Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Ambil Saja Darahku!


__ADS_3

“Non Nina, ada apa?” tanya Bi Kinan sambil membawakan tissue dan segelas air mineral.


“Kak Philip.”


“Kenapa dengan Den Philip? Non minumlah dulu baru bicara lagi,” Kata Bi Kinan.


Nina minum lalu dia berujar “Kak Philip kecelakaan ,Bi.”


Tangis kembali pecah dari gadis itu, kecelakaan memang momok menakutkan bagi dia. Meskipun kala itu usianya masih bayi dan tidak bisa mengenang kejadian masa lalu,tetapi kejadian naas di jalan itulah yang membuat dia kehilangan kedua orangtua dan adik kembarnya. Kini malah sang kakak yang mengalami hal sama.


“Di rumah sakit mana? Ayo kita ke sana,” ajak Bi Kinan.


“Ada di sms sama penelpon nama rumah sakitnya,” ujar Karenina.


“Non, ayolah kita bergerak. Den Philip pasti membutuhkan kita. Bawa semua yang di perlukan ke tas milik Non Nina, Bibi akan suruh sopir bersiap,” kata Bi Kinan.


“Baiklah, bibi benar. Aku ke atas dulu ambil tas dan kita langsung pergi,” kata Nina sambil mengambil tongkatnya lalu naik tangga menuju kamarnya.


Gadis itu bergerak cepat dan langsung kembali ke bawah dengan terburu-buru. Bi Kinan sudah berada di dalam mobil dan begitu Nina masuk kendaraan beroda empat itu langsung meluncur dengan cepat menuju rumah sakit.


Sementara itu di salah satu ruangan rawat inap,


Darren, Davin juga Delon tengah merapikan barang bawaan karena Kasih akan pulang hari ini dan juga menggurus administrasi. Beberapa kue basah dan cemilan yang masih tersisa di bagikan kepada perawat yang bertugas.


“Kalian sih belanja makanan ringan banyak sekali, sudah tahu Cuma sebentar saja di sini,” kata Kasih.


“Delon nih yang rakus, saat ke mini market malah ambil belanjaan barang,” sahut Davin.


“Kasih ada telepon dari Ibu dan Bapak,” ujar Darren sambil memberikan handphone miliknya.


Kasih mengambil lalu mulai berbicara dengan kedua orang tuanya.


“Hallo Bapak, Ibu bagaimana liburan kalian?Pasti asyik kan, aku juga akan ke Jepang dalam beberapa minggu ke depan usai syuting di sini. Ada tawaran main iklan di sana,” kata Kasih.


“Bagus dong sayang, berarti karirmu sudah semakin berkembang. Ini baru putri kami,” ujar Bu Kalina.

__ADS_1


“Ah Ibu bisa saja, jangan lupa bawakan aku cokelat ya,” pinta Kasih.


“Kamu ini nduk, masa ingatnya cokelat. Ngga kangen sama Bapak kah?” tanya Pak Budi.


“Kangen juga lah, oia Bapak dan Ibu sebentar lagi akan punya anak mantu ya. Tuh kak Delon sudah melamar Kak Suzy,” ujar Kasih memberitahu,tetapi dia tak bisa berkata lagi karena Delon menutup mulutnya.


Davin langsung merampas telepon dan men loud speaker.


“Delon bagus sekali semangatmu, memang boleh pacaran tapi bagaimana dengan kedua abangmu belum ada yang menikah. Kamu mau langkahi?” Tanya pak Budi.


“Eh anu, eh ini , aduh giman nih? Tanya Delon sambil melihat ke arah sang kakak sulung.


“Sini handphonenya,” kata Darren.


“Tetap loud speaker ya,” ujar Davin sambil menyerahkan ke sang abang.


“Aku dan Davin tidak maslah kok kalau kedua adik kami mau menikah duluan karena memang kami belum menemukan wanita yang tepat. Biarkan saja Pak kalau Delon mau menikah dari pada terjadi dosa. Delon akan buka usaha manajemen artis dan jika modalnya bisa balik dalam setahun maka mereka akan menikah tahun depan,” papar Darren menjelaskan situasinya.


“Oh bagus kalau dia mau berusaha, jangan andalkan gaji sebagai manager Kasih. Mau di beri makan apa anak orang? Apalagi Suzy itu dari kalangan berada beda jauh dengan kita,” kata Pak Budi.


“Bertanggung jawab intinya, jangan buat malu keluargamu dengan jadi suami yang tidak bisa di andalkan. Sekarang banyaklah menabung, biaya pernikahan pasti besar,” kata Bu Kalina menambahkan.


“Iya Bu,” ucap Delon.


“Sudah dulu Bapak Ibu nanti kita lanjutkan di rumah karena sekarang Kasih akan pulang ke rumah,” kata Darren.


“Baiklah, jaga adik-adikmu dengan baik,” pesan Bu Kalina.


“Tentu saja, kalian berdua  jangan kuatir dan nikmatilah liburan ini. Sampai jumpa,” ujar Darren.


Sambungan telepon di matikan dan Delon langsung mencubit sang adik.


“Sakit tau, “ ujar Kasih lalu melemparkan bantal ke sang kakak.


“Mulutmu itu suka sekali mengadu,” kata Delon.

__ADS_1


“Biarin siapa suruh bukannya jaga aku malah mesra-mesraan di sini,” ujar Kasih.


“Jiaa dia cemburu rupanya,” ledek Delon.


Kasih hanya menjulurkan lidahnya.


“Sudah ayo kita pulang,” ajak Darren sambil membawa koper milik Kasih sedangkan davin membagikan sisa cemilan ke para perawat.


Saat di keluar ruangan, mereka malah berpapasan dengan Karenina yang nampak kalut. Matanya sangat merah dan dengan tergesa-gesa dia melewati Kasih dan para kakak tanpa menegur.


“Bang ada yang tidak beres deh, coba kita ikuti mereka,” pinta Kasih.


“Baiklah, Davin Delon ayo kita lihat keadaan mereka dahulu,”kata Darren.


Mereka berempat segera mengikuti Karenina dan Bi Kinan dari belakang. Ternyata sampai di ruangan operasi. Salah satu suster keluar danbertanya “Siapa keluarga Philip Ariwijaya?”


“Kami,” sahut Karenina.


“Begini, pasien terluka cukup parah dan segera membutuhkan darah golongan AB. Apakah bisa ada yang mendonorkan,” kata Suster.


“Saya.” Sahut Karenina dan Kasih serempak.


Bi Kinan sampai menoleh ke belakang dan agak kaget melihat mereka di sana.


“Kamu mau sumbangkan darah ke Kak Philip, benarkah?” tanya Karenina.


“Iya.”


“Baiklah, kalian berdua ikut saya. Kita test dahulu kecocokan,” kata sang Suster.


“Kasih , jangan deh. Kamu baru sembuh,” cegah Davin.


“Tolong Kak biarkan aku berikan darah kali ini. Setelah ini aku akan beristirahat,” kata Kasih.


“Biarkan saja,” ujar Darren.

__ADS_1


Kasih dan Karenina berjalan bersama mengikuti suster agar bisa mendonorkan darah mereka.


__ADS_2