Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Mencari Kesempatan


__ADS_3

“Aku ke toilet sebentar,” kata Kasih lalu meninggalkan meja.


Melihat ada kesempatan, maka Steven berpura –pura mengangkat telepon dari klien dan menjauh sedikit dari meja makan padahal dia mengikuti Kasih dan menunggunya di depan pintu toilet. Kasih Tidak menyadari jika pemuda itu ada di sana dan berlalu begitu saja karena tergesa –gesa ingin segera pulang.


“Kamu mau apa?” tanya Kasih saat tangannya di tahan dan menoleh ke belakang.


Steven sudah tersenyum dan menjawab “ Aku mau ini.”


Dengan cepat pria itu mencium pipi Kasih dan berbisik “ Tunggu jadwal kencan kita.”


“Kau! Awas ya,” ucap kasih yang berusaha mempercepat langkah mengejar Steven yang telah berlari.


“Lihat mereka berdua baru sebentar saja bersama sudah sangat akrab,” kata Oma Gina sambil menunjuk ke arah pasangan itu.


“Pasti Steven mengerjainya sehingga Kasih,” ujar Oma Adimiharja.


“Kalau di perhatikan mereka cocok juga,” kata Bu Kalina.


“Ibu,” protes Darren mendengar persetujuan salah satu orang tua nya.


“Anak – anak kita sudah besar, biarkan mereka memilih sendiri. Asalkan pasangan itu berhati baik sudah cukup,” ujar Pak Budi menengahi.


“Philip, kau juga harus segera mencari pasangan,” kata Oma Gina.


“A—aku tidak berminat menjalani hubungan dulu. Lebih baik fokus menjaga kedua adikku,” sahut Philip.


“Benarkah? Sebaiknya jangan terlalu lama,” nasehat Oma Adimiharja.

__ADS_1


“Baik,” balas Philip.


“Kasih, hentikan mengejarnya. Ayo kita pulang,” perintah Darren.


“Awas kau ya,” ancam Kasih sambil  mengulurkan jari telunjuknya.


“Siapa takut!” seru Darren.


“Kalian berdua ini sangat mirip anak kecil, sana ke kasir dan bayar semua,” kata Oma Adimiharja.


“Tidak usah, biar kami saja yang bayar,” tolak Davin.


“Jangan sungkan, lain kali bukankah kalian yang akan mentraktir kami saat syukuran rumah baru. Santai saja,” sahut Oma Adimiharja.


Steven segera ke kasir dan membayar menggunakan kartu Debet miliknya.


“Makasih ya Oma,” ujar Suzy.


"Lain kali kami traktir Oma ya," ucap Karenina.


“Terima kasih loh Oma,” kata Delon.


“Sampai jumpa, nanti saya akan mengabarkan kapan acara selanjutnya,” ujar Darren.


“Baik, berhati – hatilah,” kata Oma Adimiharja dan melambaikan tangannya.


Semua sudah pergi pulang, tinggalah dia sendirian di sana menunggu sang cucu tersayang.

__ADS_1


“Yuk pulang ,Oma,” ajak Steven.


“Sebentar dulu, Oma mau menikmati sedikit sisa kebersamaan ini. Sudah lama sekali kita tidak makan bersama keluarga besar ya,” kata Oma Adimiharja.


“Semua sibuk, ayah dan Ibu malah liburan. Para sepupu pasti ada kesibukan masing –masing. Nanti akan kumpulkan mereka kala pesta pernikahanku,” ujar Steven berjanji.


“Kau benar karena itu bergeraklah cepat, Oma juga menginginkan cucu,” kata Oma Adimiharja.


“Akan ku berikan, DP duluan boleh dong?”


“Dasar nakal! Kau mau manghamili baru menikahi. Oma akan hajar kamu.”


“Katanya mau cucu, bagaimana bisa dapat kalau tidak uji coba.”


“Kamu pikir itu percobaan. Jangan aneh – aneh Steven atau oma akan menghajarmu.”


“Iya deh, ayo pulang sayangku,” bujuk Steven sambil menahan tawa.


Keduanya segera meninggalkan restoran. Sang asisten sudah di suruh pulang pakai taksi online. Kini pria ini sendiri yang mengemudikan mobil kembali ke rumahnya.


Sebenarnya pria itu sangat jahil dan tidak setegas kelihatanya ketika bekerja. Jika dekat dengannya akan tahu kalau dia pribadi yang hangat.


Bersambung....


Sambil tunggu bab selanjutnya dari PSD ,kalian bica baca juga loh karya di bawah ini.


__ADS_1


__ADS_2