
Selesai makan siang, Kasih langsung menelpon sang kakak untuk menjemput. Awalnya Delon sengaja meninggalkan kedua saudara kembar ini agar mempunyai waktu bersama untuk saling mengobrol meskipun Nina belumlah tahu identitas Kasih sesungguhnya.
Sayangnya hal itu gagal karena kedatangan Steven dan sangat terlihat jelas kalau Nina lebih menyukai berbincang dengan pria perlente itu.
"Hallo Delon, kenapa lama sekali? jemput sekarang, malam nanti mau syuting kan," ujar Kasih melalui sambungan telepon.
"Adikku tercinta, terbaik tolong kali ini kau pulang bersama Karenina saja karena kakakmu ada sedikit masalah," kata Delon.
"Pulang sama Karenina? Memangnya kamu ada masalah apa?" tanya Kasih binggung.
"Tadi aku oleng dikit, mau angkat telepon masuk malah tak perhatikan di depan dan menabrak gerobak jualan yang hendak menyeberang jalan," jawab Delon dengan ragu-ragu.
"Apa! Bagaimana bisa? Terus kau di mana sekarang?" tanya Kasih mulai panik.
"Di rumah sakit," jawab Delon.
"Tunggu di sana, aku akan datang,"ujar Kasih yang bergegas membereskan isi tas dan hendak pergi, tetapi tangannya di tahan Nina.
"Aku harus segera pergi!" seru Kasih.
"Tunggu sebentar, Delon menelpon ke aku dan minta loud speaker," kata Karenina.
__ADS_1
"Kasih tenanglah kakak baik-baik saja. Penjualnya yang sedikit lecet dan tengah di obati. Kamu jangan datang kemari urusan akan panjang, pulang saja. Kakak bisa mengurusnya," ujar Delon.
Steven dan Karenina terdiam mendengar percakapan kakak beradik itu yang saling beradu argumentasi. Kasih ngotot mau menyusul sedangkan Delon melarang.
"Kasih, sudahlah kau harus bekerja lembur nanti malam. Pulang saja, Kak Delon pasti bisa menyelesaikan," ujar Karenina sambil mematikan sambungan telepon.
"Ta--tapi aku cemas," kata Kasih.
"Tenanglah, di mana alamatmu?" tanya Steven.
"Di jalan Kebun sayur no 39," jawab Kasih.
"Kita searah, akan ku antarkan pulang saja. Rumah Karenina di arah sebaliknya akan sulit kalau mengantarkan dirimu dan kembali pulang," kata Steven.
"Jangan pergilah bersama Steven biar lebih aman," kata Karenina memaksa.
"Ayo kita pulang,"ajak Steven sambil menarik tangan gadis itu.
"Aku duluan ya, Nina,"kata Kasih yang terpaksa mengikuti pria ini karena tangannya di pegang.
"Hati-hati ya," ujar Karenina sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Nina sendiri akan pulang bersama sopirnya yang menunggu di parkiran restoran tersebut. Memakai tongkat berjalan dia menuju kasit ternyata tagihan sudah di bayar Steven.
"Pria itu masih saja baik sama seperti dahulu," gumam Karenina.
Sementara itu dengan gentlemen. Steven membukakan pintu mobil agar Kasih bisa masuk. Dia mulai menyalakan mesin mobil dan berjalan. Sepanjang perjalanan pria itu hanya diam saja.
"Aku putar radio ya," kata Kasih.
Steven tak menjawab hanya menganggukan kepala dan kembali fokus menyupir. Ketika sampai di depan rumah, Kasih yang sudah membuka safety belt tak sengaja tanganya bersentuhan dengan Steven saat hendak mengambil tasnya.
"Maafkan aku," ujar Kasih.
"Tak masalah,"sahut Steven sambil tersenyum.
Tangan pria itu hendak memegang persneling malah jadi bersentuhan dengan sang gadis.
"Terima kasih sudah mengantarkan aku, sampai jumpa," kata Kasih.
"Sama-sama."
Mobil sport itu melesat menjauh meninggalkan debu di jalanan, Kasih masuk ke dalam rumah. Di dalam mobil Steven berujar "Kenapa jantungku terus berdebar?"
__ADS_1
Pria itu melihat sekilas ke belakang untuk mengecek keadaan sang gadis yang telah lenyap karena sudah masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
Bersambung...