Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

Kasih terus makan sambil melihat album foto milik sang sopir yang di kirimkan kepada Dokter Sintia, ada beberapa kenangan kala orangtuannya


dan sang sopir jalan bersama, ke berbagai tempat rekreasi atau sekedar makan malam bersama. Terlihat kalau kedua orangtuanya sangat baik kepada pegawai mereka ikut makan bersama di meja makan saat berada di luar rumah.


“Jadi pria ini adalah kakak kandung Bu Dokter?” tanya Kasih.


“Benar, namanya Silas Utomo. Kakakku adalah orang paling berjasa dalam hidupku, dia mengorbankan masa depannya demi membiayai kuliah adiknya agar menjadi dokter sesuai cita-citaku. Ibuku Meninggal kala melahirkanku dan saat usiaku 10 tahun gantian Ayahku yang di panggil Yang Maha Kuasa. Kak Silas yang membesarkanku dan bekerja serabutan sebelum menjadi sopir di keluargamu,” jawab Dokter Sintia menjelaskan.


“Mamaku tak ikhlas kalau paman meninggal akibat di bunuh seseorang,” ujar Suzy menambahkan.


“Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Darren.


“Kasih harus menemui keluarganya kah?” tanya Delon.


“Jangan sepertinya berbahaya, sebaiknya Kasih jangan umumkan identitasnya,” celetuk Davin.


“Benar, Kami tak ingin putri kami celaka. Kalau keadaan keluarganya sepelik itu,lebih baik dia. tetap menjadi Kasih anak kami,” kata Pak


Budi.

__ADS_1


“Semua terserah kasih, kalau saya pribadi sebaiknya memang menunda untuk mengumumkan identiasnya. Sekarang dia aman karena wajahnya sudah berubah, semua terserah padamu,Nak,” ujar Dokter Sintia.


“Aku belum mau membuka diri. Memang ingin balas dendam kalau memang benar rubah tua itu pelakunya,namun aku juga ingin mendekati saudaraku secara diam-diam dahulu untuk tahu kondisi sebenarnya,” ungkap Kasih.


“Begini saja, aku dan Davin akan menghadiri pesta ulangtahun Connie, anak bungsunya Anna. Nanti di sana kita bisa menyelidiki lebih lanjut dan berpikir mau buat apa, bagaimana?” usul Suzy.


“Benar, Davin ikut saja untk melihat kondisi kedua saudara Kasih. Ku pikir pasti mereka datang, kan Connie termasuk sepupu keluarga


Ariwijaya,” pungkas Dokter Sintia.


“Pesta? Aku tak bawa pakaian?Delon saja lah,” kata Davin menolak, dia tahun adiknya pasti mau pergi model cantik itu.


“Tidak bisa, tubuh Delon cempreng. Aku tak mau di ejek teman-temanku, sebenarnya lebih ingin jalan dengan Darren, sayangnya dia masih


Delon terperangah, memang benar tubuhnya tidak seatletis kedua kakaknya. Pemuda itupun bertekad membentuk tubuhnya agar sang pujaan hati meliriknya.


“Masalah pakaian bisa pinjam di butik langanan kami, bersiaplah akhir pekan akan ke pesta itu,”kata Dokter Sintia.


“Pergilah, Bang. Bantu adikmu melihat keadaan keluarganya juga kondisi musuh,” perintah Bu Kalina.

__ADS_1


“Baiklah, kau jemput aku. Kita ke salon dan ke butik sebelum acara agar aku tidak mempermalukan adikku juga keluarga Dokter,” kata Davin mengalah.


“Bagus, kalau di tanya bilang saja kau teman masa kecilku,” ujar Suzy sambil tersenyum.


“Lah aku Cuma dari desa ,masa teman masa kecilmu. Tak masuk akal, begini saja bilang kalau mama kita berdua adalah sahabat dari kecil,” usul


Davin.


“Itu benar, kalau teman masa kecilmu harus orang Korea. Kamu kan lahir di sana,” kata Dokter Sintia kepada sang putri.


“Baiklah, alasan itu saja agar terlihat masuk akal,” ujar Suzy.


“Bagus, kamu bisa baca beberapa majalah bisnis ini. Ada profil perusahaan, keluargamu, saudaramu juga tentang Anna, wanita licik itu,”


kata Dokter Sintia dan menaruh sebuah plastik hitam di kursi sebelah tempat tidur Kasih.


“Terimakasih Dokter,” ujar Kasih.


“Baiklah kami permisi dulu. Terimakasih untuk makan malamnya.Sekarang fokus saja di pemulihanmu dulu,” pesan Sang Dokter.

__ADS_1


“Iya.”


Kemudian kedua ibu dan anak itupun meninggalkan ruangan rawat inap.


__ADS_2