
Club malam,
Pertunjukan tarian di tiang tengah berlangsung, sorakan para penggunjung pria dan wanita bergemuruh di saentero ruangan. Mata para penonton di manjakan dengan tarian para wanita seksi di sebelah kanan dan para pria macho di sebelah kiri.
Semua penari meliuk-liukan nadannya di tiang dan melepaskan satu persatu pakaian yang mereka kenakan. Tepukan tangan dan teriakan memenuhi club malam itu. Para pelayan juga sibuk lalu lalang mengantarkan minuman alkohol ke beberapa meja.
“Gila ramai sekali malam ini,” ujar Rendy ke salah satu temannya yang ikut bersamanya memenuhi undangan.
“Pertunjukan tarian tiang, tentu saja heboh. Kau juga tahu kan kalau para penari bahkan pelayan di sini memiliki tampang rupawan,” sahut temannya.
“Benar sekali, aku sampai binggung bagaimana pemilik club ini mendapatkan sumber daya manusia yang terbaik seperti ini,”kata Rendy.
“Pastinya dengan pesonanya, ku dengar pemilik club ini adalah pria tampan dan masih muda,” ujar sang teman.
“Benarkah, hebat sekali dia mampu mengelola ini dengan baik,” puji Rendy.
“Tentu saja bisa, sepertinya dia memiliki pengalaman yang banyak. Eh ayo kita masuk ke ruangan seperti yang di tulis di undanganmu,” kata temannya.
“Baiklah.”
Kedua pria tua ini segera berjalan menuju lantai dua dan menuju ruangan seperti yang tertulis dan di antar oleh seorang pelayan pria. Ramai sekali club malam ini. Bertaburan para wanita seksi dengan pakaian minim yang memancing rasa di dalam diri para pria. Aroma parfum pun semerbak memenuhi ruangan dan terendus indra penciuman.
“Silakan ,Pak ini ruangannya,” kata pelayan itu.
“Terima kasih ini tips buatmu,” ujar Rendy memberikan dua lembar uang berwarna merah.
Pelayan mengatupkan kedua tanganya dan membungkukan badannya sambil mengucapkan terima kasih lalu pergi. Kedua pria itu segera masuk dan di dalam ternyata sudah ada beberapa orang pria tua lainnya dan sejumlah wanita.
“Okey peserta undangan lainnya sudah datang ayo kita mulai,” ujar sang pembawa acara. Anehnya sang pria yang menjelaskan tata cara permainan itu tidak menunjukan wajahnya karena memakai topeng menutupi separuh wajahnya.
“Kalian ada enam orang , hanya akan ada tiga pemenang yang bebas memilih siapa yang akan menjadi teman untuk melayani kalian. Pemenang akan mendapatkan fasilitas hotel sesuai dengan urutannya. Permainan babak pertama adalah kartu,” lanjut pembawa acara.
“Masa Cuma wanita saja, bukankah itu terlalu murah,” ujar pria botak yang ada di sana.
__ADS_1
“Ini beda lagi, para wanita di depan kalian ini belum buka segel dan merupakan pengalaman pertama mereka. Kalian juga bukan bisa langsung bawa saat menang, meski ada sejumlah persyaratan untuk bisa memboyong mereka pergi,” kata pembawa acara.
“Bagaimana kalau di antara kita berenam menambahkan taruhan dengan uang yang kita miliki, bagaimana kalau minimal 30 juta per orang,” usul peserta lainnya.
“50 juta saja,” kata teman Rendy ikut bersuara.
“Wah benar, kalau begitu hadiah semakin besar. Hey pembawa acara ini kartuku gesek saja 50 juta untuk menambah hadiah taruhan,” ucap pria botak sambil melemparkan kartu debit miliknya di ikuti peserta lainnya.
“Baiklah jadi uang sejumlah 300 juta menjadi tambahan hadiah untuk pemenang nantinya. Jadi 150 juta ,
100 juta dan 50 juta. Setuju?” tanya pembawa acara.
“Setuju.” Semua peserta menyahut serempak.
“Baiklah permainan di mulai, babak pertama kartu, kedua biliyard dan terakhir catur,” kata pembawa acara.
“Setuju, ayo mulai,” ujar Rendy.
“Lihatlah aku menang babak pertama,” ujar pria berkepala botak.
“Cuih kau beruntung saja menyimpan joker,” kata yang lainnya.
“Sudah ayo kita mulai lagi,” ujar Rendy.
“Baiklah selanjutnya lomba Biliyard, ayo bersiap,” kata pembawa acara.
Kali ini semua peserta nampak begitu serius karena sang pemenang di babak pertama begitu pongah memamerkan kehebatannya. Pria botak itu tak berhenti mengejek yang lain dan bertingkah sangatlah menjengkelkan.
Akhirnya bisa selesai juga dan pemenangnya adalah Rendy, yang lain menyalaminya dan memuji kemahiran pria itu dalam menyodok bola ke dalam lubang. Namun tidak semua orang senang dan kalian pasti sudah bisa menduga kalau pria botak itulah yang mengumpat dan tak terima atas keberhasilan orang lain.
“Hanya kebetulan saja dia menang, selanjutnya pasti aku,” ujar sang pria botak.
“Kau sudah kalah malah belagu, tutup mulutmu. Ingat saat bermain catur harus tenang, otak yang bekerja bukan mulut,” kata Teman Rendy yang ikut malam itu.
__ADS_1
“Apa kau bilang! Maksudmu aku banyak bicara,” ujar pria botak dengan kesal.
“Memang jadi diamlah,” sahut salah satu peserta lainnya.
“Lihat saja kalian semua, aku pasti menang lagi kali ini,” hardik pria botak itu.
“Ayo kita mulai lagi, malam sudah semakin larut. Pertandingan harus di percepat,” ujar sang pembawa acara.
“Cepat berikan papan caturnmya!” perintah pria kepala botak.
Semua kelihatan sangat serius, Rendy ahli dalam hal ini karena sewaktu di dalam penjara Cuma olahraga ini yang sering di lakukan untuk mengisi waktu bersama para napi lainnya. Mudah baginya mengalahkan para lain dengan cepat sehingga kembali keluar sebagai pemenang.
“Lihat temanku menang lagi, mana bacotmu,” ledek teman Rendy.
“Hah aku kurang beruntung saja sehingga dia bisa menang. Setidaknya juara dua lebih baik ketimbang dirimu yang tidak mendapatkan apapun juga,” balas sang pria berkepala botak.
“Mengakulah kalah tak usah melimpahkan kepada orang lain,” ujar teman Rendy.
“Sudahlah Cuma permainan saja tak usah terlalu serius,” kata Rendy.
“Benar, mana hadiahnya. Aku ingin pergi dengan gadisku,” ujar pria berkepala botak ke pembawa acara.
“Ikuti asistenku, maka kau akan jalani test sebelum membuka segel gadis itu,” kata pembawa acara lalu mengantar pria itu ke ruangan lainnya.
Peserta yang lain juga meninggalkan ruangan tersisa Rendy saja, temannya juga pulang. Pembawa acara nampak mendekati sang pemenang lalu berujar “Kau harus ikuti aku dan pilih hadiahnya.”
“Baik.”
Keduanya berjalan ke lantai atas dan melewati sejumlah lorong untuk tiba di sebuah pintu bercat emas. Ada dua orang penjaga di sana, saat masuk Rendy begitu terkejut melihat sejumlah wanita dalam ruangan kaca
tengah bersolek dan memakai pakaian minim yang memancing g a i r a h kaum adam.
“Pilih saja,” kata pembawa acara.
__ADS_1