pelengkapnya agar masyarakat tahu kalau kita menyediakan
produk untuk pria dan juga wanita,” kilah Karenina.
“Baiklah aku paham, ya sudah jangan terlalu lama berada disini. Kau harus mandi dan kia akan makan malam bersama,” ujar Philip.
“Siap, Kak,” sahut Karenina.
__ADS_1
Sepeninggalan sang kakak, gadis itu mengelus dadanya karena lega tak di tanyai lebih lanjut. Sebenarnya semua wewanggian ini untuk di
berikan kepada Steven, pemuda tetangga yang telah menyelamatkannya. Tanpa sadar kini perasaannya jauh lebih besar dan berkembang pesat untuk sang pemuda meskipun dia tahu tak mungkin mereka bersatu karena sang penyelamat mempunyai gadis yang di sukai dan terus dia cari selama ini.
Sementara di rumah sakit,
Darren nampak mulai bosan dan berjalan-jalan di sekitar koridor ruangannya. Lelaki ini sedang cemas karena operasi pertama sang adik akan di lakukan besok hari sehabis makan siang. Dia kelihatan sangat gugup, entah bagaimana nanti keadaan sang adik. Luka yang di derita gadis itu jauh lebih besar daripadanya, sedangkan hanya dada dan lengan saja dia sudah merasakan sakit yang perih apalagi sang adik. Tak terbayangkan kalau dia akan mengalami hal ini.
“Bang, ngapain di sono. Lagi jalan-jalan atau melamun. Sore ini Bang Davin mau datang loh,” ujar Delon.
“Aku tahu,” sahut Darren dan kembali berjalan.
“Bang lihat deh ada pertandingan bulu tangkis, nonton bareng yuk. Kasih sendirian di dalm,” ajak Delon.
Melihat kedua kakak lelakinya sudah masuk, Kasih langsung sumringah. Rasanya tak enak sekali kalau harus berada sendirian di dalam ruang inap.
“Kak jangan pergi kek, Ayah dan Ibu kan belum datang masa kalian meninggalkanku,” ujar Kasih.
“Maaf, dek. Kakak gugup.” Kata Darren sambil mengelus kepala sang adik bungsu.
“Kenapa? Gara-gara besok aku mau operasi ya,” ujar Kasih.
“Tenaglah aku kuat kok,” lanjutnya sambil tersenyum lebar dan memamerkan deretan gigi putihnya.
__ADS_1
“Iya kami tahu , hanya saja hati tetap tak tenang,” ucap Darren.
“Berdoa bang, bukannya lari baru mondar mandir ngga jelas gitu di luar,” celetuk Delon.
“Tumben saranmu benar, biasanya otakmu bengkok,” ledek Darren.
“Asem, gini –gini calon sarjana. Kagak mungkin lah otak adikmu tercinta ini bengkok. Kalau hatikun mungkin sedikit luka karena belum
bisa mendapatkan gadis impianku,” kata Delon.
“Jangan banyak mengkhayal, ngga mungkin dapat. Cari yang selevel saja, mengharapkan bidadari pasti mustahil kecuali Tuhan biat mujizat
dan dia menjadi buta sehingga memilihmu,” ujar Darren.
“Hahahaha, Bang Darren bisa saja, mana ada bidadari buta,” ujar Kasih menertawakan kedua kakaknya.
“Tahu nih si Melon eh salah Delon masa menginginkan gadis yang jauh di atasnya, standarnya pasti beda kan,” celetuk Darren.
“Kasih jangan dengarkan dia, kau bantu abang dan berdoa ya,” kata Delon.
“Iya ade doakan dekat sama jodoh ya, Bang,” ujar Kasih.
“Gitu dong.”
__ADS_1
Mereka pun mulai kembali bercanda mencoba kuat untuk menghibur adiknya yang akan menjalani operasi pertama keesokan hari.