
Di rumah sakit,
Karenina tengah menyuapi Philip bubur ayam buatan Bi Kinan. Tak lama terdengar ketukan di pintu dan masuklah Cecilia bersama suaminya.
"Hai Nina, Philip. Maaf karena kami batu bisa jenguk sekarang,"kata Cecilia.
"Tidak masalah, kalian kan juga berduka tentu sangat berat,"ujar Philip.
"Apa itu di tanganmu?" tanya Karenina saat melihat sebuah amplop.
"Oh ini ada surat dari Papa buat kalian berdua. Tadi kami di panggil pengacara dan di bacakan wasiat terakhir dari papa,"kata Cecilia sambil menyodorkan amplop itu.
"Paman Rendy seperti tahu saja akan pergi meninggal kalian dan sudah membuat wasiat,"ujar Philip.
"Mungkin saja dia punya firasat karena surat wasiat di tulis sehari sebelum dia meninggal,"kata Cecilia.
"Baca saja Den, surat dari paman kalian siapa tahu penting," ujar Bi Kinan.
"Oia aku akan bacakan ya, biar kalian semua dengar juga,"kata Philip.
__ADS_1
"Dear, Kedua keponakan dari pihak istriku. Maafkan aku akan semua kesalahan yang ku perbuat selama hidup. Untuk Karenina, keponakanku tercantik maaf sudah membuat trauma di hidupmu sebenarnya saat itu aku sedang berusaha menyelamatkanmu dan tidak ada cara lain lagi. Berusaha menodaimu bisa membuat kalian berdua pergi dan bebas dari cengkraman istriku. Bukannya aku mau membela diri hanya saja saat itu aku sudah mendengar kalau Anna mau membeli racun tak berbau dan tanpa rasa untuk membunuh kalian. Itulah yang membuat aku terpaksa melakukan perbuatan terkutuk itu, walaupun aku minum banyak tidak akan sampai mabuk. Terus terang ada satu lagi dosa yang ku lakukan dahulu bersama Anna yaitu membantu mencelakai orang tua kalian. Jadi kecelakaan dahulu ada sabotase Anna, dia menyuruh seorang pria melakukannya jadi rem blong dan akibatnya tabrakan terjadi. Maafkan aku untuk semuanya."
Philip terperangah dan Karenina langsung menangis begitu juga dengan Cecilia. Bi Kinan menenangkan sang majikan.
"Ternyata Ibuku sejahat itu, aku sama sekali tak menyangka,"kata Cecilia.
"Tante Anna sangatlah jahat sudah buat Papa dan Mamaku meninggal juga paman sopir," ujar Karenina sambil terisak.
"Aku sudah menduga cuma tidak menyangka kalau dia juga mau melenyapkan kami berdua dan menguasai seluruh harta sendirian," kata Philip.
"Bu Anna memang keterlaluan, kini dia merasakan semua karma yang dia perbuat," ujar Bi Kinan dengan geram.
"Maafkan orang tua ku," pinta Cecilia.
"Aku mengerti, sekarang kami akan pulang dan semoga suatu saat ketika kita berjumpa luka hati kalian sudah membaik,"ucap Cecilia.
Suaminya langsung memapah sang istri dan meninggalkan ruang rawat inap tersebut. Philip yang jengkel langsung melempar semua barang yang ada di sampingnya.
Pemuda ini sangatlah emosi karena justru orang dekat yang melakukan kejahatan sampai dia berpisah dengan adik bungsunya juga orang tuannya.
__ADS_1
Banyak luka yang mereka alami selama beberapa tahun lampau. Sakitnya masih terasa hinga sekarang.
"Kak tenanglah, kita jangan terbawa emosi. Ingat masih ada Mitha yang harus di cari," Kata Karenina berusaha mengalihkan perhatian sang Kakak.
"Benar, cepat hubungi detektif itu dan cati tahu sidah sejauh mana informasi yang di dapat berdasarkan foto dari Steven,"perintah Philip.
"Baiklah."
Bi Kinan keluar memanggil cleaning service memeberikan uang tambahan agar bantu bersihkan ruangan dan juga menganti beberapa barang yang pecah karena terbanting.
"Den, marah kok ke barang,"celetuk Bi Kinan.
"Maunya lempar Tante Anna, saya kini dia gila dan berada di rumah sakit jiwa. Tidak mungkin menganiyaya orang sakit mental," sahut Philip.
"Dia sudah mendapat hukuman, menjadi gila dan kehilangan segalanya sampai anakku meninggal,"ujar Bi Kinan.
"Cepat atau lambat segala perbuatan akan dapat hasilnya. Tabur tuai,"lirih Karenina.
"Sungguh ironis, dia mau bunuh kita berdua eh sekarang kedua anaknya meninggal bunuh diri,"sahut Philip.
__ADS_1
Visual Rendy Wirabrata.