Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Pov Darren


__ADS_3

"Darren, mana pria yang sering di sewa Anna. Suruh dia temani Oma ke arisan," kata Oma Gina di telepon.


"Hah! kenapa mendadak Oma, pria itu ada janji ketemu klien di luar juga hari ini," ujar Darren.


"Kau tahu, wajah Suzy iritasi akibat perbuatan licik wanita itu," kata Ima Gina dengan geram.


"Baiklah, jam berapa hanya sebentar kan Oma jadi aku mundurkan sedikit waktunya," ujar Darren berusaha memberi solusi.


"Iya dan Oma yakin kau pasti punya beberapa bukti kelakuan gila wanita itu. Email ke Oma sekarang nanti akan sms alamatnya. Sekarang kita harus gempur dia agar kapok," ucap Oma Gina dengan penuh keyakinan.


"Oma jangan berbuat aneh. Biar kami saja," kata Darren.


"Tidak kali ini Oma akan turun tangan, siapa suruh dia yang duluan berani menyentuh cucu kesayanganku," ujar Oma Gina.


"Baiklah, Oma sms saja alamat emailnya nanti aku kirimkan beberapa bukti," kata Darren mengalah.


"Bagus! Kamu lihat saja kalau Oma akan permalukan wanita itu."


"Terserah Oma deh."


Ketika sambungan telepon di matikan, Darren melakukan persis sesuai permintaan Oma Gina. Sekarang dia bukan lagi pilot, pekerjaan pria tampan ini sudah berganti menjadi pemilik klub malam ekslusif yang mewah. Bantuan modal dari Ibu mantan kekasihnya membuat jalannya mulus.

__ADS_1


Darren sengaja melakukan hal ini agar lebih mudah mendekati para musuh yang hobinya berpetualang dengan daun muda.


Klub ini sendiri mendatangkan pemasukan cukup banyak karena kebanyakan klien orang berduit yang rela menghabiskan banyak hanya demi sedikit perhatian dari para pekerja di sini.


"Siapa tadi, bang?" tanya Davin yang baru saja datang dari desa Flamboyan.


"Oma Gina," jawab Darren sambil mulai memilih beberapa foto untuk di kirim ke email.


"Mau apa?"


"Mengerjai Anna, katanya Suzy mengalami iritasi akibat perbuatan rubah tua itu."


"Dasar ya, engga ada habisnya berbuat dosa. Sudah tua bukannya sadar malah makin gila," kata Davin yang ikut kesal.


"Benar, segala sesuatu pasti ada akibatnya. Tidak mungkin selamanya bisa bebas berbuat dosa."


"Begitulah."


"Eh Bang, barusan Delon sms. Kasih sudah ketemu kembarannya karena menggantikan Suzy bekerja di sana," kata Davin.


"Bagaimana reaksi adik kita?" tanya Darren.

__ADS_1


"Biasa saja cuma sempat salah tingkah karena kedua saudaranya mengajak makan malam, tetapi dia menolak karena takut tak mampu menguasai diri,"jawab Davin sambil memperlihatkan sms Delon.


Darren membaca pesan dari sang adik dengan serius.


"Kasih ternyata belum sepenuhnya bisa menahan rasa rindu," kata sang kakak tertua.


"Pastilah, Bang. Kata Delon wajah Karenina sangatlah mirip dengan Kasih. Sayangnya kakinya lumpuh," ujar Davin sambil mengambil kembali handphone miliknya.


"Kecelakaan itu menyebabkan banyak hal bagi si kembar, sungguh malang," kata Darren.


"Semua karena rubah tua itu kan, aku saja kesel kepadanya," ujar Davin.


"Seluruh keluarga itu bermasalah, kau tahu sendiri nasib mantan kekasihku. Mungkin sekarang mereka di atas angin, tetapi tanpa sadar arah angin telah berubah. Semoga saja mereka siap menerima angin ****** beliung akibat hasil perbuatan salahnya."


"Biarkan saja, toh segala sesuatu ada sebab dan akibat. Kita lihat saja bagaimana mereka jatuh."


"Benar juga, oia ayo kita makan malam setelah ini pulang saja kerumah temani adik-adik."


"Beli Pizza ya buat teman nonton bola,"pinta Davin.


"Baiklah."

__ADS_1


Kedua pria tampan itu segera pergi meninggalkan kantor di dalam klub mewah itu. Malam semakin larut saja, tetapi kesenangan di klub baru saja di mulai.


Bersambung....


__ADS_2