Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
3 Tahun Kemudian


__ADS_3

"Kasih buruan dong!" seru Suzy Park sambil menyeret kopernya.


"Sabar dikit napa, buru-buru amat," sahut Kasih.


"Kau tahu kan, model Jepang yang ganteng itu sudah menunggu. Aku tak ingin melewatkan kesempatan emas," kata Suzy Park.


"Kan pesawat belum berangkat juga, dia paling masih di ruang tunggu," ujar Kasih.


"Pokoknya buruan, ini pekerjaan pertamamu kan," kata Suzy Park.


"Iya, semoga aku bisa melakukan dengan baik,"ujar Kasih.


"Kau termasuk beruntung bisa mendapatkan kontrak kerjasama pertama kali dengan orang luar. Hebat sekali," puji Suzy Park.


"Semua juga berkat kamu. Keluargamu yang sudah mengajarkan banyak hal selama beberapa tahun ini dan jangan lupakan cerewetnya Oma Gina," kata Kasih.


"Hooh Oma dan Opa yang mencarikan pekerjaan buat karir kita,tetapi tak mungkin juga mendapatkan kontrak tanpa kemampuan.Aku duluan ya, nanti kamu menyusul ke dalam," ujar Suzy Park dan bergegas berlari ke antrian check in.


Kasih yang mencoba menyusul malah menabrak seorang pria karena dia terburu-buru. Pria itu sangatlah tampan dengan setelan kemeja berwarna biru muda dengan celana panjang hitam. Tanpa sengaja gelangnya tersangkut di kancing pria asing itu.


"Maafkan aku sudah menabrakmu," kata Kasih sambil sedikit membungkukan badan.


"Tak masalah, sebentar aku bantu lepaskan gelangmu," kata pria itu.

__ADS_1


"Terimakasih."


"Lain kali lihatlah sekelilingmu, tenang saja meskipun kau berlari tak mungkin bisa mengejar pesawat," kelekar pria itu.


"Hahaha.. tentu saja aku tak akan mampu balapan lari dengan pesawat. Baiklah aku pamit dulu, sampai jumpa," kata Kasih lalu berlalu meninggalkan pria itu.


"Wanita yang unik."


Di ruang tunggu, terlihat Suzy sedang asyik pedekate dengan model pria itu. Terlihat jelas bagaimana rasa sukanya terhadap sang lawan jenis. Sepertinya perasaan itu akan bersabut karena sang model nampak mengenggam tangan Suzy.


"Hei kalian, asyik sekali. Aku tunggu di sana ya mau sambil menonton berita," ujar Kasih berusaha menghindari keduanya agar tak menggangu.


"Tak masalah, nanti saat akan masuk ke pesawat aku pasti memanggilmu," kata Suzy Park sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Kasih segera menuju kursi yang ada di seberang dan menonton televisi yang memang tersedia di ruang tunggu. Berita mengenai kesuksesan lini kosmetik milik Karenina menjadi topik karena banyak para artis terkenal menjadi ambasador termasuk Suzy Park yang kini menjelma menjadi model papan atas.


"Kelihatannya saudaraku sudah berhasil cukup senang melihatnya," batin Kasih.


"Kosmetik Mithanina memang yang terbaik. Saat di pakai tidak metusak kulit dan varian parfumnya juga begitu kuat aroma dan tahan lama," puji salah satu penumpang sambil bercerita dengan temanya. Kebetulan duduk di sebelah Kasih.


"Suamiku malah suka Parfumnya, menurut dia aroma koleksi pertama adalah yang terbaik Wangi musk, vanila juga orange berpadu lembut. Jujur aku suka menciumnya kalau dia pakai parfum Mithanina," sahut penumpang lainnya.


"Memang hebat sekali, banyak yang memuji hasil kerjanya," guman Kasih dalam hatinya ketika mendengarkan obrolan orang-orang.

__ADS_1


"Kasih, jangan melamun. Ayo kita berangkat," ajak Suzy Park.


Pesawat membawa ketiga orang itu menuju negara sakura. Sementara di depan terminal kedatangan ada seorang gadis dengan kursi roda telah datang menjemput pria tadi yang tak sengaja bertabrakan dengan Kasih.


"Steven, lama sekali akhirnya kamu pulang juga."


"Kuliah dan pekerjaan di sana sudah selesai jadi aku pulang."


"Nina kangen denganmu,"ledek Philip yang ikut menjemput.


"Kau bercanda kan, ayo pulang. Seharusnya kalian tak perlu repot-repot kan ada sopir keluargaku," kata Steven.


"Tak masalah, ini juga Weekend jadi aku libur. Lusa kau jadi buat pengumuman kan, yakin tak mau melanjutkan kerjasama ini?" tanya Philip.


"Yakin, sekarang Nina sudah bisa berdikari dengan kemampuannya. Kurasa ini yang terbaik karena minggu depan aku juga akan mengambil alih salah satu bisnis keluarga. Orangtuaku tak ingin ada gosip tak sedap," kata Steven menjelaskan.


"Tak masalah, terimakasih kau mau menjadi tameng selama beberapa tahun ini. Semoga kita tetap bisa bersahabat,"kata Philip sambil merangkul pria di hadapannya.


"Tentu saja, aku senang melihat kalian sudah berkembang pesat. Teruslah begini dan rebut kembali peninggalan kedua orangtuamu," ujar Steven.


"Kami akan berusaha," sahut Karenina.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil dan segera meluncur. Mengantarkan pulang pria itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2