Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Rekonsiliasi


__ADS_3

Awan tidaklah sebaik sang kakak. Pekerjaan menjadi pengalihan perhatiannya, dia sampai telat makan dan hanya terus bekerja. Sudah tiga hari semenjak kejadian itu dan belum ada kabar sama sekali dari Sintia. Hati pemuda ini hancur, di bagian bawah kelopak matanya terlihat garis hitam menandakan keadaanya yang buruk dan terus begadang.


Sore ini dia pun tumbang, mengakibatkan harus di rawat inap di rumah sakit. Kabar ini sampai ke telinga Sintia karena Genesis yang menyampaikan kepada sang keponakan. Sayangnya sang model iseng dan hanya menyampaikan setengah dari kebenaran berita sehingga mamanya kalang kabut.


 “Mama, celaka Papi Awan di rawat di rumah sakit,” teriak Suzy saat memasuki rumah.


“Rumah sakit? Jangan bercanda,” celetuk Sintia yang masih juga nampak tak percaya.


“Serius lihatlah, ini sms dari Paman Genesis tentang ruang rawat inap adiknya,” kata Suzy sambil memperlihatkan isi chat miliknya dengan kakak sulung calon papanya.


“Tak mungkin, kalian berdua jangan sampai membodohiku,” ancam Sintia sambil memandang lekat sang putri.


 “Untuk apa aku berbohong padamu Mama. Pergilah dan pastikan sendiri,’ kata Suzy.


“Baiklah Mama akan segera kesana, Kamu sms nomor kamarnya,” ujar Sintia lalu mengambil tas dan kunci mobilnya lalu pergi.


Melihat reaksi mamanya sudah di pastikan masih ada rasa cinta di antara keduanya. Suzy tertawa senang karena misinya mempersatukan mereka bisa berhasil. Mobil di pacu dengan cepat dan sang Dokter langsung masuk ke ruang rawat inap milik Awan seperti yang sudah di sms oleh putrinya.


Di dalam ruangan Suster tengah menarik selimut untuk menutupi tubuh pasien, Awan sendiri tertidur efek samping dari obat. Melihat sikap ambigu itu, Sintia malah menarik kesimpulan kalau calon suaminya


meninggal lalu segera ke tepi ranjang Awan dan menangisinya.

__ADS_1


“Awan maafkan aku,jangan tinggalkan aku,”kata Sintia.


“Ada apa ini?” tanya Oma Gina.


“Entahlah ,Bu. Wanita ini masuk dan langsung bersikap seperti ini,”jawab sang suster yang terlihat binggung.


“Sintia kenapa kau menangis,” tanya Oma Gina yang baru saja datang sambil membawa bungkusan berisi roti dan beberapa cemilan.


“A—awan Bu, sudah meninggal,” jawab sang calon menantu.


“Apa!”seru Oma Gina.


“Maaf Bu, sepertinya anda salah paham. Pasien ini hanya tertidur efek pengobatan.” Kata sang Suster.


“Awan baik-baik saja, tidak ada yang meninggal,” pungkas Oma Gina.


“Tadi kulihat dia mau menutup dengan selimut,” kata Sintia.


“Oh itu hanya memperbaiki letak selimut pasien, saya habis mengecek kondisi infus dan mengantarkan cemilan sore,” ujar sang Suster menjelaskan.


“Maaf, sepertinya aku sudah salah sangka,” ucap Sintia malu.

__ADS_1


“Kau ini ada-ada saja, oia Suster terimakasih,” kata Oma Gina.


“Sama-sama.” Wanita berpakaian serba putih itu segera meninggalkan ruangan dan kembali bertugas.


“Maafkan aku,Bu.”


“Sudahlah tidak masalah, terimakasih kau mau datang.”


“I—iya.”


“Ayo kemarilah, kita berbincang sebentar.”


Sintia mengikuti sang calon mertua sampai ke sofa yang memang tersedia di dalam ruangan. Wanita paruh baya itu nampak ramah.


“Nak, saya sebagai orangtua Genesis meminta maaf akan kesalahan dan kebodohan anak sulungku. Tolong jangan di batalkan pernikahan, Awan terguncang sampai sakit begini,” pinta Oma Gina.


“Aku paham, Bu. Suruh anak ibu segera pulih dan kita tetap akan laksanakan acara. Genesis sudah datang ke rumah dan menjelaskan semua. Sepertinya masalah ini hanya karena salah paham dan saya mengerti juga memaafkan,”papar Sintia menjelaskan.


“Syukurlah, terimakasih.” Oma Gina langsung memeluk sang calon menantu dengan erat. Tangis kebahagiaan ada dalam moment tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


Visual Tokoh.. mau kepoin videonya bisa cek ke medsos emak ya FB (Bejo Nezha) IG, tik tok (CatatanNezha). Terimakasih kalian masih mau menunggu dan membaca karya ini. #PesonaSangDiva


__ADS_2