
Mengetahui gedung kantor telah di tutup, kaki tangan itu mulai kuatir. Segera dia ingin menyingkirkan bukti dengan membuang bungkusan serbuk itu ke salah satu pot bunga di lantai bawah.
"Sial! wanita lumpuh itu bergerak lebih cepat," umpatnya dalam hati.
"Maaf belum bisa pulang, sementara semua lembur dan akan di berikan uang penggantian beserta makan malam," ujar Sekuriti yang menjaga pintu keluar kepada karyawan yang nekat mau pulang.
Terpaksa mereka bertahan di dalam gedung, ada yang menyelesaikan pekerjaan, ada yang ngemil, ada yang mengobrol dan ada juga yang main game di smartphone milik mereka.
Dengan langkah gontai, sang pelaku berjalan menuju ruangan pantry sambil berpura-pura bergabung dengan teman-teman lainnya.
Dia bersikap seolah-olah tak bersalah dan memasang wajah lugunya kembali. Sebenarnya alasanya berbuat hal ini karena iri dan juga butuh uang. Iri pada kecantikan ambasador produk kecantikan itu.
"Eh tahu ngga, katanya wajah Suzy rusak berat loh. Kasihan ya, kok tega benar pelakunya," kata salah satu karyawan sambil mengobrol di pantry.
Memang ada meja makan kecil di sana, Karenina buat agar karyawan yang bawa bekal bisa makan dengan nyaman dan juga di sediakan berbagai minuman sachet dan daun teh. Kulkas mini juga ada di sana. Sebenarnya fasilitas perusahaan saat baik, karena itu jarang ada yang resign sejak dia dan Philip mulai bekerja di sana. Kakak beradik ini melakukan banyak kebijakan yang menguntungkan karyawan mereka.
Hal ini juga yang buat sang rubah makin panas dan semakin benci kedua keponakannya. Wanita tua itu tidak mau mereka mendapatkan banyak keuntungan juga dukungan dari banyak pihak.
"Keterlaluan banget yang mengerjai Suzy ya, padahal berkat dia produk MithaNina berkembang dan terjual banyak. Bukankah dengan demikian gaji dan bonus juga meningkat untuk kesejahteraan kita," sahut yang lainnya.
"Gila banget pelakunya. Aku kalau jadi Bu Karenina pasti seret ke kantor polisi tapi sebelumnya suruh dia pakai make up yang salah itu biar merasakan hal yang sama seperti Suzy," kata wanita bertubuh besar di sana.
"Aku juga jengkel, gara-gara ini tak bisa pulang on time. Kita lembar dengan sepatu saja saat pelakunya tertangkap," usul yang lainnya.
"Setuju."
__ADS_1
Tanpa mereka sadari pelakunya ada di sana juga, berpura-pura membuat kopi dan mengambil beberapa kue kering lalu keluar dari pantry dan memilih duduk di meja kerjanya.
"Sial para wanita tua barbar itu malah membicarakan hal buruk, tetapi celaka juga kalau kena lemparan sepatu," gumamnya dalam hati.
Sementara itu, Karenina telah berada di ruang CCTV mengamati setiap rekaman bersama Philip juga kepala sekuriti.
"Kurang asem sudah menjelang waktu siang memeriksa semua rekaman malah belum nemu titik terang," umpat Philip.
"Sabar, Kak. Kan ada banyak titik. Mau tak mau harus pantau satu persatu," kata Karenina.
"Pusatkan perhatian ke arah pintu ruang make up deh. Siapa tahu ada petunjuk di sana," usul Asisten Philip.
"Benar juga, bagaimana kalau kita bagi tugas mengawasi beberapa titik pada hari ini. Biar lebih cepat pemeriksaannya," saran kepala sekuriti.
Lokasi pengamatan pun dibagi ke beberapa file video dan mereka mulai mengamati masing-masing di depan layar monitor.
"Ketemu!" seru Asisten Philip yag bertugas melihat video di lokasi depan pintu keluar juga jendela dan tempat sampah.
"Apa yang kau dapatkan," selidik Philip sambil menetap ke Asistennya.
"Awasi karyawan wanita ini, lihatlah dia membuang sebuah bungkusan aneh di pot bunga dekat lift. Suruh salah satu anggota sekuriti mengambil mengunakan pinset atau sarung tangan plastik agar tidak kena efek buruk," kata sang asisten.
"Kenapa kau yakin dia pelakunya?" tanya Karenina penasaran.
"Lihatlah, dia memakai sarung tangan karet dan terlihat celingak-celinguk sebelum membuang bungkusan itu. Bukankah aneh bekerja memakai sarung tangan karet?" kata sang asisten.
__ADS_1
"Ternyata hobi baca komik detektif mu berguna juga," ujar Philip sambil menepuk kuat pundak asistennya.
"Bos, berikan saja bonus bukan pukulan sekeras ini."
Semua tertawa dan saat semua konsentrasi ke wanita itu, memang menemukan keganjilan dalam tingkah lakunya. Dia juga terlihat memasuki gudang kala jam istirahat makan siang.
Karenina mulai menghubungi polisi, lalu memberikan pengumuman pulang kepada semua karyawan lalu pihak keamanan perusahaan mencegat wanita itu agar tak pulang dan menyerahkan ke pihak berwajib.
Bungkusan itu memang barang bukti beserta make up yang bekas di pakai Suzy. Polisi memeriksa dan menemukan hasil yang cocok.
Namun di sayangkan wanita itu menutup rapat mulutnya dan mengakui kalau ini hanya inisiatif dirinya yang iri akan kecantikan Suzy.
Sekali lagi rubah tua itu berhasil mencuci tangan dan lolos tanpa pernah ketahuan kalau dialah dalang sebenarnya.
Bersambung...
********
emak promo yee, ini salah satu karya emak yang sudah tamat. Kalian bisa baca gratis di aplikasi Noveltoon atau mangatoon.
Yuk tinggalkan jejak berupa like, komentar positif, kirim kopi, bunga juga vote nya dongs.
Terimakasih
__ADS_1