Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Persiapan ke Pesta


__ADS_3

Akhir pekan, ini saat yang di tunggu-tunggu. Sekitar jam 2 siang, Suzy telah datang dan menjemput Davin bersama Olga sang manager. Mereka akan menunju ke butik lalu ke pesta Ulangtahun Connie. Sementara Kasih terus menerus tertawa mendengar celotehan Olga yang setengah matang.


“Demi Tuhan, kalau di kelilingi tiga cowok tampan seperti ini Eyke mau dong di rawat inap,” cerocosnya.


“Kamu memang bersedia di rawat, sayangnya rumah sakit tak mau menerima,” celetuk Suzy sambil menaruh buah anggur yang di beli untuk Kasih.


“Lah kok gitu, mendapatkan fasilitas kesehatan adalah hak setiap warga negara dan aku juga punya asuransi tau,” ujar Olga sedikit kesal.


“Memang kamu punya uang dan asuransi, tetapi mau nulis diagnosis penyakitnya apa? Masa iya mau bilang pasien menderita penyakit setengah matang,” ucap Suzy.


“Ih kamu kok gitu, ini bukan penyakit tapi kelebihan,” ujar Olga tak mau kalah.


“Kelebihan dosis,” sahut Suzy lagi.


“Malas ah sama kamu mendingan aku duduk di tengah kedua cowok ganteng ini,” ujar Olga yang cuek berada di tengah Delon dan Darren.


Kasih terus tertawa sedangkan Davin memilih tak mengubris karena dasarnya kakak keduanya ini agak cuek. Pemuda ini sibuk memasukan handphone, charger, tissu basah kecil , dan dompet ke dalam tas selempang kecil miliknya. Sedangkan Darren dan Delon hanya diam dan terus menonton televisi, ada pertandingan bola. Siaran ulang dari semalam. Club favorit bermain jadi tak menghiraukan sekitar.

__ADS_1


Bu Kalina dan Pak Budi baru saja datang sehabis dari tempat kost untuk mengambil pakaian bersih, mereka sedikit terkejut melihat penampakan Olga yang nampak centil di antara kedua putranya.


“Hallo, Nak Suzy. Mau berangkat sekarang?” tanya Bu Kalina.


“Iya ,Bu. Kami kan harus ke salon dulu untuk perawatan Davin. Mohon pamit ya Bapak dan Ibu,” jawab Suzy dengan sopan.


Olga yang mendengar sang model akan berpamitan segera berdiri dari sofa dan mulai sungkem kepada kedua orangtua yang baru saja datang itu.


“Bapak , ibu saya Olga kemungkinan akan menjadi calon menantu kalian,” ujarnya dengan penuh percaya diri.


“Hah?” Pak Budi nampak binggung, namun Bu Kalina malah tertawa.


“Hihihi, namanya juga usaha,Bu habisnya ketiga putra kalian semuanya cakep sekali,” kata Olga.


“Maafkan manager genit saya, Bapak Ibu. Dia memang tak bisa lihat pria ganteng dikit langsung bertingkah,” ujar Suzy ambil mencubit lengan pemuda centil itu.


“Bapak, Ibu anak kalian tak mau jadi model kah? Wajah mereka menjual loh, postur tubuhnya juga bagus sekali,” tawar Olga.

__ADS_1


“Maaf tidak, mereka sudah ada cita-cita sendiri, kami tak mau memaksakan kehendak,” tolak Bu Kalina secara halus.


“Ya sudah kami mohon pamit, sampai jumpa semua. Besok aku akan kembali ya Kasih,” ujar Suzy dan menarik tangan asistennya untuk pulang.


“Bapak ibu, Davin pamit dulu,”ujar sang anak kedua.


“Iya berhati-hatilah,” pesan Pak Budi.


Mereka bertiga segera menuju parkiran rumah sakit dan meluncur ke sebuah salon untuk merapikan rambut Davin dan menata penampilan Suzy lalu ke butik dan memakai pakaian pesta keduanya.


“Sudah bereskan, sekarang Eyke mau pulang. Ingat jangan minum alkohol saat pesta. Davin jagain anak Eyke,”pesan Olga.


“Iya aku tahu,” sahut Davin.


“Kamu mau naik apa? Di jemputkah?” tanya Suzy.


“Naik taksi online, udah ngga usah pikirkan aku. Kalian fokus saja ke tujuan awal,” jawab Olga dengan lugas.

__ADS_1


"Baiklah, sampai jumpa."


Kali ini sengaja mengambil gaun hitam dan juga setelan tuksedo berwarna senada. Mereka berdua nampak serasi dan cocok. Saat memasuki ruangan tempat acara berlangsung menjadi pusat perhatian para undangan disana. Fisik rupawan tentu menjadi daya tarik tersendiri.


__ADS_2