
Sementara sang kakak tengah berjuang untuk mendapatkan pujaan hati Kasih malah merasakan sakit dan tidak enak badan. Wajahnya juga sudah menjadi pucat pasi. Steven pun sama karena itu dia memutuskan untuk pulang dan berpamitan kepada Ricky Ang, namun malah berpapasan dengan Kasih yang hendak ke toilet.
“Kau kenapa?” tanya Steven sambil mengikuti gadis itu.
“Sebentar, aku ke belakang dulu. Perutku sakit,” kata Kasih dan pergi dengan terburu-buru.
Steven menunggu sebentar di depan toilet wanita sambil bermain handphone tak lama Kasih kelur sambil memegangi perutnya.
“Tamu bulanan datang?” tanya Steven.
“Tidak, entah mengapa perutku malah sakit dan bolak balik ke belakang.”
“Aku juga mengalami hal itu tadi, hanya saja cukup dua kali ke belakang. Mungkinkah makanan kita ada racunnya?”
“Tidak ah, bisakah kau temani aku ke dokter. Aku tidak kuat lagi kalau harus kem,bali ke toilet. Kak Delon masih ada urusan , aku tak ingin menganggu.”
“Baiklah, aku juga hendak pulang. Ayo kita berangkat.”
Steven memapah tubuh Kasih dan masuk ke dalam untuk mengambil tas milik gadis itu lalau mereka menuju basement mengambil mobil lalu berangkat ke rumah sakit.
“Pasien bernama Kasih harus di rawat minimal 2 hari untuk memulihkan kondisinya. Sepertinya ada obat pencahar dalam jumlah besar yang dia konsumsi,” kata Dokter.
“Obat pencahar? Pantas saja dia bolak balik toilet.”
“Benar, tolong selesaikan administrasi dan pasien akan kami bawa ke kamar rawat inap.”
“Baik, Dok. Terima kasih.”
__ADS_1
Steven menggurus administrasi dan berencana menghubungi kakak dari Kasih hanya saja batrei handphone gadis itu mati. Terpaksa dia menginap di sana menemani sang gadis yang sudah tak berdaya.
Di tempat acara,
“Sialan kenapa efek obat itu tidak kelihatan,” umpat Ellea di dalam toilet.
“Aku telepon Tina saja untuk menanyakan,” lanjutnya.
Gadis licik itu mengambil handphone dan menelpon temannya.
“Tina kenapa obat perangsang tidak ada efek sama sekali? Kau menipuku dengan memberikan obat palsu?” tanya Ellea dengan nada kasar.
“Obat palsu? Tunggu dulu di dalam bungkusan merah atau biru yang kau pakai?” tanya Tina dengan nada santai.
“Bungkusan biru lah.”
“Hah! Pantas saja, sialan lepas lagi mangsaku,” umpat Ellea.
Hahaha hanya terdengar suara tawa kencang dari Tina karena kebodohan sang teman.
“Berhenti tertawa, awas kau ya. Sudahlah aku mau pulang saja,” kata Ellea.
“Dasar B o d o h!”
Ellea sungguh kesal dan menghentakan kakinya lalu keluar dan toilet dan segera meninggalkan acara itu. Sangat kesal karena rencananya gagal total.
Di lain tempat,
__ADS_1
Hati Delon tengah berbunga-bunga karena berhasil mendapatkan cinta Suzy dan dia berencana mengelar acara lamaran secepatnya. Lagi pula sudah mendapatkan izin dari kedua abangnya untuk menikah lebih dahulu.
“Terima kasih mau menerimaku,” ujar Delon sambil mengenggam tangan gadis yang dia cintai sejak lama.
“Aku tahu kau pekerja keras pertahankan itu agar bisa membiayai kehidupan kita bersama kelak,” kata Suzy.
“Tentu saja aku akan bekerja keras dan akan segera membuat agency model sendiri juga membuat suatu usaha baru untuk menunjang perekonomian kita kelak,” janji Delon.
“Itu bagus, by the way mana Kasih?” tanya Suzy sambil celingak celinguk mencari sahabatnya.
“Kalian sibuk berduan dan Steven sudah mengantarkan adikmu. Kelihatannya Kasih sakit,” kata Olga.
“Benarkah, tunggu sebentar aku tak bisa menelponnya,” ujar Delon mulai panik.
“Kenapa?” tanya Olga.
“Handphonenya tidak aktif,” sahutSteven.
“Hubungi Steven saja,” kata Suzy.
“Aku tak punya nomornya,” sahut Delon.
“Cek ke rumahmu saja siapa tahu sudah pulang,” usul Olga.
“Benar juga, aku pulang dahulu. Nanti akan ku hubungi lagi,” kata Delon sambil mengecup kening sang model.
“Baiklah, berhati-hatilah.”
__ADS_1