
Teror terus menyebar di desa, setelah kebakaran yang menewaskan ratusan jiwa, belum selesai sampai di situ wabah serangga dan Lamia pembunuh yang berkeliaran membuat para warga desa semakin cemas.
"Maaf maaf kumohon lepaskan aku"
Di hutan pinggiran desa Seorang bandit dengan penuh air mata dan hidung berlendir sujud di atas tanah meminta maaf kepada orang yang tidak bisa dia lihat dimana pun disekitar bandit itu, tapi dia yakin orang yang telah membunuh teman teman nya sedang menarik sebuah busur membidik kepala nya.
Semua berawal ketika dia di ajak oleh ke 4 teman nya ikut merampok seorang pemula, karena sedang tidak ada kerjaan lain dia pun menyetujui nya lalu pergi bersama untuk mengintai target.
Setelah melihat korban nya dia pun langsung percaya bahwa target nya adalah pemula, tapi ada yang aneh si target sangat tenang seakan dia sudah tau jika sedang di targetkan dan siap dengan apa pun yang dapat terjadi, tapi walaupun begitu dia berfikir si target tidak akan bisa melakukan apa pun dengan jumlah penyerang yang lebih dari 50, tepi pikiran nya langsung berubah ketika melihat seorang pemain dari guild yang menguasai desa persembunyian para bandit tewas dengan 1 kali serangan, dia pun langsung mundur dari sana, temannya yang melihat itu menganggap dia pengecut tapi dia tidak peduli.
Ketika dia sedang beristirahat di ruangan bawah tanah tempat kelompok bandit bermarkas, dua dari 4 teman nya kembali salah satu teman nya di gendong dengan susah payah, dia langsung tau apa yang terjadi dengan melihat wajah pucat mereka yang sangat ketakutan, setelah mereka berdua tenang mereka menceritakan kekacauan yang terjadi ketika mereka melawan Lamia itu.
Tak lama kemudian terjadi keributan di luar, dia pun keluar dari tempat itu untuk melihat apa yang terjadi, setelah sampai di luar dia melihat desa yang dia tempati sedang terbakar, melihat itu teman nya berpikir si lamia Sedang mengamuk.
merasa keadaan yang semakin berbahaya di menyuruh semua bandit yang tersisa mengevakuasi seluruh harta rampasan yang mereka simpan dan kabur dari desa itu.
Tapi di jalan mereka di bantai satu persatu, kepala teman teman nya di lubangi dengan anak panah dan kemudian para serangga menyerbu mayat temannya yang telah mati, hingga dia yang terakhir tersisa, kaki nya terkena panah hingga tidak bisa berlari lagi, dia hanya bisa berteriak meminta maaf dengan suara terisak, tidak mau mengalami hal yang sama dengan teman nya.
"Apa permainan kejar kejaran nya sudah selesai?"
Seorang gadis Lamia turun perlahan dari atas pohon dengan panah di tangan nya, melihat itu si bandit ketakutan hingga membasahi diri sendiri, kemudian wajah si lamia beruban menjadi waspada.
"Baiklah jadi rencana kalian mungkin menunggu ku melepas anak panah lalu menyerang ku ketika aku sedang reload?"
Bandit itu tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh si lamia.
Tapi tak lama kemudian 5 sosok assassin keluar dari balik semak dengan posisi mengepung mereka berdua.
"Itu cukup mengesankan untuk bisa mendeteksi kami"
Ucap salah satu assassin, melihat kedatangan para assassin si bandit merasa sedikit lega.
"Kurasa kita tidak perlu menarik masalah ini lebih jauh dan biarkan orang ini pergi"
Ucap orang itu lagi sambil terus mengawasi reaksi boa.
"Atau?"
__ADS_1
Boa hanya menjawab singkat tapi tentu saja itu bermakna besar, sebuah tantangan untuk melihat ancaman apa yang akan di berikan si assassin untuk boa.
"Kau tidak berpikir ancaman kematian akan membuat ku takut bukan"(boa)
Assassin itu tentu menyadari Lamia di depan nya adalah seorang imortal, walaupun dia bisa membunuh nya di sini tapi karena mereka bisa hidup kembali itu akan menjadi masalah di masa depan.
"Itu akan menjadi tindakan percuma jika kau membunuhnya kau tidak akan mendapatkan apa pun" (assassin)
Dia berusaha bernegosiasi tapi Mendengar itu pandangan boa yang semula seperti anak kecil yang sedang bermain berubah menjadi sangat dingin, si assassin menyadari ucapan nya telah salah, dia pun menjadi waspada.
"Bukan kau yang berhak menentukan apa yang akan menguntungkan atau tidak untuk ku"(boa)
Kemudian boa mengangkat tangannya ke depan bersiap melempar skill, hp si bandit yang sudah dalam zona merah akan langsung habis jika terkena efek racun dari skill boa, melihat itu si assassin maju ke dapan melindungi si bandit, tapi bukan nya menyerang boa justru dia bersujud pada boa.
"Ku mohon biarkan dia hidup akan ku bayar berapa pun harganya"
Melihat itu para assassin yang lain dan si bandit tercengang, bahkan boa pun tidak menyangka, biasanya para bandit adalah sekumpulan orang yang tidak mempedulikan orang lain selain diri mereka sendiri, bahkan jika perlu mereka akan mengorbankan rekan mereka jika itu bisa menyelamatkan nyawa nya sendiri, tapi di depan nya ada orang yang berbeda.
'kecuali mereka bersaudara?'
Boa terdiam memikirkan apa yang harus dilakukan, itu membuat suasana menjadi hening bahkan tidak ada suara satu serangga pun yang terdengar.
Mendengar itu semua orang terdiam, pemotongan hidung ada hukuman yang sangat memalukan, itu adalah hukumann untuk para prajurit yang menyerah di Medan perang dan menginginkan hidup mereka di ampuni, sebagai gantinya dari leher mereka akan memotong hidung mereka sendiri, tapi setelah itu mereka akan menanggung beban lain, masyarakat akan menghina mereka karena takut mati di Medan tempur dan harus memakai topeng seumur hidup untuk menutupi wajah buruk dan aib yang mereka tanggung.
Menyadari hukuman itu si assassin merasa keberatan tapi hanya itu jalan nya agar satu satunya keluarga nya selamat, dengan berat hati si assassin menghampiri adik nya di tangan nya ia menggenggam belati yang telah dia gunakan untuk membunuh ratusan orang, si bandit terlihat sangat ketakutan melihat assassin itu datang menghampiri nya.
"Bertahanlah ini satu satunya jalan"
Dengan cepat tangan kiri si assassin menarik hidung bandit itu dan tangan kanan yang memegang belati memotong hidung itu.
"Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
Si bandit berguling guling menahan rasa sakit di wajah nya.
"Ini sudah selesai bukan"
Kata si assassin sambil melempar hidung ke bawah ekor boa yang langsung menjadi rebutan 2 belalang sembah.
__ADS_1
"Ya itu sudah cukup dan kau tau peraturan nya bukan? Jika suatu hari aku melihat dia dengan wajah yang di perbaiki aku berhak membunuh nya saat itu juga"(boa)
"Ya aku tau"(assassin)
Kemudian boa memandang si bandit yang masih kesakitan di hidung nya tapi tatapan matanya pada boa memancarkan kebencian yang mendalam.
"Oh lihat tatapan mu itu berbeda sekali ketika kita main kejar-kejaran"
Menyadari boa tau tatapan dia langsung memalingkan wajah.
"Ada tiga macam tipe orang yang telah di beri kesempatan untuk hidup oleh musuh nya, yang pertama adalah mereka yang memanfaatkan kesempatan itu untuk melupakan dendam nya dan melanjutkan hidup, yang kedua lebih memilih balas dendam dan menemui akhir yang menyakitkan dan yang terakhir..... Itu hanya sekedar imajinasi"
Setelah boa mengatakan itu seluruh hutan bergetar, suara serangga terdengar di mana mana, bahkan para assassin tidak menyadari mereka Talah di kepung, mereka mulai panik karena kemunculan berbagai serangga yang mencapai ribuan, tapi berbeda dengan assassin yang tadi memotong hidung si bandit, dia tetap tenang seakan mengetahui apa yang akan terjadi.
Serangga-serangga itu mulai mengelilingi boa dan merobek kulitnya lalu masuk kedalam, seakan tidak merasakan apa-apa boa hanya diam dengan mata tertutup, setelah ribuan serangga memasuki tubuh nya boa berbalik dan meninggalkan tempat itu.
"Gila monster macam apa itu"
Salah satu assassin berteriak dengan histeris, ketika mereka menyadari bahwa sedang di kelilingi mereka sangat waspada dan melihat para serangga yang masuk ke tubuh boa mereka menahan nafsu ngeri, baru setelah boa pergi mereka bisa bernafas lega.
"Bagaimana dengan jumlah korban?" (Assassin 1)
"Di antara 300 bawahan yang di tinggal di desa tersisa 236 yang berhasil selamat sisanya menjadi korban kebakaran" (assassin 2)
"Lamia itu tidak mengincar bandit lain?" (Assassin 1)
"Tidak pemimpin, kurasa Lamia itu hanya menyerang mereka yang ikut penyerang terhadap nya" (assassin 2)
Mendengar itu si assassin hanya menatap ke di mana boa pergi menuju desa yang sudah hangus.
.
.
.
.
__ADS_1
Chp 25 end