
Suzy dengan sigap mengambil kotak obat dan juga mengambil kaos miliknya hadiah sponsor minuman yang berukuran besar lalu memberikan kepada Genesis. Dia mengobati luka lalu membuatkan teh gula hangat untuk sang tamu. Sintia hanya duduk tak jauh dari sana mengamati.
“Bagaimana kau bisa terluka begini?”tanya Suzy.
“Papimu yang melakukannya, lihatlah semua luka ini akibat perbuatannya,” jawab Genesis sambil meringgis.
“Papiku?”
“Awan, siapa lagi kalau bukan dia.”
“Oh baguslah, tenyata dia bisa berguna juga untuk menghajar pria brengsek,” sahut Sintia.
“Mama sudahlah,” ujar Suzy.
“Sintia, aku tahu kau membenciku. Tolong jangan batalkan pernikahan. Kalau kalian menikah, aku janji tak akan tinggal di rumah lagi dan mencari rumah dekat kantorku. Awan begitu mencintaimu bahkan Mamaku sampai menangis karena tak mau berpisah dengan Suzy. Semua kesalahanku jangan biarkan keluarga atau orang lain yang menanggungnya,” kata Genesis mengiba belas kasihan.
“Nanti ku pikirkan,” ujar Sintia sambil berlalu pergi menuju kamarnya dan membanting pintu.
“Paman tenanglah, aku juga akan membantu bujuk Mama. Oia kau mau ke mahkam Tante Bebi. Aku akan menemanimu nanti sore, sekarang beristirahatlah dan berikan nomor telepnmu. Sepulang bekerja nanti ku hubungi lalu kita ke sana bersama-sama. Bawalah bunga kesukaan Tante Bebi,” kata Suzy.
__ADS_1
“Terimakasih banyak sayang. Aku beruntung bisa memiliki keponakan sebaik dirimu,” kata Genesis.
“Mana ponselmu,” lanjutnya lalu menekan sejumlah angka untuk menyimpannya di kontak milik sang keponakan.
“Pulanglah sebelum Mama kembali marah,” saran Suzy.
“Baiklah, terimakasih. Aku akan menunggu teleponmu,” kata Genesis lalu pergi meninggalkan rumah itu.
Sepeninggalan sang paman, dia mencoba masuk ke dalam kamar Mamanya sayang terkunci. Gadis itu pun berteriak di muka pintu “ Aku pergi kerja ya, nanti sore mau menemani Paman Genesis ke pemakaman. Mama jangan begini, kau mencintai Papi Awan kan. Teruskanlah pernikahan kalian.”
Tak ada sahutan sama sekali, Suzy pun pergi. Dia sadar kalau sang mama membutuhkan waktu untuk sendiri dulu. Benar-benar tak menyangka kalau kekasih Tante Bebi adalah calon pamannya. Hidup memang penuh misteri.
“Aku duluan pulang ya, Olga nanti sms untuk jadwal besok akan kemana,” ujar Suzy.
“Siap cantik, tenanglah. Sampai jumpa besok,” kata Olga.
Suzy bergegas pergi mampir ke flower shop membeli sebuket bunga mawar putih kesukaan sahabat mamanya, Dia bisa tahu karena itulah bunga yang di bawa saat mereka mengunjungi mahkam Tante Bebi juga Pamannya. Genesis tepat waktu mobil birru metalic miliknya sudah beada tepat di depan gerbang.
“Suzy,” panggil sang paman.
__ADS_1
“Hallo paman ayo kita masuk kedalam dan ikuti aku,” ujar sang model.
“Kamu hapal letaknya?” tanya Genesis.
“Tentu saja karena setiap minimal dua bulan sekali kami selalu kesini menyekar sekaligus dengan mahkam milik pamanku,” jawab Suzy.
“Apakah kau tahu dimana keluarga Bebi?”
“Tidak, Mama juga mencari mereka. Usai acara 100 hari meninggalnya Tante Bebi, mereka semua menghilang.”
“Oh begitu.”
“Di sana, pusara Tante Bebi,” tunjuk Suzy.
Genesis langsung memanjatkan doa dan menaruh di sana bunga untuk sang mantan kekasih, segala hal dia tumpahkan di sana. Seolah-olah sedang bercerita saja dengan almarhumah padahal tak ada siapapun kecuali Suzy. Tangisan lelaki itu tumpah di sana, secara iseng Bebi merekam semua dan berniat menunjukan video itu ke Mamanya.
“Baiklah, sekarang aku sudah tahu. Mulai sekarang aku akan mengunjungimu lagi. Terimakasih Suzy sudah mau mengantarkan Paman,” kata Genesis.
“Sama-sama.”
__ADS_1
Keduanya pun pulang kembali ke rumah masing-masing. Sebelum meninggalkan gerbang pemakaman lelaki itu menoleh sebentar ada melihat ada sosok sang mantan kekasih tengah tersenyum. Hatinya lega dan dia memutuskan akan membuat pehitungan ke Almira dan secepatnya menceraikan wanita itu.