Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Menunggu Delon


__ADS_3

Kasih menantikan kedatangan sang kakak dengan cemas, berulang kali melihat layar handphone juga jam di dinding kamarnya.


Delon tak juga datang, sudah menjelang maghrib dia segera memutuskan untuk mandi dan makan untuk persiapan berangkat syuting.


Seperti biasa Darren sudah memasak jadi tinggal memanaskan saja makanan. Kasih juga mengambil sebotol minuman soda rasa strawberry dari dalam kulkas.


Baru saja hendak memakan suapan pertama, terdengar bunyi pintu yang terbuka lalu masuk Delon dan segera ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama dia sudah berpakaian rapi dan harum mengambil piting dan makan bersama adiknya.


"Untung saja masih sempat, kau ada akan ku antarkan," ujar Delon.


"Bagaimana dengan penjual itu?" tanya Kasih.


"Cuma lecet, sudah ku beri biaya ganti gerobak dan uang berobat. Nanti tiga hari lagi aku akan ke rumahnya untuk cek kondisi," jawab Delon.


"Kau ini, lain kali tak usah angkat telepon kalau menyupir," kata Kasih.


"Sekarang bukan itu yanh kuatirkan, tetapi mpbil Bang Darren. Gimana nih sudah penyok," ujar Delon.


"Hah! Aku tak tahu, kau persiapkanlah hati untuk menghadapi abang," kata Kasih.


"Aku akan minta bantuan Davin ah,"ujar Delon.


"Bapak dan Ibu juga,"saran Kasih.


"Benar sekali, ayo buruan makan. Kita harus bekerja kan malam ini," kata Delon.


"Iya."

__ADS_1


Keduanya makan dengan cepat, Delon menyiapkan air mineral di tumbler juga beberapa cemilan untuk di bawa ke mobil. Kasih menyiapkan isi koper dengan pakaian ganti juga mengecek peralatan make up miliknya.


"Semua sudah selesai, ayo kita berangkat," ajak Delon.


"Mobilnya masih bisa di pake kan?" tanya Kasih.


"Masih, cuma bemper depan penyot," jawab Delon.


Kendaraan roda empat itu segera melajy kencang menembus gelapnya malam ke lokasi syuting film. Sementara itu anak buah Darren sudah mengatakan kepada sang Bos mengenai kecelakaan yang di alami Delon.


"Anak itu masih saja ceroboh,"ujar Darren dengan geram.


"Kamu awasi terus mereka, jaga adik-adikku," lanjut Darren memerintah ke anak buahnya.


"Baik, Bos."


"Uh aku kesal sekali dengan orang baru itu, apa bagusnya dia sampai dapat pujian terus dari sutradara," umpat salah satu artis senior.


"Wajahnya cantik, tentu saja daya pikat masih besar," sahut make up artis tersebut.


"Bisa jadi, sebentar aku mau menelepon wartawan langanan agar buat berita negatif tentang dia," kata artis senior itu.


"Kau memang pintar, iya jatuhkan saja imagenya," ujar sang penata rias.


"Tentu saja."


Para kru sedang istirahat mengubah lokasi tempat untuk syuting scane terakhir hari itu. Mengejar langit malam yang sudah akan terang.

__ADS_1


"Kasih, makanlah roti ini dulu," tawar Delon.


"Terima kasih, Kak."


Tiba-tiba ada salah satu staf yang jatuh dan teh gula panas yang dia bawa hampir mengenai Kasih untung saja ada salah satu kameraman memasang badannya agar Kasih tak terluka.


"Aww,"ringgis pria itu.


"Astaga maafkan aku," kata staf yang menumpahkan air dalam gelas.


"Obat luka bakar cepat, buka kaosmu," perintah Delon.


Punggungnya yang terkena siram air panas itu, Delon membantu mengoleskan salep dan Kasih memberikan botol air mineral.


"Terima kasih ya, aku berhutang padamu," kata Kasih.


"Sama-sama, kau bisa bayar hutang dengan kapan-kapan mentraktir aku makan malam," pinta pria itu.


"Baikkah, siapa namamu?" tanya Kasih.


"Boby."


Bersambung....



Visual Boby, sang kameramen penyelamat.

__ADS_1


__ADS_2