Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Genesis di Hajar Awan


__ADS_3

Suzy sampai membatalkan pemotretan siang ini, dan langsung mencari Mama nya untuk menanyakan mengenai


masalah pernikahan.Dia sebenarnya setuju saja tapi tak menyangka kalau akan di laksanakan begitu cepat. Kenyataan mengejutkan dia jumpai kala Awan justru bertengkar dengan sang ibunya di dalam rumahnya


Di ruang tamu mereka berdua nampak adu mulut , suaranya terdengar begitu pintu rumah di buka. Terlihat


jelas wajah Sang Dokter yang murka. Mengetahui dia datang bukan di waktu yang tepat, Suzy pun memilih kembali keluar menuju mobilnya dan menunggu di sana sampai Awan meninggalkan rumahnya. model cantik itu mundur secara perlahan karena tak mau ikut campur dan memberikan mereka ruang untuk menyelesaikan masalah.


Sekian lama menanti, akhirnya sang calon papa sambung pergi juga. Maka Suzy bergegas masuk dan melihat sang Mama kini menangis. Perlahan dia mendekati dan merangkul wanita yang sudah membesarkannya itu. Sang  Dokter nampak duduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan dan sedikit menangis. Sadarnya ada putrinya, dia segera menghapus airmata yang mengalir menuruni pipi.


“Ada apa ini?” tanya Suzy sambil memberikan tissue.


“Mama ingin membatalkan pernikahan,” jawab Sintia sambil melihat ke arah sang puteri.


“Kenapa, Ma?”


“Kau ingat Tante Bebi, lelaki penyebar benih itu ternyata kakaknya Awan. Semalam kami barulah bertemu, Mama

__ADS_1


tak ingin menjadi saudara dengan pria tak bertanggung jawab itu.”


“Jadi kakaknya Om Awan adalah penyebab kematian Tante Bebi.”


“Benar, kalau saja dia mau bertanggung jawab. Tak mungkin Bebi sampai mencari orang untuk mengaborsi anaknya sampai meninggal karena pendarahan. Semua karena Pria itu.”


Terlihat jelas kebencian di wajah dokter, mengingat kembali kematian sahabatnya yang tragis.


“Aku terserah padamu, Ma, Tetapi kalau kau bahagia dengan Om Awan kenapa harus memperdulikan pria itu? Jangan korbankan kebahagianmu, Aku hanya ingin kamu bisa kembali tersenyum dan tidak bersedih seperti saat Papa meninggalkan kita.”


“Tidak bisa sayang, Mama tak mau tinggal bersama lelaki brengsek itu. Dialah pembunuhnya.”


Ibu dan anak itupun saling berpelukan bersama.


Sementara itu Awan menuju ke rumah dan langsung menghajar sang kakak dengan membabi buta. Perkelahian


keduanya  tak terelakan, teriakan Oma Gina dan Opa Heru tak di gubris kedua puteranya. Sampai kedua orangtuanya terpaksa memanggil sekuriti di rumah dan beberapa asisten rumah tangga menahan keduanya.

__ADS_1


“Hentikan ada apa dengan kalian berdua. Genesis, Gunawan cepat buka mulut,” teriak Opa Heru dengan nyaring. Pria tua ini sangat murka sampai menyuruh asisten rumah tangganya mengambil tongkat golf miliknya untuk menghajar kedua puteranya. Oma Gina nampak menangis dan duduk di sofa.


Keduanya hanya diam,mengakibatkan Opa Heru melayangkan pukulan ke perut kedua anaknya. Masing-masing satu pukulan keras.


“Cepat bicara, kalian jangan kekanak-kanakan,” pungkas pria tua itu.


Terlihat Awan masih sangat marah bahkan sempat melemparkan ludah ke wajah kakaknya yang ada di sampingnya.


“Cuih, semua karena pria tak bertanggung jawab ini, kesalahannya mengakibatkan aku batal menikah,” ujar Awan membuka mulut.


“Apa maksudmu, Nak?” tanya Oma Gina.


“Bebi mantan kekasihnya meninggal karena putra sulung kalian. Bebi itu adalah sahabat Sintia,” jawab Awan.


“Be—bebi sudah meninggal?” tanya Genesis sambil melihat ke adiknya.


“Iya dan kamu adalah pembunuhnya.”

__ADS_1


Genesis seketika berteriak dan mulai menangis meraung-raung, semua heran melihat perubahan sikapnya. Opa Heru memandang wajah istrinya. Awan sendiri mengernyitkan alis melihat sikap kakaknya.


__ADS_2