
Diruang yang dipenuhi alat penyiksaan seorang wanita elf telah menunggu kami.
Aku beserta 20 tahanan yang mengikuti seleksi ‘pembinaan’ mulai merasa khawatir.
“selamat siang atau malam? Terserah yang mana perkenalkan namaku ainey pembimbing kalian”
Wajah cantik elf Benar-benar luar biasa, hanya dengan melihat wanita ini beberapa detik saja membuatku sangat bersemangat.
Tapi aura mengerikan yang berasal darinya membuatku mengurungkan niat untuk menyerangnya.
“Aku akan menjelaskan hanya sekali jadi dengarkan baik-baik”
Sambil berkata seperti itu dia memasang knockle dengan duri tajam di kedua tangannya yang membuat semua orang menjadi panik.
“Yang diperlukan untuk lolos tes ini adalah Kebencian, amarah, dendam dan keinginan untuk menjadi lebih kuat semua itu akan membantu kalian bertahan”
Aku tidak mengerti apapun yang dia katakan. Tapi satu hal yang aku tahu dengan pasti. Aku dalam bahaya.
“Cobalah bertahan karena hanya mereka yang sanggup bertahan dari penderita yang pantas untuk menerima berkah dewa”
Perlahan wajahnya dipenuhi senyum lebar seakan mulutnya melebar sampai kuping, itu sebuah adegan horor pertama yang kulihat di ruangan ini karena setelah itu yang terjadi berikutnya adalah mimpi terburuk yang dipenuhi rasa sakit.
.
.
.
.
“gaaah ku.… Kumo..hon amp..uni aku”
Braak
“gaaah”
Sakit sangat sakit. Didepan ku berdiri seorang Elf wanita yang sepertinya aku pernah melihat entah dimana.
Sudah 2 jam aku berada diruang penyiksaan ini bersama 20 tahanan dengan berbagai ras yang berbeda.
Kami adalah mereka yang sepertinya telah ‘ditipu’ oleh iblis betina itu dengan di tawarkan kebebasan kami semua malah di siksa sedemikian rupa.
Dengan total 2.000 tahan yang berpartisipasi. Kami terbagi sebagai 100 kelompok hingga terdapat 20 tahanan di setiap kelompok.
Kami dibawa kedalam ruangan yang terdapat banyak sekali alat-alat penyiksaan di sana dan yang terakhir seorang elf yang sangat cantik tersenyum lebar seakan telah lama menunggu kedatangan kami.
Walaupun dia wanita yang sangat cantik tapi senyum itu sangatlah mengerikan, kami pun segera menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jeritan dan tangisan yang selalu di dengar oleh penghuni area 2 sekarang sedang di nyanyikan oleh kami.
“Hemmm kurasa aku mengenal mu, biar kulihat wajah mu lebih dekat”
Dengan kasar tangan yang berlumuran darah mancekik leherku. Tinggi kami yang tidak seimbang membuat tubuh ku terangkat saat elf gila ini mencekik dengan satu tangan seakan tubuhku hanya seberat kapas.
__ADS_1
“Aaah aku ingit. Bukankah kau adalah salah satu anak goblin yang bermain dengan ku sebelum nyonya boa membakar desa mu?”
Eh, Apa itu benar-benar dia? elf yang diculik oleh kelompok orc dan dijual pada ayahku? Pantas seakan aku pernah melihatnya.
Cengkraman di leherku semakin menguat hingga aku sangat sulit bernafas. Namun sebelum aku kehilangan kesadaran elf itu melempar tubuhku dengan keras.
“Guaaak”
Ah sakit seakan seluruh tulang di tubuhku telah hancur. Apa dia melakukan semua ini karena balas dendam? Tapi semua tahanan mendapat perlakuan sama seperti ku, apa mereka juga melakukan sesuatu yang sama seperti perbuat yang kulakukan padanya?.
“Aku tidak menaruh dendam apapun pada kalian tahu. Akau justru berterimakasih pada kalian yang telah bermain bersama dan mengurung di tempat itu bersama korban lain hingga akhirnya aku bertemu dewa”
Seakan dia bisa membaca pikiranku dia mengatakan itu. Lalu apa masalahnya?.
“Dewa?”
“Benar dewa yang menunjukkan arti kehidupan menyedihkan ini, yang memberi tujuan pada orang-orang sesat, yang memberi kami kekuatan untuk menginjak-injak makhluk lah seperti mu”
Seakan menikmati menyiksa orang lain elf itu terus menginjak seluruh tubuhku. Darah terus keluar dari mulutku tapi itu malah membuat senyuman di wajah perempuan ini semakin lebar.
Setelah beberapa saat akhirnya dia berhenti, dia hanya terdiam melihat tubuh ku yang hancur bagaikan kain kotor yang tergeletak takberguna. Namun perlahan dia berjongkok dan itu membuatku semakin takut ‘apa ini belum berakhir’ hanya itu yang aku pikirkan tapi-
“Kau cukup bagus salah satu dari mereka pasti akan memilih mu”
Dengan senyum yang lebar membentuk bulan sabit elf itu perlahan mendekatkan tangannya pada wajahku dan-
“Aaaaaaah aaaaaa”
Aku berusaha untuk melawan tapi bagaimana kedua tanganku telah putus sedangkan tulang belakang telah patah hingga aku tidak bisa merasakan kedua kaki ku.
“Hemmm benar-benar segar hahahaha”
Dengan tawa yang menjengkelkan elf itu mengunyah bola mata yang baru saja dia ambil dari ku.
Tidak mampu melakukan apapun aku hanya bisa melihat sekeliling saat tubuhku bersandar di dinding. Elf gila itu terus saja menyiksa tahanan lain hingga tepat 5 jam setelah kami di masukan ke neraka ini.
Hanya suara erangan kecil yang bisa kami hasilkan Karen pita suara kami telah terpotong dan lidah telah habis di jadikan sate.
Tok tok tok
Terdengar ketukan dari pintu. Walaupun kupingku telah di potong tapi entah kenapa aku bisa mendengar suara itu dengan cukup jelas.
“Huhuhu sudah saatnya kah?”
Dia terlihat sangat senang dan segera membukakan pintu. Satu mataku yang masih tersisa langsung terbelalak saat melihat seekor lalat sebesar gajah memasuki ruangan.
Kami para tahanan yang masih hidup hanya berharap jika monster itu kemari untuk memakan kami hingga mengakhiri semu ini, tapi sepertinya kami masih harus menderita lebih lama.
“Hemm hanya tersisa 9? Kau terlalu berlebihan ainey-chan”
Lalat raksasa itu berkata dengan suara lelaki yang seakan berusaha terdengar feminim.
“Te-he maaf sensei”
__ADS_1
Dengan wajah yang tersipu seperti anak kecil yang ketahuan berbuat jahil, elf gila itu meminta maaf pada lalat namun tidak ada jejak penyesalan diwajahnya.
“Yah mau bagai mana lagi. Kau menang yang paling bersemangat dari yang lain”
“Terimakasih atas kebaikan anda sensei”
Dia menundukkan kepalanya pada monster menjijikan, dengan duri tajam memenuhi seluruh badan lalat itu benar-benar menakutkan.
Mengabaikan elf gila, lalat besar melihat kearah tahanan yang masih tersisa.
“Baiklah sekarang saatnya untuk memberi hadiah”
.
.
.
.
Menjijikan hanya itu yang bisa ku pikirkan saat lalat itu tiba-tiba melahirkan 9 larva seukuran kucing.
Jika saja aku masih memiliki sesuatu di perutku pasti aku akan muntah tapi saat ini hanya darah yang keluar dari mulutku.
Hanya berselang beberapa menit kelahiran mereka, ke 9 larva mulai berevolusi tapi yang aneh adalah mereka tidak berubah menjadi lalat seperti induk mereka tapi menjadi serangga yang berbeda.
Ada yang terlihat seperti kumbang badak ada pula yang seperti belalang sembah.
Setelah berevolusi mereka terbang di atas para tahanan yang masih hidup Seakan mereka sedang memilih kami. Dan yang memilihku adalah seekor kecoa. Ini merupakan sebuah penghinaan.
Seperti yang lain kecoa itu masuk kedalam mulutku, aku hanya diam pasrah tidak ada yang bisa kulakukan saat kecoa itu memasuki perutku.
“““aaaaaa”””
Teriakan kesembilan orang yang masih bertahan termasuk diriku kembali terdengar, padahal pita suara kami telah terpotong.
Tapi seakan mendapatkan sihir penyembuh kedua tanganku dan bola mata yang telah dimakan elf gila kembali beregenerasi.
Kekuatan perlahan memenuhi tubuhku seakan aku bisa melakukan apapun. Setelah beberapa menit kondisi tubuhku kembali seperti semula bahkan lebih baik. Tidak ada lagi rasa sakit yang ku rasakan.
Sesaat kemudian kami teringat akan penyiksaan yang telah kami terima. ‘jika dengan kekuatan ini mungkin kami sanggup’ itulah yang kami pikirkan tapi-
“Itu bagus kalian menatap ku seakan ingin balasan dendam tapi serangga yang berada di dalam tubuh kalian tidak akan bisa menyakiti kami”
Seakan mampu membaca pikiran. Lalat itu memberi peringatan.
“Kalian pasti mulai lapar bukan? Makanlah apa yang ada didepan kalian setelah itu kita akan melakukan banyak hal bersama”
Seperti yang dia katakan. Tiba-tiba rasa lapar yang tidak terkendali mulai menyerang hingga rasanya sangat menyakitkan. Membuat pikiranku tidak dapat digunakan.
Lalu adegan selanjutnya adalah saat kami para survivor melakukan pesta kemenangan dengan daging dan darah para pecundang.
Chp 114 end.
__ADS_1