
Cecilia panik usai mendengar kabar kematian adiknya, mungkin air matanya sudah habis sehingga tak ada lagi yang keluar. Entah karma apa ini satu per satu anggota keluarganya meninggal bahkan dengan cara tragis.
Seperti telah terlatih dia dengan tegar mengecek isi tas nya lalu segera berangkat ke kantor polisi. Setelah mendapatkan keterangan dari pihak berwajib dia segera menuju rumah sakit melihat jenasah sang adik dan mengurus pemakamannya.
“Sayang, aku sebenarnya sangat sedih. Namun air mataku seolah sudah kering akibat banyaknya duka yang terjadi,” lirih Cecilia.
“Sabar ya, Tuhan tidak akan memberikan pencobaan melebihi kekuatan umatnya. Dia tahu kau wanita kuat sehingga musti tetap bertahan menghadapi semuannya. Kini Papa mertua dan adik-adik sudah tenang. Kita harus kabari Mama mertua mengenai kematian Chandra,” kata sang suami.
“Aku sebenarnya tidaklah kuat dan ini semua terjadi sebagian besar karena mamaku. Adik-adiku tidak akan menderita kalau tidak di ajarkan cara yang salah. Kau saja yang temui Mama,” ujar Cecilia yang muak.
“Jangan seperti , biar bagaimanapun dia tetaplah mama kamu,” kata sang suami.
“Memang, tetap karena sikap gila hartanya membuat kita semua nyaris terjerumus bersama. Untuk apa menginginkan milik orang lain dan kini apa hasilnya, hanya sia-sia saja,” keluh Cecilia.
“Sudahlah kalau tidak mau , biar aku saja yang ke penjara. Kamu urus saja jenasah Chandra dan temui para pelayat. Aku pergi sekarang agar bisa cepat menggurus prosedur keluar tahanan, jadi Mama mertua sempat melihat jenasah anaknya terakhir kali,” papar suaminya menjelaskan.
“Sana kau pergi saja.”
__ADS_1
Cecilia sudah enggan menemui sisa keluarga satu-satunya, hatinya sangat sakit. Dirinya membeku sejenak saat tahu kalau Chandra mengidap HIV dan lagi maslah banyaknya tagihan. Mungkin inilah yang jadi alasannya bunuh diri seperti yang di ungkapkan oleh temannya. Memang Chandra sempat curhat ke salah satu temannya ini sebelum melakukan bunuh diri. Kejadian paling mengejutkan ada kala penguburan jenasah. Enno mantan tunangan Chandra datang dengan menangis dan perutnya terlihat membesar.
“Enno, apakah ini anak Chandra?” tanya Cecilia.
Wanita muda itu hanya mengganguk terus menangis sambil memegangi peti jenasah. Hal yang sama juga di lakukan oleh Anna. Melihat peti mati sang anak lelaki kesayangan buat dia hancur ,apalagi cara meninggalnya dengan tragis.
“Chandra... chandra kenapa kau meninggalkan Mama,” teriak Anna sambil terisak-isak.
Polisi nampak mengawalnya dan terus berjaga di sampingwanita itu.
“Sudahlah, kita harus ikhlas melepaskan Chandra. Mama dan Enno mundurlah peti akan segera di turunkan,” kata Cecilia.
“A—aku tidak sanggup kak kalau terus melihatnya selalu jajan di luar. Sudah banyak teman-temanku mengatakan tentang perselingkuhannya. Saat aku tahu sedang mengandung, maka memutuskan untuk mundur dari duani hiburan dan memilih mengamankan aset milik anakku kelak. Aku tahu hal itu salah, tetapi Kak Lia tahu juga kan bagaimana sikap Chandra. Dulu aku pernah mengandung dan dia menyuruh aborsi, ini kehamilan kedua dan aku tak mau kehilangan anakku jadi pergi adalah solusi terbaik,” papar Enno mengungkapkan.
“Baiklah aku paham, kau harus tetap menghubungiku. Biar bagaimanapun dia adalah keponakanku, tolong beri tahu aku perkembangannya,”pinta Cecilia sambil mengengam tangan Enno.
“Iya kak, aku paham. Nanti akan ku hubungi kau melalu inbox dan mengirimkan nomor telepon baruku,” janji Enno.
__ADS_1
“Pulanglah dan jaga kesehatan janin itu. Kabari aku ,” kata Cecilia.
“Iya.” Enno segera pulang bersama seorang wanita muda lainnya dan juga seorang pria tua.
Sementara itu Anna masih saja menangisi jenasah sang putera di depan nisan. Dia terlihat sangat rapuh dan hanya terduduk di atas tanah. Air mata terus mengalir.
“Mama,sudahlah Chandra kini sudah tenang.Kembalah ke penjara dan tebus semua kesalahanmu. Berhentilah berbuat jahat lagi, akuilah.”
“Diam kau, jangan sok menasehati. Aku ini orang tua dan pengalamanku jauh lebih banyak dari mu. Dia meninggal semua karena Nina dan Philip menjebloskan ku ke penjara sehingga kita kekurangan uang akibat banyak tuntutan.”
“Mama, kenapa kau selalu melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Cobalah intropeksi diri. Mama masuk penjara karena memang kesalahan sendiri. Jangan egois.”
“Tidak! Semua salah mereka berdua, merekalah pembunuh,” teriak Anna mulai histeris dan hendak mencekik sang putri.
Polisi terpaksa menahan dan mengamankan kembali. Suami Cecilia langsung memberikan ir minum ke istrinya.
“Mohon maaf, kami akan menbawa kembali tahanan ini. Kemungkinan dia masih terguncang akibat kabar kematian ini,” kata salah satu polisi.
__ADS_1
“Iya,Pak kami maklum. Selamat tinggal Mama,” ujar Cecilia.
Anehnya Anna malah terus mengoceh dan mulai tertawa sendiri, sepertinya mentalnya memang terguncang akibat peristiwa ini. Masalah datang beruntun tentu dia tak sanggup.