Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Paket Mengejutkan


__ADS_3

Keesokan pagi,


Kediaman keluarga Ariwijaya,


“Bibi, kenapa Suzy menanyakan nomor telepon Steven ya tadi malam, apakah mereka tengah menjalin hubungan?” tanya Nina sambil sarapan bersama Bi Kinan.


“Non, kalau mereka ada hubungan untuk apa Nona Suzy menanyakan nomor teleponnya ke orang lain. Mungkin saja sedang ada urusan penting.”


“Mungkin saja, tetapi aku rasa Steven pasti menyukai tipe wanita seperti Suzy. Dia cantik dan juga dari keluarga terpandang,” ujar Karenina.


“Sudahlah Non, jangan di pikirkan bukankah kau juga tengah menjalin hubungan dengan Dokter Sonny,” ledek Bibi.


“Ah Bibi, kami hanya berteman saja. Tidak mungkin dia mau dengan ku yang cacat, belum lagi gangguan psikologi yang pernah ku alami. Setahuku keluarga Sonny semuanya ahli di bidang kesehatan beda dengan profesiku yang seorang pengusaha kosmetik,” papar Karenina.


“Namanya jodoh Non, sioapa yang tahu,” kata Bi Kinan.


“Siapa yang berjodoh?” tanya Philip yang baru saja datang untuk sarapan bersama.


“Bibi tuh mau cari suami,” kelekar Karenina.


“Hah? Bibi yakin mau menikah lagi di usia sekarang?” tanya Philip  yang percaya candaan adiknya.


“Tidaklah Den, Non Nina hanya bercanda saja itu,” kata Bi Kinan.


“Oh kupikir beneran. Sebentar lagi peringatan ulang tahun perusahaan. Seandainya saja kita bisa menemukan Chellomitha,sayangnya para detektif swasta malah kewalahan menemukan informasi,” ujar Philip.


“Sabar Den, teruslah berusaha Bibi yakin kalian bertiga pasti akan berkumpul bersama,” kata Bi Kinan.


“Makasih,Bi.”


Ting tong... Bel berbunyi


“Siapa yang bertamu pagi-pagi ya?” tanya Karenina.


“Bibi cek dulu ya,” kata Bi Kinan.


Dia segera menuju pintu keluar dan melihat ada seorang kurir tampan tengah mengantarkan sebuah kotak. Katanya ada hadiah buat Ariwijaya bersaudara. Bibi tanda tangan dan membawa masuk benda itu. Sebuah bungkusan kado dengan motif beruang menghiasinya.


“Apa itu,Bi?” tanya Philip.

__ADS_1


“Ada kurir yang antar. Kata buat kalian berdua.”


“Kamu pesan barang?” tanya Karenina.


“Tidak, coba taruh di lantai . Akan ku buka,” kata Philip lalu berjalan mendekati kotak tersebut dan mengambil cutter dari laci. Ketika terbuka isinya hanyalah sebuah amplop coklat. Philip membukanya dan membaca lalu tersenyum.


“Terima kasih Tuhan, entah siapa yang membantu kita. Kini saatnya menggulingkan Tante Anna,” kata Philip.


“Apa sih isinya?” tanya Nina.


Philip menyerahkan dokumen itu ke adiknya, tentu saja sang wanita tersenyum


“ Eksekusi sekarang saja dan kumpulkan buktinya. Kita buat dia undur dari jabatran sebelum perayaan ulang tahun peruisahaan di lakukan agar bisa menjadikanmu pemimpin,” lanjut Karenina.


“Benar aku akan perintahkan asistenku mengumpulkan secara diam, agar tidak di ketahui antek-antek rubah licik itu,” kata Philip.


“Aku juga akan membantumu.”


“Akhirnya Bapak dan Ibu kalian bisa tenang. Selanjutnya kita tinggal menemukan si bungsu,” kata Bi Kinan.


“Benar,Bi,”ujar Philip


“Bibi akan temani, kau pasti sungkan ya kalau hanya berdua saja,” goda Bi Kinan.


“Ih apaan sih Bibi, berhentilah menggodaku.”


Semua tertawa dan kembali melanjutkan sarapan.


Sementara itu di rumah sakit,


“Makasih ya Steven sudah membantu menjaga Kasih,” ujar Delon sambil menyalami pemuda itu.


“Ini uang pergantian buat biaya rumah sakit,” kata Darren sambil memberikan kartu member ekslusif selama satu tahun di club miliknya.


“Tidak usah, saya ikhlas,” tolak Steven.


“Ambilah ,anggap saja hadiah,” ujar Davin.


“Kan Cuma kartu member, ambil saja Steve siapa tahu kalau mau jamu tamu. Silakan ke sana,” kata Kasih.

__ADS_1


“Baiklah, makasih banyak,” ucap Steven.


“Oia kalian semua ini kakaknya Kasih? Pasti rumah kalian ramai ya, kalau aku hanya anak tunggal jadi selalu kesepian jika di rumah,” kata Steven.


“Benar kami berempat bersaudara, kalau masih kecil ya berisik karena sering bertengkar rebutan mainan juga cemilan,” ujar Davin.


“Apa kau tahu, dia tidak pernah main boneka malah meminjam robot milik kami bahkan bermain balapan sepeda keliling kampung,” kata Delon.


“Wah pasti menarik, kalau aku hanya diam di rumah saja dan di akhir pekan pergi ke playground di mall atau jalan ke luar negri bersama orang tua. Ingin rasanya bisa naik sepeda keliling pedesaan” ujar Steven.


“Kau tak bisa naik sepeda?” tanya Delon.


“Tidak bisa, dulu Oma ku tidak membolehkan takut terluka jika jatuh,” jawab Steven.


“Nanti kapan-kapan kita main sepeda bareng ya, kau bisa datang ke Desa Flamboyan,” ajak Davin.


Darren menyikut lengan adiknya karena keceplosan menyebutkan asal daerah mereka.


“Desa Flamboyan? Namanya seperti tanaman ya,” celetuk Steven.


“Begitulah,” kata Davin sambil menggaruk kepalanya akibat keceplosan.


“Karena kakakmu sudah ada semua, aku pamit pulang ya. Sampai jumpa,” ujar Steven.


“Makasih ya Steve,” kata Kasih.


Pemuda itu meninggalkan ruangan dan malah berpapasan dengan Bi kinan juga Karenina di parkiran.


“Loh Steven, untuk apa ada di rumah sakit?” tanya Karenina.


“Jenguk Kasih, dia sakit,” jawab Steven singkat.


“Kamar nomor berapa, nanti habis terapi aku akan menenggoknya juga,” kata Karenina.


“Kelas satu, kamar Matahari nomor 23.”


“Ok, sampai jumpa lagi Steven.”


“Bye.”

__ADS_1


Steven buru-buru meninggalkan parkiran karena dia ingin bisa segera pulang mandi dan beristirahat.


__ADS_2