Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Setelah Operasi Darren


__ADS_3

Menjelang tengah malam barulah Darren sadar, pemuda itu nampak menggeliat dan perlahan membuka matanya.


Melihat sekeliling dan menemukan dia sudah kembali ke kamarnya. Nampak ayahnya sedang menonton dengan volume suara kecil sekali. Sebuah pertandingan tinju. Anggota keluarga lainnya sudah tertidur.


"Ayah, aku haus," pinta Darren.


Sang ayah nampak tersenyum dan menyorongkan sebuah gelas yang sudah di isi air hangat dari dalam termos kecil. Sebuah sedotan ada di gelas untuk mempermudah minum tanpa harus duduk.


"Terimakasih, Ayah."


"Sama-sama, apa kau lapar? mau makan kue?"


"Boleh lah kalau ada."


Sang ayah membuka lemari di sebelah tempat tidur dan mengambil bungkusan yang berisi aneka macam makanan.


"Sisa roti meses dan srikaya, mau yang mana?"


"Srikaya saja."


Ayah menyimpan kembali bungkusan tadi dan hanya mengeluarkan roti srikaya untuk di berikan ke sang anak.


Darren makan perlahan hanya memakai satu tangan saja karena yang lainnya masih di perban.

__ADS_1


"Ayah, aku hanya di operasi sebagian kecil sudah sesakit ini, apalagi Kasih nanti,"papar Darren.


"Itulah yang sedang ayah cemaskan. Bagian tubuh sebelah atas adikmu terluka parah apalagi wajahnya, mungkin besok kami akan bertanya ke dokter siapa tahu ada obat penghilang rasa sakit," papar Pak Budi sambil menghela nafasnya dengan berat.


"Aku paham ayah, roti sudah ku habiskan adakah obat yang harus ku minum?" tanya Darren.


"Tunggu sebentar."


Pak Budi memeriksa kedalam laci dan mengambil 3 table obat dari dalam sana di letakan di sebuah piring kecil.


"Ini, Nak." Pak Budi membuka tiga obat itu dan memberikan satu persatu ke anaknya.


"Terimakasih Ayah, oia kalau besok bertanya ke dokter coba minta lakukan bertahap saja atau bagaimana lah baiknya supaya Kasih tidak terlalu tersiksa," kata Darren.


"Nanti sajalah, aku akan mengecek jadwal penerbanganku. Seperti sehabis pulih harus segera masuk kerja," jawab Darren.


"Kalau tanganmu pulih dengan benar, bagaimana bisa menerbangkan pesawat dengan keadaan tak baik. Perpanjangan saja cuti dan izin bekerjamu kalau kondisi belum fit benar. Ingat, Nak ada nasib puluhan orang di tanganmu,"nasihat Pak Budi.


"Aku tahu Ayah, ibaratnya anakmu ini sopir di udara," canda Darren berusaha menghibur sang ayah.


"Dasar kau ini, kalau sudah lebih baik bolehkah ayah memejamkan mata sejenak," kata Pak Budi.


"Tentu saja boleh, beristirahat saja Ayah."

__ADS_1


Pak Budi pun mengambil selimut dan tidur di sofa rumah sakit, sedangkan Ibu dan Dellon tidur di lantai rumah sakit dengan kasur lipat tipis. Mereka semua mengorbankan waktu dan rela tidur tak nyenyak demi dia dan Kasih.


Insiden air keras itu memang mengubah segalanya, Kini dia berdoa semoga operasi sang adik bisa berhasil juga dan wajah Kasih pulih jadi tidak memakai perban lagi seperti Mumi Hidup.


Saat ingin mengambil kembali gelas, tak sengaja tutup terjatuh dan hal itu membangunkan Dellon. Sang adik dengan tangkas bangun lalu membantu sang kakak.


"Kalau haus bangunkan saja aku, jadi ambil sendiri," kata Dellon.


"Kalian beristirahat lah, Kakak bisa kok sendiri," ujar Darren.


"Udah deh jangan sok kuat, sini biar aku tambahkan air hangatnya.Kalau bapak sudah tidur biar aku yang berjaga," kata Dellon.


"Terimakasih ya," pungkas Darren.


Keluarga yang sangat berharga, di tak akan pernah lupa semua jasa dan budi baik mereka. Bersyukur bisa jadi bagian keluarga ini.


Bersambung.....


********


Emak Iklan dulu yeee, yuk mampir baca ke karya ini :)


__ADS_1


__ADS_2