
❤️✨ Terimakasih sudah membaca, jangan lupa Like, Vote, Rate, Favorit, Komentar dan kirim Hadiah yah❤️✨
Dokter Sintia merasa tak bisa konsentrasi dengan baik selama beberapa hari ini, terus memikirkan hasil test DNA yang akan segera keluar.
Pekan depan adalah jadwal loperasi Darren yang akan di lakukan, Dokter ini merasa cemas dan penasaran tentang identitas asli adik pria itu.
Moodnya untuk makan sampai menurun drastis, bahkan Dokter Sintia sampai memimpikan almarhum kakak lelakinya yang datang lalu tersenyum dan menitipkan seorang anak kecil.
"Apakah mimpi semalam adalah petunjuk ya?" gumam sang Dokter dalam hatinya.
Sampai sore hari jadwalnya sanat padat, ada beberapa pasien yang mau melakukan operasi plastik berkonsultasi padanya. Dia sangatlah sibuk mencocokan beberapa sampel wajah yang baru untuk setiap pasien.
Saat jam kerja akan berakhir temanya yang bekerja di laboratorium menelponnya, jantungnya berdebar kencang saat mau mengangkat telepon itu.
"Hallo bagaimana hasilnya?" tanya Dokter Sintia.
"Datanglah kemari dan lihat sendiri,"jawab temannya.
"Baiklah."
Dokter itu segera mengambil stetoskop dan berjalan dengan agak cepat menuju tempat temannya berada.
Melewati lorong di rumah sakit dan juga beberapa ruang perawatan akhirnya tibalah sang dokter ini ke sebuah ruangan istrirahat. Di sana sudah menunggu seorang pria dengan pakaian putih sambil makan cemilan sore berupa batagor khas kota bandung. Di dalam piring itu ada potongan bakso goreng, tahu goreng, pare rebus, kol dengan siraman saus kacang yang menggugah selera.
Pria muda itu tampak begitu tampan, sebenarnya alasannya mau membantu sang Dokter cantik karena diam-diam memendam rasa untuknya. Sejak lama pemuda itu menyukainya bahkan sempat mengajaknya untuk makan malam bersama beberapa kali.
Sang Dokter sendiri sedikit menyukainya hanya saja perbedaan umur yang jauh membuatnya enggan mengambil keputusan. Pemuda ini begitu mengharapkan cintanya di balas oleh wanita ini sampai tetap bekerja di sana , padahal orangtuanya mempunyai sebuah rumah sakit swasta yang cukup besar dan memintanya untuk segera bergabung mengelolanya. Inilah identitas tersembunyi sang pemuda.
“Gunawan, bagaimana?” tanya Dokter Sintia sambil duduk di depan sang pria.
__ADS_1
“Ini laporannya dan kau berhutang kencan satu hari denganku,” Kata Perawat tampan itu sambil menatap sang dokter.
Dokter Sintia hendak mengambil amplop di tangan pemuda itu, namun di tarik kembali , mau ambil lagi dan tetap di tarik. Terjadilah tarik ulur antara keduanya setelahlelah dan malas meladeni Dokter Sinta melipat tangannya dengan wajah cemberut barulah pemuda itu menyerahkan tepat di meja depannya lalu mencowel hidung sang wanita.
“Lusa aku akan menjemput ke rumahmu, tolong kasih kesempatan kali ini. Bulan depan aku kan segera pindah pekerjaan ke rumah sakit lain,” kata Gunawan.
“Baiklah, lusa kan hari minggu. Jemput saja aku dirumah, hanya satu hari. Ingat tidak ada lain kali,” ujar Dokter Sintia.
“Yes!” seru pemuda itu sambil berjingkrak-jingkrak.
Melihat tingkah konyol pemuda dewasaitu sontak sang Dokter tertawa lepas sambil memasukan amplop tadi ke dalam saku jas nya dan bersiap pergi kembali ke ruang kerjanya.
“Ingat janjimu! Aku pastikan setelah lusa nanti kau yang akan mengajakku kencan berikutnya,” ujar Gunawan sambil tersenyum, memamerkan lesung pipinya.
“Kita lihat saja.”ucap Dokter Sinta dan segera berlalu.
Begitulah manusia kebanyakan cendrung melihat semua dari sampulnya saja tanpa pernah tahu kebenarannya.
Dengan sedikit tergesa-gesa dia berjalan menuju ruangannya dan di sana rupanya ssudah ada sang anak yang menunggu unuk menjemput ibunya.
“Suzy, kebetulan kau sudah datang. Tutup pintunya, ayo kita buka hasil test DNA ya bersama,” ujar Dokter Sintia.
“Mama sudah mengambilnya, baguslah ku pikir tadi di kantin kalian hanya membicarakan kencan saja,” lsinggung sang anak.
“Kamu melihatnya?” tanya Dokter Sintia smbil mengernyitkan alisnya.
“Lihat, Cuma aku langsung berlalu saja tak enak menggangu kencan singkat kalian,” kata Suzy.
“Kau ini, siapa yang berkencan,” kata Dokter Sintia.
__ADS_1
“Ayolah ,Ma. Coba saja ku lihat Gunawan juga pemuda yang baik, dia memperlakukanmu dengan istimewa, aku setuju kalau kau menikah lagi dengan siapapun asalkan kau bahagia. Aku juga sudah besar dan bisa mengurus diriku sendiri,” bujuk Suzy.
“Sudahlah nanti saja di bahasnya, sekarang kita buka dulu amplop ini,” Kata Dokter Sintia sambil mengeluarkannya dari dalam saku.
Bersambung.....
********
Iklan, numpang lewat ya.. silakan mampir baca ke karya salah satu teman emak.
Santi Suki
DUDA VS ANAK PERAWAN
(Santi Suki)
Yusuf, Duda muda dan keren yang beranak satu. Karena kebaikan akhlaknya banyak disukai oleh kaum hawa.
Zulaikha, anak perawan yang masih berseragam OSIS. Bilqis, mahasiswi magang di tempat anaknya sekolah. Sarah, CEO muda yang merupakan atasannya di kantor.
Yusuf, harus membesarkan Asiah seorang diri. Anak gadis kecil yang aktif dengan rasa ingin tahu yang kuat. Kecerdasan dan gaya bicaranya sering membuat orang-orang dibuat mati kutu.
Bagaimana kisah Yusuf dalam membesarkan Asiah. Anak perawan mana yang akan mendapatkan hati Yusuf?
Terimakasih ya all reader.
__ADS_1