
Berita menghebohkan mewarnai halaman utama surat kabar hari ini, Steven yang tengah sarapan bersama sang Oma sampai mengkerutkan kening.
“Kenapa lagi? Dahimu kalau begitu terus akan cepat tua dan tak adda lagi gadis yang mau menjadi cucu menantuku,” tegur sang Oma.
“Lihatlah saham PT. KCP turun, Anna sang direktur terancam mendekam di jeruju besi lantaran pengelapan dana perusahaan, Philip anak sulung dari pemilik sebelumnya mengalami kecelakaan kemaren,” kata Steven sambil memperlihatkan koran yang di bacanya.
Oma mengambil, membaca sebentar lalu berucap “Kasihan sekali nasib Karenina, ayo kita jenguk gadis malang itu. Pasti dia tengah ketakutan lantaran sang kakak mengalami musibah yang sama dengan almarhum orang tuanya dulu.”
“Oma benar , dia pasti sangat ketakutan,” sahut Steven.
“Sudahlah kita makan saja, nanti agak siang kamu jemput oma dan kita berangkat bersama ke sana,” ujar Oma.
“Siap ratuku.”
Di rumah Kasih,
“Davin , belilah saham PT.KCP peninggalan orang tua Kasih. Ini ada tabungan kakak hasil bekerja juga dari pendapatan Club,” kata Darren.
“Pakai nama kamu kan?” tanya Davin.
“Tidak kamu saja, bukankah selama ini kamu sudah banyak membantu menjalankan usaha peternakan dan menjaga Bapak Ibu. Ambil saja anggaplah kamu bantu adik bungsumu untuk amankan saham perusahaan,” jawab Darren.
“Tidak ah, aku juga masih ada tabungan. Jangan pakai uangmu terus,” tolak Davin.
__ADS_1
“Ambil saja, ini hanya sebagian dari tabunganku. Lihatlah buku rekeningku. Sebagai kakak aku mau adil kepada kalian bnerdua. Delon sudah ku bantu untuk buat manajemen artis dan kau juga harus dapat bantuanku jadi sama,” kata Darren dengan tegas.
“Aku tidak perlu, berikan ke Kasih saja,” tolak Davin lagi.
“Tidak perlu, aku juga tidak butuh. Kalau suatu saat ketahuan bukankah sahamku juga ada di sana. Kau saja yang beli dan nikmati keuntungannya. Yakinlah ini hanya sementara PT.KCP pasti akan jauh lebih berkembang karena rubah tua tidak ada dan Philip pasti segera sadar,” pungkas Kasih.
“Dia benar, saham lagi jatuh kita harus beli. Kakak yakin pasti akan meningkat lagi dan kau akan untung besar,” kata Darren sambil tersenyum.
“Baiklah tapi ini yang terakhir aku tidak mau lagi uang kalian membelikanku barang mahal atau apa pun itu. Aku bisa berusaha sendiri bagi hidupku,” ujar Davin dengan tegas.
“Abang paham, bukankah sudah ku bilang ini supaya adil saja ke semua adikku. Aku tidak ingin berat sebelah dan hanya di lihat membantu Delon,” kata Darren sekali lagi.
“Demi kasih aku beli sahamnya, transfer saja ke rekeningku nanti aku ke bursa saham untuk melakukan pembelian,” ujar Davin.
“Gitu dong,” sahut Kasih.
“Tidak masalah, aku perlu istirahat sebelum besok mulai syuting terakhir kali. Film pertamaku akan selesai loh,” jawab Kasih.
“Kerja bagus, jaga dirimu dan minum vitaminnya. Kami berdua pergi. Delon akan kembali usai kencan dengan Suzy,” kata Davin.
“Siap sampai jumpa,” kata Kasih sambil melambaikan tangan dan mengunci pintu rumah.
Malam hari,
__ADS_1
Seorang pria tengah bermimpi buruk dalam tidurnya dia melihat sosok gadis yang dia cari selama ini sudah pergi jauh meninggalkannya. Sekejab mata sang gadis menghilang kembali dari hidupnya.
“Tidak jangan pergi,” teriak Steven.
Keringat dingin mengucur dari keningnya, kejadian masa lampau kembali menghantui kala perasaannya mulai terketuk oleh sosok wanita lain. Mungkin lantaran kebimbangan inilah dia terjebak dan tak tahu musti memilih yang mana.
“Sial, aku harus segera temukan dia,” ujar Steven sambil mengambil dompetnya dan memandangi wajah gadis itu kala mereka sempat foto bersama sebelum berpisah.
“Tunggu aku,” lanjutnya.
Tak lama ada ketukan di pintu kamarnya, ternyata sang asisten rumah tangga yang datang dengan wajah agak cemas.
“Ada apa,Bi?” tanya Steven.
“Tuan, rumah sebelah kena musibah lagi,” jawab sang Bibi.
“Apa lagi? Kemalingan?” tanya Steven sambil mengerutkan dahinya.
“Bukan, pemiliknya bunuh diri.”
“Apa?”
“Bener Tuan, barusan ada pihak kepolisian bertanya kemari. Kalau kita ada dengar suara atau kegiatan mencurigakan. Bibi jawab tidak ada karena memang mereka kan jarang bersosialisasi.”
__ADS_1
“Tenang,Bi. Aku akan coba lihat ke sebelah dulu,” kata Steven dengan cepat mengambil handphonenya dan pergi ke rumah sang tetangga.
Kalian bisa tebak kira-kira siapa yang bunuh diri?