Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Kembali Bertemu


__ADS_3

“Kerja bagus Darren,” puji Tante Lala.


“Tentu saja, sekarang tinggal urusan Tante untuk selesaikan dendam Allana,” kata Darren.


“Benar, dia sudah masuk jerat. Sebentar lagi akan ku tarik talinya biar tercekik dan sekalian mati,” ujar Tante Lala kemudian tertawa.


“Sudah dulu ya Tante ini sisa bubuknya. Simpan saja siapa tahu nanti di butuhkan,” kata Darren sambil menyerahkan sebungkus plastik kecil dengan bubuk putih di dalamnya. Terlihat seperti bedak tabur saja.


“Tak di perlukan lagi, campur saja di air dan buang ke pot bunga sana,” ujar Tante Lala sambil menujuk ke sebuah pot berisi tanaman lidah mertua.


“Obat ini benar-benar hebat,” ucap Darren.


“Memang, aku beli di pasar gelap derngan harga cukup mahal dan memang terbukti ampuh dengan garansi penjual,” sahut Tante Lala.


“Eh obat seperti ini juga pakai garansi, seperti barang  elektronik saja,” celetuk Darren.


“Tentu saja harus ada testimoni dan garansi kalau tidak aku tak mau beli. Percuma buang uang kalau tidak bisa membunuh,” kata Tante Lala.


“Kenapa kau tak langsung singkirkan saja lelaki b a j i n g a n itu,” ujar Darren.


“Tidak bisa terlalu mudah baginya kalau cepat mati, lebih baik di siksa perlahan melalui psikis lagipula bandot tua itu sama saja jahatnya dengan sang putra. Bukankah dulu dia punya kasus mau menodai keponakannya bahkan gadis itu lumpuh. Merekalah yang harus di musnahkan, untuk apa hidup hanya mengurangi pasokan oksigen di bumi,” kata Tante Lala.

__ADS_1


Darren melakukan tepat seperti yang di bilang wanita itu dan air obat itu ketika mengenai tanaman lidah mertua membuat nya langsung layu dan mati.


“Wow tanaman saja langsung layu ,pantas saja pak tua itu bisa kehilangan nyawanya,” kata Darren.


“Memang obat paten ya seperti itu. Sekarang kau pulanglah, mandi dan gosok alkohol juga handsanitizer tanganmu itu. Adik-adikmu pasti menantikanmu pulang,” ujar Tante Lala.


“Siap,Tante. Sampai jumpa ya.”


Pemuda itu segera membersihkan tangannya dengan alkohol dan sanitizer lalu memacu kendaraannya, mampir ke sebuah penjual martabak manis dan asin membeli masing-masing dua porsi untuk di bawa pulang.


Di rumah,


Kasih langsung menyambut Kakak sulungnya dan berujar “ Pria tua itu sudah di makamkan, ini kerjaan kakak kan.”


“Terima kasih, rasa sakit kembaranku bisa di balaskan.” Kasih merangkul pinggang kakaknya.


“Sama-sama, auo makan panggil Delon juga,” kata Darren.


“Siap.”


Kasih langsung ke dapur menaruh di piring cemilan yang di bawakan sang kakak dan Dellon langsung nimbrung makan sambil bermain game. Mereka bertiga sangat akur dan saling bersenda gurau bersama.

__ADS_1


Keesokan pagi,


Karenina mengajak Kasih makan malam bersama sambil membicarakan tentang iklan produk terbaru. Mithanina akan mengeluarkan varian parfum terbaru, Karenina ingin syuting di lakukan di luar negri dan mereka tengah membahas negara mana yang akan di kunjungi nantinya sambil makan untuk mendekatkan diri.


“Jujur ya, aku tidak punya teman dekat. Entah mengapa aku merasa kamu bisa mengerti aku,” kata Karenina sambil makan bistik pesanananya.


“Sama saja, aku Cuma dekat dengan Suzy dan ketiga kakak lelakiku,” sahut Kasih.


“Lihat di sana ada Kak Steven, sebentar aku akan menyapanya.”


Karenina mengambil tongklatnya dan berjalan mendekati seorang pria yang baru saja masuk ke dalam restoran itu. Pria yang memakai jas rapi, tetapi Kasih malas melihatnya dan terus saja makan. Rupanya dia ikut bergabung untuk makan bersama si kembar.Kasih merasa sedikit risih dengan adanya orang baru, mau bilang hanya saja tak enak. Karenina kelihatan bahagia karena ada pria itu.


“Loh kamu kenal Nina?” tanya Steven saat duduk di meja yang sama dengan mereka.


“Kenal, kami siapa ya?” tanya Kasih.


“Mungkin hanya aku saja yang daya ingat kuat, kita pernah bertemu di bandara. Saat itu aku baru tiba di tanah air, gelangmu tersangkut di kancing kemejaku,” jawab Steven mengingatkan.


“Oia aku ingat, saat itu kau pakai kacamata jadi maaf kalau tak mengenalimu,” kata Kasih.


“Baguslah kalau kalian sudah saling kenal, Dia adalah Kasih. Ambasador dari produk Mithanina menggantikan Suzy,” ujar Karenina menjelaskan.

__ADS_1


“Oh begitu, sebentar aku pesan menu sama saja seperti kalian,” kata Steven lalu memanggil pelayan.


Setelah itu mereka saling bercakap-cakap bertiga. Membicarakan mengenai progress kesembuhan Nina yang sudah bisa memakai tongkat berjalan. Menceritakan rencana syuting iklan produk Mithanina dan juga membahas ingin menjadi sponsor salah satu program talk show di stasiun televisi milik keluarga Steven.


__ADS_2