Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Kasih di Lokasi Syuting


__ADS_3

Tempat syuting,


“Bagus sekali Kasih, aktingmu sangat hebat. Tak heran sutradara luar negri mau memakaimu ikut serta dalam produksi film mereka,” puji Sutradara sambil bertepuk tangan.


“Saya masih perlu banyak belajar, semua ini karena bimbingan dari bapak,” kata Kasih bersikap rendah hati.


“Kamu memang hebat, semoga film ini bisa di terima dengan baik oleh masyarakat,” kata kru film lainnya.


“Ayo istirahat dahulu,” kata Asisten sutradara.


Kasih segera menuju mobilnya di sana sudah tersedia kursi dan meja kecil yang di bawa Delon ke lokasi syuting. Beberapa cemilan, makanan dari kru film dan juga beberapa minuman dingin yang ada di dalam cool box di


dalam mobil.


“Adikku memang hebat, makanlah dan ini ada kiriman klapetart dari Oma Gina,” kata Delon.


“Wah asyik, Oma memang yang terbaik. Aku suka sekali kue khas kota Manado ini. Makan ini dulu deh baru nasi,” ujar Kasih kegirangan.


“Pelan-pelan tak ada yang mau mengambilnya, aku juga sudah dapat satu,” pungkas Delon sambil geleng kepala lihat tingkah adik perempuannya yang masih seperti anak kecil.


“Hai cantik, sini aku lap,” ujar Chandra yang datang dan langsung mengelap bekas klapetart di sudut bibir Kasih.


“Woy siapa kamu , datang tiba-tiba dan sentuh adikku,” kata Delon yang mendekat dan menarik kerah baju Chandra.


“Oh jadi kamu bukan hanyta manager ,tetapi kakak lelakinya. Lepaskan tanganmu, aku salah satu sponsor film ini jadi berhak untuk datang,” pungkas Chandra dengan sombong dan mencengkram erat tangan Delon lalu lepaskan agar tak memegang kerah bajunya.

__ADS_1


“Sudah kalian jangan bertengkar, tenanglah Kak. Aku baik-baik saja,” kata Kasih.


“Awas kalau kau berani menyentuh adikku dengan sembarangan,” ancam Delon sambil memperlihatkan jari tengahnya.


“Owh aku takut, ya sudah gadis cantik sampai jumpa. Ku harap lain waktu bisa bertemu lagi,” ujar Chandra sambil memberikan kiss bye dan mengerlingkan matanya.


Pria itu pergi, Kasih langsung mengambil hand sanitizer mengelap tangannya juga mengambil tissue basah membersihkan mulutnya.


“Kelakuannya memang genit sama seperti kedua orangtuanya,”kata Kasih.


“Orang tuannya? Siapa maksudmu?” tanya Delon.


“Dia Chandra Wirabrata, anaknya Anna,” jawab Kasih sambil membuka kotak bungkusan makan siangnya.


“Pantas saja wajahnya familiar, memang keluarga m e s u m ,” tutur Delon.


“Eh enak juga menunya nasi padang dengan daging,” lanjutnya.


“Iya, tadi Kakak sudah memakan habis. Kamu mau minum apa? Orange juice atau soda?” tanya Delon sambil membuka cool box di dalam mobil.


“Soda saja, rasa lemon ya,” pinta Kasih.


“Baik.” Dlon segera menyerahkan sebotol minuman soda berwarna hijau ke adiknya.


Tak lama dering telepon terdengar, ternyata Darren menelpon adiknya.

__ADS_1


“Hallo ada apa ,bang?” tanya Delon.


“Mana Kasih?” tanya Darren.


“Masih makan.”


“Berikan telepon padanya, pakai headset saja,” kata Drren.


Dellon memasang kabel dan menyelipkan ke telingan adiknya.


“Halo abang,” sapa Kasih.


“Makan yang banyak dan jaga kondisi, oia ada kabar dari salah satu guru di desa. Katanya ada seorang pemuda yang tengah mencari informasi mengenai dirimu. Membawa foto lamamu saat darmawisata dulu, wajah lamamu,” kata Darren.


“Pemuda siapa,bang?” tanya Kasih.


“Entahlah, untung saja dia bertanya ke guru yang merupakan teman Ayah jadi semua aman,” kata Darren.


“Foto saat aku berdarmawisata? Ehmm mungkin salah satu teman saja, sudahlah tak usah di khawatirkan,” ujar Kasih menenangkan kakaknya.


“Baiklah, kalian jangan bertingkah aneh. Malam ini kemungkinan salah satuikan akan makan umpan,” kata Darren.


“Bagus, semakin cepat makin baik. Sudah terlalu banyak hal buruk yang mereka buat,” pungkas Kasih.


“Siap, sampai jumpa.”

__ADS_1


Sambungan telepon di matikan dan Kasih terus tersenyum karena rencananya akan segera berhasil, balas dendam adalah misi utamanya.


__ADS_2