
Seorang wanita tengah menelepon melalui sambungan telepon di ruang kantornya. Memakai blazer berwarna merah maroon dan high heel hita membuat tampilannya makin menawan.
"Ingat untuk lakukan tugasmu, sama seperti dua puluh tahun lalu. Buatlah seolah-olah ini kecelakaan, uang DP sudah ku kirimkan ke nomor rekening mu. Ingat aku mau dia meninggalkan dunia ini," kata Anna.
"Siap, Bos. Senang bekerja sama dengan anda, dulu aku memang yang menangani. Kali ini giliran anak buahku, tubuhku sudah menua tak bisa jalankan tugas lagi."
"Terserah! Yang penting rencana kita harus tetap di jalankan dan kirimlah dia kembali kepada kedua orang tuanya. "
"Tentu saja, anak buahku sangatlah terampil. Kau tinggal tunggu saja kabarnya."
"Bagus, sampai jumpa."
Senyum merekah di bibirnya, terbayang sudah kalau saingan akan berkurang satu. Kali ini musuhnya akan habis dan tak bisa bangun lagi.
Tak lama terdengar suara ribut di luar padahal ini sudah mendekati jam pulang kantor. Dengan kesal dia ke depan dan membuka pintu.
Wajah wanita licik itu berubah kala melihat petugas berseragam ada di sana dan tampak Asisten Philip bersamanya.
__ADS_1
"Ibu Anna, kami harus menangkap anda. Ini suratnya, tolong suportif dan ikut kami," kata salah satu petugas kepolisian.
"Apa salahku?" Anna tampak tenang sekali.
"Penggelapan dana perusahaan, silakan ikut kami dan di kantor akan di jelaskan."
"Tunggu saya telepon pengacara," pinta Anna.
Sayang sekali sambungnya teleponnya tak di angkat oleh pengacara. Wanita licik itu segera mengirim pesan singkat anak lelakinya agar datang membantu ke kantor polisi.
"Baik, ayo berangkat," kata Anna dam menaruh handphone ke dalam tas.
Di depan perusahaan terlihat beberapa wartawan sudah berkumpul. Rupanya kabar penggelapan PT. KCP yang dilakukan sang direktur, tentu saja menarik minat para kuli tinta.
"Bu Anna, benarkah semua tuduhan?" tanya Wartawan berkemeja kotak nerusah mendekati.
"Bu Anna, sudah berapa lama anda menipu bahkan bergaya bak sosialita. Kenyataan pasti memakai uang perusahaan," celetuk wartawan wanita.
__ADS_1
"Bu Anna, kenapa tidak mau berikan pembelaan? apakah itu artinya anda benar bersalah?"
Banyak sekali pertanyaan yang di ajukan para pencari berita, Namun tak satupun yang di jawab. Mereka memilih masuk ke dalm mobil dan e segera pergi.
Philip yang mengawasi melalui CCTV nampak senang dan Karenina juga menyaksikan dari rumah. Memantau keadaan kantor. Semua orang kager kali ini, tak mengira jika wanita kejam itu memakai dana untuk perusahaan.
Para pemegang saham meminta rapat besok untuk bahasal masalah ini. Beberapa orang yang sudah tahu dari awal karena almarhumah Connie mengirim juga ke email mereka juga inginkan perubahan posisi di perusahaan.
Philip tersenyum puas melihat wanita itu akan segera aauk ke dalam jeruji besi. Dia menyuruh sekretaris Anna agar memberikan laporan pekerjaan yang di lakukan sang rubah.
Di tempat lain,
Enno, tunangan dari Chandra mendadak menghilang. Membuat sang pembalap sedikit resah mencarinya. Cuma sepucuk surat yang fi tinggalkan sang gadis.
"Maafkan aku yang tidak sanggup untuk terus bertahan dengan dirimu yang begitu cepat menyukai wanita lain. Aku akan pergi dan membawa sedikit hadiah kenangan akan hubungan kita bertahun-tahun ini. Jangan rindukan aku dan sekarang kau bebas bersenang-senang."
Chandra berteriak keras usai membaca surat itu. Hadiah yang di maksud mantan tunangannya itu adalah showroom milik Chandra. Jutaan rupiah yang harusnya milik dia malah berpindah ke sang wanita.
__ADS_1
"Dasar Enno sialan, cewek matre! Aku bodoh sekali bisa-bisa membubuhkan tanda tangan di surat itu. Lihat saja kau, kalau ketemu tak akan ku ampuni," teriak Chandra di dalam apartemen miliknya.