Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Kena Kau!


__ADS_3

Delon memacu kendaraannya, pikirannya tak tenang mencemaskan adik bungsunya juga takut akan menerima kemarahan Davin juga Darren akibat tak memperhatikan Kasih. Dari halaman depan dia melihat lampu kamar sang adik belum menyala itu artinya tidak ada di rumah.


Dia hapal benar kalau si bontot tak pernah mau tidur dalam kegelapan. Seketika kepanikan menyerang,  untung Suzy menelpon nya,


“Hallo Delon, bagaimana Kasih sudah ada di rumah?” tanya gadis itu.


“Tidak.”


“Aku akan sms kamu nomor kontak Steven, tadi ku minta ke Karenina. Hubungi saja dia,” kata Suzy.


“Baiklah, terima kasih atas bantuanmu.”


“Tidak masalah, dia kan juga akan menjadi adikku.”


Tring...


Tak lama masuklah sms dan bergegas Delon menyimpan nomor kontak tersebut dan menelpon. Syukurlah masih bisa di hubungi.


“Steven, kalian dimana? Mana Kasih?” tanya Delon langsung tanpa basa basi.


“Dia sedang tertidur, kami ada di rumah sakit. Kasih minum obat pencahar entah siapa yang melakukan dan perutnya mulas hebat. Wajahnya pucat dan meminta ku membawanya ke dokter,” jawab Steven dengan nada pelan takut membangunkan wanita itu.


“Obat pencahar? S i a l a n siapa yang berani mengerjai adikku,” umpat Delon.


“Entahlah, tetapi aku juga mengalami hal yang hanya saja aku cuma dua kali saja ke toilet,” ungkap Steven.

__ADS_1


“Aku akan kesana,” kata Delon.


“Tidak bisa, besok pagi saja kau datang dan bawakan sarapan juga air panas di termos agar bisa membuat teh gula hangat. Pihak sekuriti tak akan membiarkanmu masuk, jam besuk telah lama usai,” ujar Steven.


“Benar juga, titip adikku ya. Kirimkan sms nama rumah sakit dan nomor kamar. Terima kasih atas bantuanmu,”


kata Delon.


“Sama-sama, kalian kan juga pernah membantu Omaku. Anggap saja kita impas.”


“Siap.”


Delon sedikit bernafas legas usai menelpon Steven dan mendapatkan Kabar mengenai Kasih. Kini dia ke club milik Darren untuk menjelaskan kondisi ini. Kebetulan Davin pun ada di sana jadi sekalian saja sebelum mendapatkan amukan dari kedua kakak itu.


Sesampainya di club,


“Tidak, aku berhasil hanya saja...”


“Hanya kenapa, kau suka sekali menggantung jawaban,” gerutu Davin.


“Mana Kak Darren?” tanya Delon.


“Temenin tamu khusus ada informasi bagus, jangan alihkan pertanyaan. Kenapa wajahmu kusut?” tanya Davin kembali.


“Ka—kasih masuk rumah sakit akibat ada yang iseng memasukan obat pencahar ke makanannya,” jawab Delon.

__ADS_1


“Apa!” terdengar teriakan dari belakang ternyata sang kakak tertua  sudah datang dan tampak marah besar.


“Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Darren.


“Entahlah aku mtidak memperhatikannya karena melamar Suzy. Kini dia sudah lebih baik, Steven yang menemaninya,” kata Delon dengan gugup dan wajah tertunduk.


“Steven siapa dia?” tanya Darren dengan rahang mulai mengeras dan mengepalkan tangannya.


“Bos stasiun televisi yang dulu Oma nya pernah kami selamatkan di mall. Dia yang membawa kasih ke rumah sakit. Besok pagi baru kita semua bisa menemuinya dan bawakan sarapan.”


“Kau ini ceroboh sekali,” kata Davin sambil menjitak kepala sang adik.


“Kita harus jaga Kasih nanti mau bilang apa ke bapak dan ibu. Untung saja mereka tengah liburan kalau tidak habis kau. Pasti tidak akan di restui untuk menikah karena membiarkan adikmu,” ujar Darren.


“Janganlah ,Kak. Aku janji tak akan ceroboh lagi,” pinta Delon.


“Baiklah. Pulang sana dan siapkan semua kebutuhan Kasih. Besok pagi kita semua ke sana dan temui mereka,” lanjut Darren.


“Siap, aku pulang dulu.”


Delon segera pergi, sedangkan Darren menutup pintu ruangannya dan mengunci.


“Kau tahu ini adalah salinan email dari Connie yang di kirimkan ke beberapa pemegang saham utama tentang ibunya yang curang memakai dana perusahaan. Kurasa kita bisa kirimkan ini ke saudara Kasih yang lainnya dan biarkan mereka menggurus rubah tua itu. Sudah terlalu lama wanita itu berada di sana. Saatnya pergantian posisi,” papar Darren.


“Berikan padaku, aku akan menyamar jadi kurir besok pagi sebelum kita ke rumah sakit,” kata Davin.

__ADS_1


“Baiklah, lakukan tugasmu dengan baik.”


“Siap.”


__ADS_2