
Pesona Sang Diva
Malam itu sesusai makan malam, Awan ingin mengantarkan Sintia pulang, namum wanita itu menolaknya. Tak ada maksud lain hanya saja demi menghemat waktu ada baiknya dia pulang bersama sang puteri, Suzy yang membawa mobil.
“Sudahlah ada Suzy juga, biar kami pulang berdua saja,” tolak Sintia.
“Awan biarkan saja,kau juga harus mempersiapkan diri mengurus suat kepindahanmu besok,” kata Oma Gina.
“Anak muda zaman sekarang begitu bersemangat, padahal sudah hampir seharian bersama masih juga tak merasa cukup,” ledek Opa Heru.
“Papa seperti tak pernah muda saja,” gerutu Awan.
“Jangan bertingkah kekanak-kanakan kalau kau terlalu posesif nanti Sintia akan kabur,” ujar Oma Gina.
“Benar sekali, bersyukur dia setuju menikah denganmu,” lanjut Opa Heru.
“Mami, Papi tidak membelaku. Aku sangatlah dewasa, benarkan Sintia,” ujar Awan.
Wanita itu hanya tertawa, sudah lama sekali tidak melihat suasana keakraban seperti ini.
“Iya kamu dewasa, bapak , Ibu kami pamit pulang,” kata Sintia.
“Panggil Papi dan Mami kalau tidak kalian tidak bisa pulang,” ancam Oma Gina.
“Ehemm baiklah, Papi Mami Sintia pamit dulu ya. Nanti pasti main kesini lagi,” kata Sintia.
__ADS_1
“Baiklah, Suzy jangan ngebut. Bawa kendaraan dengan hati-hati,”pesan Oma Gina.
“Siap, bye Oma dan Opa,” kata Suzy melambaikan tangan.
Awan sendiri nampak mendekat dan mencium kening Sintia, lelaki itu memang bertubuh jangkung jadi sang dokter cantik malah terlihat imut di sampingnya.
“Selamat jalan, sampai di rumah jangan lupa telepon aku ya,” ujar Awan.
“Baik.”
Keduanya masuk kedalam mobil dan kemusian melesat meninggalkan rumah mewah itu.
“Mama , aku tak menyangka kalau berondongmu adalah anak orang kaya. Padahal style nya biasa saja , memang sih sepatu dan jam tangannya mahal , tetapi vespa butut dan kebiasaannya makan di kaki lima membuat orang mengira dia anak miskin,” papar Suzy.
“Dia lelaki yang langkah dan di luar ekspektasi. Bagus uga kalau ada dia jadi pria tua itu tak akan lagi mengganguku, nanti setelah kalian menikah aku akan memanggilnya Papa Awan,” ujar Suzy.
“Terserah padamu ,Nak. Angan berkata demikian bagaimanapun pria tua itu adalah ayahmu,” kata Sintia.
“Ayah yang kabur dan tak menikahimu, huftt malas sekali,” gerutu Suzy.
Sintia memilih diam, dia tak mau merusak suasana dengan bertengkar lagi akibat kekasih lamanya itu.
“Sudahlah kita jangan bahas lagi, Mama sangat lelah. Ayo cepat pulang dan beristirahat,” kata Sintia.
******
__ADS_1
Di sebuah rumah dengan model kuno, nampak seorang wanita tua tengah berbincang dengan seorang pria yang tampak misterius dengan setelan serba hitam.
“Kau sudah dapatkan buktinya?”
“Silakan anda cek sendiri,” kata sang pria sambil memberikan sebuah amplop cokelat besar.
Ternyata dia adalah seorang detektif yang menyelidiki mengenai kasus kematian sang anak memang benar terjadi bunuh diri tetapi yang menjadi penyebab utamanya adalah janin di kandungan sang putri.
Ternyata Ibu tirinya telah menjual anaknya Padahal dia tahu kalau anak itu sudah memiliki kekasih. Hal ini tentu saja membuat geram hati sang ibu kandung. Pikirannya mulai merencanakan rencana untuk menghancurkan istri kedua suami nya juga lelaki yang telah membuat putrinya hamil.
“ Kurang ajar Wanita itu sudah merebut suamiku masih berani mengambil nyawa anakku. Lihat saja aku akan buat hidupnya menderita,” katanya dengan geram.
“Nyonya sebaiknya anda berhati-hati yang aku tahu pria itu memiliki banyak uang sehingga perlindungannya cukup kuat,” ujar sang detektif.
“Terima kasih atas perhatianmu, tetapi aku tetap akan menuntut darah anakku kepada pria itu tak peduli seberapa kuat bekingan dibelakangnya. Dia telah merusak masa depan anakku maka tak ada lagi masa depan buat dirinya,” kata wanita itu dengan penuh amarah.
Bersambung....
******
Yuhuuu emak mau promo iklan dulu nih, ayo mampir baca ke cerita di bawah ini, di jamin pasti seru deh.
Terlihat jelas kebencian di wajah wanita tua itu banyak rasa sakit yang sudah dipendam selama ini, sisa hidupnya hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.
__ADS_1