
Suzy tengah menjalani pemeriksaan terakhir untuk wajahnya di temani Delon. Kasih sendiri tengah jalan bersama Darren untuk melihat club milik sang kakak sulung. Tiba-tiba ada sebuah ranjang melintas di depan mereka dan tampak di sana wajag Connie. Betapa terkejutnya Suzy kala itu apalagi melihat seprei rumah sakit sudah berwarna merah akibat darah.
"Kenapa dia?" tanya Suzy sambil menarik tangan salah satu perawat yang ada di belakang.
"Bunuh diri dan telah meninggal sebelum sampai ke sini," jawab sang perawat lalu pergi.
"Ya Tuhan, Connie bodoh sekali dirimu," pekik Suzy lalu menangis. Memang dia membenci wanita itu karena tabiatnya yang mirip dengan Ibunya, tetapi melihat akhir hidupnya tragis begini. Suzy juga tak kuat kala mengetahui hal tersebut.
"Sudahlah jangan menangis, kalau Mamau melihat keadaanmu di kira aku membuatmu sedih," ujar Delon sambil memeluk wanita itu.
"Kasihan Connie, dia meninggal seperti itu."lirih Suzy.
Benar saja tebakan Delon tak lama datanglah Papa Awan dan langsung memukul kepala pemuda itu dengan map di tanganya.
"Kau apakan putriku," bentak Awan dengan ketus dan menarik anak perempuannya.
"Bukan salahku, dia sangat sensitif. Melihat Connie meninggal langsung keluar air mata,"kilah Delon.
"Connie Wirabrata meninggal? jangan bercanda, dia baru saja pulang dari rumah sakit pagi ini," kata Awan.
"Delon benar! Barusan perawat membawa jenasah Connie melewati kami, selimut sudah penuh sekali darah sampai berubah warna," ujar Suzy sambil sesenggukan.
"Demi Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi. Cepat telepon Sintia bilang pesan bunga dan sampai rasa berdukacita," kata Awan.
__ADS_1
"Kata perawat dia bunuh diri dan meninggal dalam perjalanan sebelum sampai di rumah sakit," papar delon menjelaskan.
"Kasihan anak itu, dia pasti menderita karena kehilangan bayinya," kata Awan.
Delon menelpon Dokter Sintia, tetapi memberikan hand[hone ke Papa agar menjelaskan peristiwa tersebut. Terdengar suara kaget dari dokter wanita itu. Tak menyangka kalau gadis kebanggan Anna tersebut akan meninggal dengan cara tragis.
Sementara itu, jenasah Connie mulai di siapkan untuk di bawa pulang ke rumah duka. Chandra tampak tertekan setibanya di rumah sakit. Pemuda itu sudah rapuh usai kematian Ayahnya dan malah makin terpuruk dengan kematian sang adik.
"Connie, kenapa tinggalkan kakak," pekik Chandra sambil berteriak-teriak di rumah sakit. Apalagi saat melihat peti mati Connie datang. Sang pembalap langsung pingsan, Enno ikut binggung melihat kondisi sang tunangan.
Asisten rumah tangga yang mengantarkan Connie ke rumah sakit menggurus kepulangan jenasah sedangkan Chandra di larikan ke UGD karena tidak sadarkan diri.
Di rumah Duka,
"Mama, kamu yang harus bertanggung jawab. Dia meninggal karena mui. Racun itu penyebabnya," teriak Cecilian sambil menarik baju sang Ibu.
"Diam, hentikan ucapan bohongmu," bentak Anna yang malu kepada para pelayat.
"Diam katamu, adikku sudah mati kalau tidak membunuh anaknya pasti Connie masih hidup. Kau tega sekali," kata Cecilia dengan suara makin keras.
"Apa maksudmu?" tanya Chandra yang baru saja datang usai siuman.
"Mama memberikan vitamin untuk janin Connie, nyatanya itu adalah racun dan aku tahu dengan jelas pasti dia sengaja membunuh calon cucunya supaya bisa mendapatkan menantu kaya raya," ujar Cecilia dengan ketus.
__ADS_1
"Diam, kau setelah bisa bebricara makin banyak omong ya. Fitnah itu jauh lebih kejam," kata Anna dengan nada suara meninggi.
"Sekuriti tolong usir mereka berdua," kata Anna.
"Apa hak mu , aku mau melihat jenasah adikku. Kalau berani mengusir kami maka lihat saja," bentak Suami Cecilia membela istrinya.
"Mama tolong, biarkan mereka di sini. Saat terakhir Connie adalah bersama dengan mereka kalau kau tidak suka tolong tahan sampai jenasah di mahkamkan," pinta Chandra.
"Baiklah, lain kali aku tidak sudi melihat wajah kalian berdua," tunjuk anak ke sang anak sulung.
"Aku juga tak sudi punya Mama sepertimu," sahut Cecilia tak mau kalah dan penuh amarah.
Malam itu terasa sangatlah panjang, keesokan hari barulah akan di lakukan penguburan dan sama seperti keinginan Connie untuk di mahkamkan bersama anaknya.
Duka sangat terasa di area penguburan, banyak yang melayat dari teman-teman Connie, keluarga Dokter Sintia juga datang bahkan Kasih juga. Cecilia tak berhenti menangis, belum satu tahun dia telah kehilangan dua orang anggota keluarga.Anna sendiri tak menampakan air mata hanya berdiri kaku dengan wajah datar. Entah dari apa hati wanita itu.
"Chandra,minumlah. Oia tolong tanda tangani ini," kata Enno sambil menyodorkan air.
"Apa ini?" tanya Chandra.
"Surat kuasa, aku ingin mernjual mobil pemberianmu dan mengganti model baru," kata Enno.
"Oh, ini." Dengan cepat Chandra membubuhkan tanda tangan tanpa melihat isi surat tersebut. Tentu saja Enno sangat bahagia, rencananya sudah berhasil.
__ADS_1
Semua pelayat pulang, terakhir adalah Kasih dan meletakan bunga mawar lalu berujar "Selamat jalan sepupu."