
Connie sadar menjelang malam dan dia merasa agak pusing lalu melihat sekelilingnya. Nampak Cecilia tengah makan bersama suaminya.
"Kak,"panggil Connie dengan nada pelan.
"Syukurlah kau sudah sadar," kata Cecilia. langsung bangkit dan menghampiri adiknya.
"Kau mau minum?" tanya Cecilia sambil memberikan sebotol air mineral.
"Tidak, aku belum haus! Kak tadi aku bertemu Ricky, dia bersama wanita lain dan memeriksa kandungan juga," sahut Connie.
"Jadi pria kurang ajar itu yang buat kamu kesakitan seperti ini. Awas saja dia, kakak akan buat perhitungan dengannya,"kata Suami Cecilia yang ikut bangkit berdiri di samping adik iparnya.
"Jangan, biarkan saja. Kalian akan segera punya anak. Sebaiknya tidak usah terlibat masalah. Urus saja keponakanku dengan baik sehingga tidak bernasib buruk,"ujar Connie.
Gadis itu mencoba untuk duduk, namun perutnya terasa sangat sakit. Dia meringgis lalu menoleh ke arah kakak perempuannya.
"Kak, bagaimana dengan bayiku?" tanya Connie.
Sebenarnya Cecilia ragu untuk menjawab hanya saja tidak mungkin juga di sembunyikan.
"Anakmu sudah lama meninggal, sepertinya vitamin dari Mama salah satu penyebab. Itu racun bukan obat," jawab Cecilia dengan nada pelan.
"Apa! anakku meninggal." tangisan Connie pun pecah.
Seluruh ruangan langsung di liputi atmosfer kesedihan. Suami Cecilia mengambilkan tissue dan beri ke adik iparnya.
"Ma--maafkan Mama, Nak tak mampu menjagamu,"ujar Connie.
"Kami sudah menguburnya di samping makam Papa," kata Cecillia.
"Terimakasih, Kak. Seandainya aku juga meninggal tolong kuburkan kami bersama,"pinta Connie.
"Jangan bicara begitu," kata Cecilia.
"Kamu harus sembuh, nanti kita bicarakan lagi apa yang akan di lakukan selanjutnya. Jangan menyerah Connie," ujar Suami Cecilia memberikan semangat.
__ADS_1
"Aku mengerti, biarkan aku sendiri dulu. Kalian pulanglah. Kak Cecilia pasti kesusahan kalau tidur di sini," kata Connie.
"Bagaimana denganmu?" tanya sang kakak.
"Aku baik-baik saja, tenanglah,"jawab Connie sambil tersenyum.
"Baiklah kami pulang. Ini ada roti juga air mineral. Besok pagi kakak akan antarkan sarapan," kata Cecilia.
"Tidak perlu, datanglah saat siang saja. Kan di rumah sakit dapat makanan," ujar Connie.
"Kau ini, Baiklah. Sampai jumpa besok."
Keduanya melambaikan tangan dan meninggalkan ruangan itu. Sepeninggal kedua kakaknya, Connie terus menangis. Dia tidak ingin membuat Cecilia kuatir karena itu berusaha kuat.
Beberapa hari kedua, kesehatan Connie sudah pulih dan Chandra juga datang menjemput adiknya untuk pulang. Namun, gadis itu meminta untuk mampir dahulu ke restoran favoritnya dan makan bersama.
"Sudah sangat lama kita bertiga tidak makan bersama,"kata Connie.
"Benar, sudah sangat lama,"sahut Chandra.
"Menunggu di rumah," jawab kakak lelakinya.
"Oh."
Mereka asyik sekali makan dan nampak begitu akrab satu sama lain. Connie berpamitan kepada Cecilia dan suaminya. Dia ingin kembali ke rumah. Mereka berpisah di sana.
Chandra mengantar Connie sampai di depan pintu rumah, tetapi meninggalkan adiknya karena mau menjemput Enno.
"Nanti malam kita makan bersama lagi ya, kakak akan belikan masakan kesukaan mu," janji Chandra.
"Tidak usah, Kakak bersenang-senang saja dengan Kak Enno. Aku ingin beristirahat, merasa sangat lelah," ujar Connie.
"Baiklah, sampai jumpa."
"Hati-hati ya, aku mencintaimu."
__ADS_1
"Aku juga."
Mobil Chandra langsung melaju dengan kencang meninggalkan pekarangan rumahnya. Di lantai dua Ibu mereka melihat melalui kaca.
Connie menuju dapur dan minum segelas air juga mengambil sebuah benda sebelum menemui Ibunya di lantai atas.
"Hallo Mama," sapa Connie sambil menaruh tasnya di atas meja.
"Ehmm sekarang kau sudah sehat kan. Besok hadirilah makan malam bersama Mama."
"Aku tak mau, maaf sekarang aku tidak mau lagi jadi bonekamu," kata Connie dengan ketus.
"Apa maksudmu?Boneka apa?" tanya Anna kepada putrinya.
"Tentu saja alat yang kau gunakan untuk mencari menantu kaya."
"Kau gila ya, bukankah memng keinginan mu unyuk hidup mewah."
"Tidak semua karena saranmu. Kau yang menyuruhku mencari pria kaya."
"Connie jangan kurang ajar, panggil aku Mama."
"Kau bukan Mama, tidak ada seorang Ibu yang mau berikan racun ke anaknya. Sekarang bayiku mati karenamu," bentak Connie kasar.
"Tutup mulutmu."Plak satu tamparan telak di wajah Connie.
"Baik kalau itu maumu, selamanya aku tidak akan bicara."
Connie mengambil sebuh benda dari dalam tasnya, ternyata adalah pisau dan di depan wajah Mamanya dia melakukan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangan lalu menusuk perutnya sendiri. Darah mengalir menggenangi lantai, Anna panik lalu memanggil semua asisten rumah tangga. Mereka segera menelpon ambulans.
Belum sampai di rumah sakit masih di dalam perjalanan, gadis itu telah menghembuskan nafas terakhirnya. Berita duka itu seketika menyebar cepat. Belum lagi ada sebuah email aneh yang masuk ke semua pemilik saham terkait kecurangan yang di lakukan Anna. Semua memang sudah di atur oleh Connie. Membayar salah satu temannya untuk melakukan tugas saat dia di nyatakan meninggal.
Bersambung...
......................
__ADS_1