
Seluruh rumah di sekitar telah sepi, tak ada kehidupan sama sekali. Nampaknya para penghuni telah tertidur lelap. Nekat itulah sikap yang dia ambil, memarkirkan kendaraan tepat di muka rumah sang Dokter. Menunggu hingga pagi menjelang di depan pagar untuk meluruskan segala hal.Genesis memilih tidur sebentar di dalam mobilnya, alunan musik dari radio adalah temannya sepanjang malam.
Keesokan pagi,
Suzy berteriak dari halaman luar karena ada sebuah mobil menghalangi pintu pagar. Gadis ini sama sekali tak bisa keluar rumah. Dia kembali masuk ke dalam untuk menemui Mamanya.
“Mama, coba kau lihat dahulu siapa yang memarkirkan mobil di depan pintu rumah kita. Seenaknya saja, aku tak bisa keluar rumah,” gerutu Suzy Park dan kembali duduk di meja makan dengan wajah cemberut.
“Sebentar ya sayang, mama mau habiskan dulu sarapan.” Dokter Sintia masih menghabiskan oatmeal miliknya.
“Sebel deh, masa ngga tahu aturan parkir sembarangan. Aku mau print dululah tulisan di larang parkir depan pintu nanti laminating baru tempel depan pagar. Biar besok tak ada lagi yang seenaknya,” ujar Suzy Park.
“Kau ini, jangan terlalu pelit. Ayo kita ke depan,” ajak Dokter Sintia.
Kedua wanita ini segera ke depan dan memang benar mobil itu menutup pintu pagar, terpaksa mereka berteriak meminta bantuan tetangganya agar bisa membangunkan pengemudi di dalam mobil. Beberapa tetangga merespon dan nampak heran melihat pengemudi yang tetap tertidur lelap padahal mereka sudah mengetuk kaca mobil terus menerus.
“Dokter, dia ini masih hidup kan?” tanya salah satu tetangga.
“Masa seribut ini tak bangun juga, apakah dia sudah meninggal?” tanya yang lainnya.
__ADS_1
“Tak mungkin meninggal ini ada dengkurannya,” jawab salah satu ibu tetangga.
“Ambilkan speaker toa, kita pakai itu agar dia bangun,” ujar salah satu bapak-bapak.
“Menjauh, Ungke mau berteriak pakai toa!” seru salah satu tetangga.
Pria berkulit gelap itu mengambil ancang-ancang lalu berteriak kuat untuk membangunkan pengemudi. Untunglah usaha mereka tak sia-sia Genesis perlahan mulai bergerak dan bangun lalu memundurkan mobilnya sedikit ke belakang. Pria itupun keluar dan sang dokter terkejut melihat siapa pengemudi itu.
“Maafkan saya sudah membuat kalian sibuk, saya kelelahan sehingga tertidur di depan rumah Sintia,” kata Genesis.
“Oh kau kenalannya Dokter, ya sudah kami pergi. Lain kali parkir jangan di muka pintu masuk pagar,” kata Ungke.
Sintia mengamati Genesis, memang benar keadaannya sangat memprihatikan. Kemejanya ada beberapa bercak darah dan penampilannya awut-awutan.
“Kenapa kau datang? Mau apa?” tanya Sintia dengan ketus.
Tiba-tiba pria itu berlutut di depan kedua wanita itu lalu berucap “Sintia, maafkan aku. Tolong jangan hukum Awan atas kesalahan yang sudah ku perbuat.”
Suzy menutup mulutnya kini dia paham siapa pria di hadapannya, jadi dialah calon pamannya.
__ADS_1
“Tidak bisa! Aku tak mau berhubungan dengan keluarga kalian. Betapa murahnya harga nyawa seorang wanita, kau kejam,” hardik Sintia.
“Aku paham kalau salah, tetapi aku sama sekali tak tahu mengenai anak itu. Bukannya ingin membela diri hanya saja memang begitulah keadaannya,”kata Genesis.
“Jangan berbohong, Bebi sudah menitipkan surat melalui sekretarismu masa tak kau baca. Tidak masuk akal,” bentak Sintia.
“Sekretarisku?Benarkah sebentar aku akan bertanya,” kata Genesis lalu mengambil ponselnya di dalam mobil.
Pria itu menekan sejumlah nomor lalu meloud speakernya.
“Prita, aku tahu ingatanmu kuat. Sekarang katakan sejujurnya, apakah beberapa tahun lalu Bebi mantan kekasihku pernah menitipkan sebuah surat?” tanya Genesis.
“Benar ,Pak. Surat itu saya taruh di meja kerja bapak dan di ambil oleh Ibu Almira karena bapak sedang berada di toilet,” jawab Prita.
“Almira? Baiklah terimakasih,” ujar Genesis lalu mematikan teleponnya.
“Kau dengar, aku tak pernah membaca surat Bebi. Kalau aku tahu tak mungkin akan seperti ini, Almira adalah istriku. Baiklah aku akan mencari perhitungan padanya nanti. Sintia tolong beritahu aku dimana mahkam Bebi,”pinta Genesis dengan wajah memelas.
“Tunggu sebentar, jadi semua ini salah paham. Mama jangan mengeraskan hatimu, ayo Paman masuk kedalam. Aku akan mengobati luka-lukamu,” ujar Suzy lalu menarik tangan pria itu.
__ADS_1
Sintia masih kesal,namun dia berusaha sabar dulu dan mencerna kondisinya.