Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Mati Mendadak


__ADS_3

“Aku ingin wanita yang memakai pakaian merah muda itu,” tunjuk Rendy.


Wanita yang dia pilih adalah yang tercantik di dalam ruangan itu, parasnya perpaduan arab dan eropa. Rambut berwarna hitam bergelombang dan bertubuh montok. Make up yang di kenakan tidaklah menor dan tampak pas di wajahnya.


“Apakah kau yakin? Dia sudah unboxing,” kata sang pembawa acara.


“Apa maksudmu bukankah katamu tersedia hadiah yang masih segel?” tanya Rendy.


“Benar,tetapi lihatlah dengan baik. Di sebelah kiri dan kanan ada pembatas tipis untuk memisahkan antara unboxing dan tidak,” Jawab sang pembawa acara sambil menunjuk ke arah kaca.


Rendy mendekat dan memperhatikan. Memang benar ada sekat, tetapi nampak tak terlihat sehingga ruangan itu seolah-olah menyatu. Pria tua itu menggangukkan kepalanya sambil menatap sang pembawa acara misterius itu dia berujar “ Tidak masalah, aku tetap mau dia.”


“Kalau begitu kita setuju ya, silakan selesaikan administrasi dan ambil kunci kamar hotel. Dia akan di antarkan kepada anda 1 jam lagi. Kau lebih dahulu saja ke sana dan membersihkan diri baru mulai kencan kalian,” kata sang pembawa acara.


“Tentu saja, kirimkan undangan lagi kalau ada acara seperti ini,”ujar Rendy sambil meninggalkan ruangan di temani salah satu penjaga pintu untuk pergi ke kasir.


“Baik Tuan.”


“Kalau kau masih bisa bertahan setelah subuh, maka undangan akan di kirimkan,” gumam sang pembawa acara sambil melepaskan topengnya dan menatap kaca.


Tak lama pintu di ketuk lalu masuklah pria botak tadi bersama beberapa pria tua lainnya . Mereka adalah peserta yang tadi mengikuti perlombangan di dalam ruangan.


“Hallo Bos, bagaimana akting kami. Pasti bagus kan, jangan  lupa kirimkan bonusnya,” kata pria berkepala botak.


“Memang kalian berempat sangatlah hebat, adengan perselisihan tadi sungguh sempurna. Tenang saja silakan cek m-banking pasti sudah masuk ke rekening kalian,” ujar pembawa acara.


“Makasih,Bos. Kami akan pergi. Panggil saja kalau ada tugas lainnya,” kata pria tua lainnya.


“Tentu saja.”

__ADS_1


Sementara itu di hotel,


Rendy tengah mandi air hangat untuk membersihkan dirinya lalu dia membuka jendela beranda sehabis berpakaian, hanya saja ketika hendak duduk. Mendadak tenggorokannya seperti tercekat, pandangannya mulai kabur dan tubuhnya lemas baru berlutut dan terjatuh ke lantai dari dalam mulutnya keluar busa.


Ke esokan paginya ,


Bagian house keeping masuk ke dalam kamar hendak membersihkan kamar dan langsung berteriak kaget karena melihat mayat seorang pria  di lantai kamar. Tak lama Sekuriti datang dengan Manager on Duty memeriksa pria itu dan memang sudah meninggal lalu memanggil pihak berwajib untuk menyelidiki kejadian ini.


Mayat pria itu di bawa ke rumah sakit terdekat untuk di lakukan autopsi dan pihak hotel segera menghubungi keluarga korban melalui handphone yang kebetulan tidak memakai password. Melalui nama kontak yang tersimpan di putuskan menelepon istri.


“Hallo selamat pagi, dengan istri Bapak Rendy,” ujar Manager on duty.


“Benar , ini siapa?” tanya Anna yang kala itu tengah sarapan dengan salah satu selingkuhannya.


“Saya Aditya, penanggung jawab di Hotel Rainbow Gold. Saya ingin menyampaikan kalau suami anda di temukan tak sadarkan diri dan kini di bawa ke rumah sakit Kamboja Perak,” jawab Sang Manager.


“Tidak, saya berbicara serius. Anda bisa datang ke hotel untuk mengambil barang pribadi milik beliau,”kata Sang Manager.


“Baiklah, saya akan segera ke rumah sakit untuk mengecek dahulu.”


Anna segera bergegas mengambil tas dan kunci mobil lalu pergi tergesa-gesa. Panggilan dari kekasih gelapnya tak di hiraukan sama sekali. Wanita itu bahkan mengendarai kendaraan roda empat dengan sangat kencang. Setiba di parkiran rumah sakit, wanita itu mengambil handphone lalu menghubungi putranya untuk mengabarkan berita ini.


Chandra yang kala itu tengah bersama Enno, tunangannya segera ke rumah sakit juga bersama kekasihnya. Sampai di sana pria itu sedikit syok kala melihat Ibunya menanggis dan ada beberapa polisi di dekat sana.


“Mama apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Chandra.


“Aku juga tak tahu, tadi pagi ada orang hotel menelpon dan bilang Ayahmu berada di rumah sakit. Sesampainya di sini ,kedua polisi ini mengatakan kalau Rendy sudah meninggal lama sejak beberapa jam lalu,” kata Anna sambil menanggis dan menjelaskan ke puteranya.


“Bagaimana bisa dia meninggal, kemarren masih baik-baik saja ,” ujar Chandra.

__ADS_1


“Kemungkinan serangan jantung, tetapi anehnya ada busa di mulut ayah anda hanya saja jejak racun tidak di temukan,” kata salah satu polisi.


“Arghhh kenapa papa meninggal secepatnya ini,” teriak Chandra sambil berlutut dan mulai menitikan air matanya.


Enno sang tunangan hanya bisa ikut berlutut dan merangkul pria itu. Mencoba menguatkan semampunya. Anna juga masih menangis , sesungguhnya dia hanya menyesal karena di saat terakhir suaminya adalah waktu ketika dia tengah memadu kasih bersama selingkuhannya.


“Apakah penyelidikan mau di lanjutkan?” tanya salah satu polisi.


“Tidak usah,Pak. Saya rasa anak-anak tak akan setuju kalau tubuh ayahnya di bedah,”jawab Anna.


“Jadi bagaimana kalian tak mau kasus ini di lanjutkan?” tanya anggota polisi sekali lagi.


“Tidak usah ,Pak. Kami bisa lebih malu lagi, cukup sudah biarkan orang lain tahu kalau Ayah meninggal karena serangan jantung saja,” sahut Chandra sambil sesengukan.


“Baiklah, kami juga tak bisa melakukan apapun jika keluarga tak mau membuat laporan. Kalau begitu kami mohon undur diri dan turut berduka cita,” kata salah satu anggota polisi.


“Terima kasih atas bantuan kalian, Chandra uruslah pemakaman ayahmu dan Enno tolong hubungi Cecilia dan Connie,” kata Anna lalu duduk di salah satu bangku rumah sakit.


“Baik, Tante.”


Chandra bergegas menggurus pemulangan mayat ayahnya dengan ambulance. Enno menghubungi kedua calon adik iparnya untuk mengabarkan berita duka itu. Connie yang paling syok mendapatkan kabar itu, dia segera meminta dokter agar mengizinkan pulang untuk menghadiri pemakaman ayahnya.


Berita kematian Rendy Wirabrata sampai juga ke telinga Karenina dan Philip yang terhitung masih kerabat dekat dari keluarga itu. Keduanya mengesampingkan masalah dulu dan menghadiri pemakaman pria itu.


Hanya keluarga Dokter Sintia yang tidak datang sama sekali. Awan berkata “ Kita sebaiknya jaga jarak saja dan tak usah terlalu terlibat masalah keluarga itu.”


“Benar, aku sama sekali tak mau tahu dengan urusan mereka lagi. Anakku malah jadi korban keserakahan rubah tua itu,” tutur Sintia.


“Karma mulai datang,” lanjutnya dengan lirih.

__ADS_1


__ADS_2