
Tengah malam,
"Nana... nana jangan pergi, tunggu aku," ujar Steven saat mengigau.
Sontak suara pria itu membangunkan Kasih karena dia memang tidak bisa tidur nyenyak, Maklum sofa rumah sakit tidaklah empuk. Wanita itu segera bangkit dan mengabil tissue mengelap air mata steven yang menetes di pipinya.
"Sebenarnya siapa nana sehingga dia menangis begini," lirih Kasih.
Rupanya Oma juga terbangun lalu berucap "Nana itu cinta pertamanya dan mereka ketemu saat study tur. Sayangnya Steven tidak sempat mengutarakan perasaannya dan terus mencari gadis itu sampai sekarang."
"Kenapa malah berpisah?" tanya Kasih.
"Menurut Steven salah satu teman Nana bilang kalau dia di marahi oleh orang tuannya karena semalaman bersama pria asing. Sebenarnya tak terjadi apapun di antara mereka, saat itu karena jatuh ke jurang sehingga terperangkap bersama dan Nana itu juga yang memapah Steven keluar dari jurang," papar Oma menjelaskan.
Deg...
Seketika Kasih menjadi ingat kejadian yang terjadi di masa lampau. Kalau ini benar kemungkinan dialah Nana yang di cari pria somplak ini.
"Jadi Steven sebegitu cintanya kepada wanita itu?" tanya Kasih dengan ragu-ragu.
"Benar, agak aneh kan. Padahal mereka hanya beberapa jam saja bersam dan mengobrol berdua," jawab Oma.
"Dulu Steven memakai kacamata dan kawat gigi kah?" tanya Kasih kembali.
"Benar, duh semasa sekolah anak ini tidak pernah memperhatikan penampilan dan kucel. Tidak akan terlihat kalau dia ini pewaris grup Adimiharja," ungkap Oma.
Kasih tiba-tiba mengigit bibir bagian bawahnya dan menjadi sedikit canggung. Dia juga mengigit ujung kuku jempolnya. Oma sampai heran melihat perubahan sikap wanita muda itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu?" tanay Oma.
"Tidak hanya sedikit tersentuh lihat perasaan Steven," kilah Kasih menyembunyikan isi pikirannya.
"Oh begitu, tidurlah. Besok kamu harus bersiap ke Jepang kan," kata Oma.
"Eh i--iya Oma. Kalau begitu Kasih tidur ya. Selamat malam."
Kasih kembali ke sofa dan mulai mengirimkan pesan ke orangtuanya untuk tidak datang ke Jepang, dia akan menyusul mereka ke eropa dan ikut traveling. Sebenarnya dia tidak mau bertemu pria ini dan membuat dia sadar tentang identitasnya.
Keesokan pagi,
Kasih bergegas pamitan ke Oma sebelum Steven siuman, entah mengapa dia merasa enggan melihat sang cinta monyet. Ada perasaan bersalah juga malu karena tidak mengenalinya.Menghindar adalah cara terbaik untuk menyelesaikan kecanggungan.
Siang hari di kamar lain dalam rumah sakit yang sama,
"Benarkah , ayo kita menjengguk," ajak Karenina langsung menarik tangan sang Bibi.
Di dalam kamar rawat inap,
Steven sedang memandangi foto dirinya dengan Nana yang di simpan di dalam dompet. Wajahnya nampak sedih karena sampai sekarang tak bisa menemukan sang gadis pujaan hati.
"Steven, kamu sejak kapan terluka?" tanya Nina yang langsung masuk saja ke dalam ruang kamar.
"Kemaren malam," jawab Steven singkat sambil meletakan dompetnya di meja sebelah.
"Pasti kepalamu masih sakit ya?" tanya Nina sambil berusaha mengambilkan botol air mineral dan tak sengaja menjatuhkan dompet tersebut.
__ADS_1
"Eh Maaf, bentar aku ambil,"lanjutnya.
"Tidak sakit kok ,kan sudah di obati," sahut Steven.
Karenina sendiri tertegun melihat isi dompet pemuda itu, wanita di sana mirip seklai wajahnya hanya saja seingatnya tidak pernah sekalipun memakai seragam sekolah apa lagi kaos olah raga seperti ini. Dulu dia lumpuh mana mungkin bisa latihan.
"Si--siapa wanita ini?" tanya Nina dengan terbata-bata.
"Dia Nana, cinta pertamaku. Sebenarnya alasan aku mau membantumu dahulu karena wajah kalian berdua persis sama," jawab Steven.
"Bi, bisa jadi dia Chelomitha," kata Karenina sambil menunjukan foto di dompet pria itu.
"Benar,non. Wajahnya sangat mirip, ini pasti Non Mitha," ujar Bi Kinan.
"Di mana dia sekarang?" tanya Karenina.
"Entahlah aku juga tak tahu ,kami berpisah usai study tur dan sampai sekarang aku mencarinya. namun belum mendapatkan hasil," jawab Steven dengan jujur.
"Aku pinjam foto ini, akan ku tunjukan ke Kak Philip. Kemungkinan wanita ini adalah saudara kembarku yang telah lama hilang," kata Karenina.
"Apa? Kau punya kembaran?" tanya Steven.
"Ceritanya panjang, Nanti ku jelaskan. Samapai jumpa."
Nina dan Bi Kinan segera keluar kamar dan menuju ke kamar di mana Philip di rawat mereka juga membawa foto dari dalam dompet Steven. Dengan langkah terburu-buru terus berjalan.
"Mitha tunggu kakak," guman Nina.
__ADS_1