
Keesokan pagi,
Lili sang asisten dari Karenina datang menjenguk sambil membawa beberapa laporan yang musti di tanda tangani sang Bos.
"Bagaimana sih, masa sudah ada fotonya tidak bisa ketemu? cari tahu dong siapa saja kelompok studi tur tahun itu? Sekolah yang ke sana pasti bukan seluruh nusantara kan, masa tidak bisa juga?" kata Philip dengan nada suara mulai meninggi.
"Pokonya aku tak mau tahu temukan wanita itu dalam waktu seminggu,"lanjutnya.
Lili agak tertegun di depan pintu, sudah mengetuk hanya saja tak berani masuk. Dia tahu benar watak bos muda yang lelaki karena sedikit temperamen jika lama mendapatkan hasil.
"Masuklah, tidak usah takut. Kak Philip bukan marah padamu," kata Karenina memanggil asistennya.
"Baik, Bu. Ini semua berkas yang mau Ibu tandatangani,"ujar Lili sambil menyerahkan beberapa map dokumen.
Karenina mengeceknya satu persatu baru menandatangani semua dan menyerahkan kembali ke sang asisten.
"Ini ya, sudah semua kan. Besok aku akan masuk kerja,"kata Nina sambil tersenyum.
"Makasih, Bu. Oia maaf kalau lancang, apakah Kalian mencari wanita di foto yang semalam Ibu kirim ke saya untuk di selidiki detektif sewaaan?"tanya Lili.
"Benar, dia adikku yang serupa wajahnya karena kami kembar,"jawab Karenina.
__ADS_1
"Begini, bu. Coba di zoom ke bagian tanda pengenal ini, memang agak kabur dan saya pakai aplikasi khusus supaya bisa terlihat lebih jelas dan kemungkinan nama yang tertera adalah D. K. Ciptosusilo,"kata Lili.
"Mana coba ku lihat,"pinta Kasih sambil mengambil handphone asistennya.
"Benar, sekarang terlihat jelas. Jadi nama barunya D. K. Ciptosusilo," kata Karenina.
"Ada hal penting yang mau saya katakan, nama Ciptosusilo ini familiar loh, Bu. Coba di ingat lagi,"ujar sang asisten berusaha memberikan petunjuk.
"Memang nama pasaran, sebenarnya apa maksudmu?"tanya Karenina.
"Ini foto profil salah satu pekerja kita coba lihat nama keluarganya juga nama asli untuk pengiriman gaji,"jawab Lili sambil menunjukan handphone miliknya.
"Kau benar, inisialnya sama juga nama keluarga,"kata Karenina langsung membuka bulat mulutnya karena kaget.
"Ternyata memang benar, Non sebaiknya selidiki dia. Terlalu banyak kesamaan buat makin curiga saja, tetapi harus di selidiki,"lanjut Bi Kinan.
"Baiklah kalau begitu, kerahkan detektif kita selidiki dia,"perintah Karenina.
"Ada apa?" tanya Philip sambil melihat ke adiknya.
"Seperti sudah ada petunjuk, Kak, "jawab Karenina.
__ADS_1
"Jadi bagaimana?"tanya Philip kembali.
"Kalau benar, maka aku akan menyusulnya dan menangkap agar tidak lepas lagi,"jawab Karenina.
"Dan untukmu akan ku berikan hadiah besar jika tepat sesuai dugaanmu,"lanjut Karenina.
"Makasih, Bos. Saya pamit kembali ke kantor,"kata Lili.
"Pergilah! dan kirimkan data diri tadi ke email,"perintah Nina.
Sang asisten hanya mengangguk dan segera meninggalkan rumah rawat inap. Nina menforwrd ke akun email Philip.
"Nakal sekali dia, menyembunyikan begitu lama,"kata Philip.
"Mungkin dia punya alasan tersendiri, kita tunggu saja fakta sebenarnya,"ujar Nina.
"Jika benar maka terjawab sudah kecurigaan selama ini,"sahut Bi Kinan.
"Oia bi, belikan cemilan. Sebentar lagi Dokter Sintia dan suaminya akan datang kemari, kami mau bilang tentang kecelakaan itu,"kata Philip.
"Ini uang cashnya belanjakan dengan hemat ya, Bi,"teriakan Nina.
__ADS_1
"Siap, Non. Bibi berangkat sekarang ya."
"Hati-hati, Bi.