
Boa pov
Aku berhasil melukai dewa ormes dengan [soul scratch] 5 kali, tapi saat aku mencoba mengayunkan serangan yang lainnya ormes tiba-tiba menghilang.
“Sialan makhluk rendah yang bahkan belum memasuki ranah dewa seperti mu berani melukai hingga mengoyak jiwaku. Tidak ada ampun…”
Suara yang terdengar sangat marah bergema di seluruh sudut. Aku hanya bisa meningkatkan kewaspadaan untuk bersiap dengan serangan.
Lalu-
Hembusan angin hitam dapat aku lihat bergerak kearahku. Dengan cepat aku berusaha menghindar dari serangga angin hitam itu.
“Sial itu hampir”
Sangat cepat bahkan ketika aku menggunakan maksimum dragon blood dan [acceleratio brain]. Serangan yang terlalu berbahaya jika di tahan karena memiliki kemampuan untuk menyebarkan instan kill. Perlahan kabut hitam yang gagal membunuhku itu berkumpul dan membentuk sebuah sosok hitam dengan senjata sabit besar.
“Grim reaper,” ucapku Setelah melihat sosok kematian itu.
Hanya ada satu senjata dari dewa pedang ormes yang memiliki kemampuan seperti ini yaitu, [black diary grimore]. Sosok grim reaper kembali ke bentuk angin lalu 5 hembusan angin lain datang bersama-sama, keenam angin hitam menyerangku. Masih khawatir dengan efek instan kill, aku kembali menghindar dengan [flicker]. Aku sangat terbantu dengan pengurangan cooldown dari gelar [sage] dan yang lainnya sehingga cooldown dari skill paling efektif miliki dapat digunakan tanpa jeda.
“Hey bukanlah kau dewa? Bertarung lah dengan penuh kehormatan, bukannya terus berlarian seperti tikus.” dengan kesal aku mengomentari cara bertarung dewa ormes yang terus menghindar dan menyerang dari jarak jauh.
“Serangga sepertimu…….” dewa ormes terlihat sangat marah dari raut wajahnya, namun dia masih tetap melakukan serangan dari jauh.
‘Caranya bertarung dari jarak jauh bukan karena dia takut mendekatiku, tapi seakan-akan memang itulah cara dia bertempur. Bukannya seperti seorang swordsman dari gelar dewa pedang tapi justru dia lebih seperti seorang mage.…’
Pikiranku terganggu ketika pedang cahaya merah melesat sangat cepat kearahku. Dengan jarak setipis kertas aku menghindari serangan [Crimson fury sword], tapi bukan hanya pedang merah itu melainkan puluhan ribu senjata lempar berbagai jenis Seperti kunai, pisau lempar, dart dan senjata-senjata rahasia yang sering digunakan oleh ninja.
“[gray rain suriken]”
Aku langsung mengenali serangan dari salah satu 13 senjata suci. Berusaha untuk menghindar aku mengaktifkan [the mirror] lalu terbang ke dalam hutan. Ledakan terjadi saat beberapa suriken menabrak pepohonan.
‘Mungkinkah julukan dewa pedang dia dapat karena memiliki 13 senjata suci?. Lalu yang paling membingungkan kenapa 13 senjata suci yang dia rebut dari dewa lain malah dijadikan satu skill, aku tidak yakin jika dia melakukan itu hanya untuk ’kepraktisan’. Pasti ada maksud lain.’
Beberapa suriken hampir menyusul ku tapi aku segera menggunakan [telekinesis] untuk membelokkan arah senjata lempar itu. Kemudian aku kembali berteleportasi di tempat awal aku bertemu dewa ormes.
“Itu semua yang kau miliki?.” ucapku sambil menatap tajam pria itu. Saat ini aku tidaklah menggunakan kaca mata sehingga efek dari [master petrified] membuat dewa ormes perlahan membatu.
__ADS_1
“Br*ngsek, makhluk rendah seperti mu….” dewa itu memaki lalu segera menghilang entah kemana.
“Hah, apa itu memang sifatnya para dewa yang hanya bisa memaki dan lari...?”
“Kurang ajar!, Jaga mulutmu kepar*t!.”
Dari belakang dewa ormes muncul dengan dua belati di tangannya. “Pengecut.” kataku sambil mengangkat serangan dewa ormes dengan [death claws], pertarungan jarak dekat punterjadi. Dibantu dengan [Crimson fury sword] dia cukup pandai bertarung. Tapi hanya ‘cukup’ tidak lebih seakan predikat dewa pedang hanyalah sebuah lelucon.
“[ilusionis trust]”
Dengan gerakan yang sangat cepat hingga membentuk bayangan after image empat tanganku terlihat seakan lebih banyak dari itu. Dewa ormes yang hanya memiliki ‘cukup’ kemampuan bertarung jarak dekat menjadi kerepotan dengan banyaknya serangan yang datang hingga-
[Target terkena abnormal status (Torn soul) seluruh statistik berkurang 1%]
[Target terkena abnormal status (Torn soul) seluruh statistik berkurang 1%]
[Target terkena abnormal status (Torn soul) seluruh statistik berkurang 1%]
………..
……..
Satu seranganku masuk dan mengakibatkan cakar dari kelima jariku melukainya. Dewa ormes terlihat sangat kesal karena 10% dari total kekuatannya telah berkurang. Tapi sayangnya saat aku melancarkan serangan yang lain dia mengeluarkan energi yang sangat besar dari tubuhnya sehingga aku terpental jauh dan menderita kerusakan yang bisa di abaikan.
“Tck, hanya satu serangan lagi dan aku yakin dia akan mati dengan [ashura wrath]” aku berdecak kesal. Tapi segera menenangkan diri.
‘Tidak masalah, setidaknya aku sudah mendaratkan 10 serangan. Hanya tersisa 90 dan kemenangan milikku. Lalu.....’ perlahan-lahan senyum lebar terbentuk di bibirku.
“Aku sudah memecahkan trik milik mu.…”
***
DI LUAR TUBUH BABY NIDHOGG
Para pengungsi kota red Saliva segera berlari menjauh dari raksasa cacing itu saat matahari telah terbenam di ufuk barat. Mereka segera mengubur diri mereka didalam pasir dengan jarak saling berjauhan. Melihat itu para pemain menjadi keheranan tapi kemudian suara lengkingan yang sangat keras terdengar.
GROOOAAARRRRR
__ADS_1
Semua pemain yang mendengar suara itu langsung menggigil ketakutan. Mereka melihat raksasa itu mulai bergerak perlahan namun seiring waktu mulai mempercepat gerakannya. Bagaikan kereta api berukuran raksasa, baby nidhogg pergi ke arah selatan.
Bruk
Seorang pemain terjatuh di pantatnya saat kaki yang menopang tubuhnya seakan kehilangan seluruh kekuatan. Begitu juga para pemain yang lain melakukan hal yang sama.
“Selatan, huhu. kerajaan apa yang ada di sana?.” tanya Dyulet bertanya pada yardin.
“Kerajaan Olysdel. Itu yang berada di selatan guru.” Jawab yardin.
Dyulet hanya menutup matanya lalu dengan menggunakan skill [dragon blood] yang dimilikinya Dyulet terbang menggunakan sayap naga. Dengan kecepatan tinggi melebihi laju baby nidhogg, dragonik tua itu terbang menjauh kerajaan Olysdel.
Salah satu dari tugas para Lamia Ruby red scale yang memuja dewa kecil nidhogg adalah penyampai pesan untuk kerajaan yang menjadi sasaran cacing raksasa itu. Di benua ini mereka sering disebut sebagai pembawa pesan dari sang bencana.
Sementara itu seluruh raja di benua tengah waspada saat berita tentang kemunculan baby nighogg. Mereka sangat khawatir jika kerajaan merekalah yang akan menjadi sasaran penghancuran, tapi banyak yang lega saat kerajaan Olysdel yang menjadi target. Keadaan panik terjadi di kerajaan tersebut saat kedatangan dragonik merah Dyulet.
Dengan kecepatannya Dyulet berhasil sampai di kerajaan ini lebih cepat dari baby nidhogg, tapi diperkirakan hanya butuh 2 jam untuk baby nidhogg sampai di kerajaan ini. Raja Olysdel pun segera memerintahkan kepada semua penduduk untuk mengungsi.
Kepanikan para warga kerajaan ini benar-benar menjadi sebuah tontonan yang menarik bagi para pemain. Sangat jarang melihat hal seperti ini, mereka pun ingin mengetahui nasib dari kerajaan yang akan di serang beberapa jam lagi.
***
DI DALAM PERUT
Suara lengkingan yang sangat keras membuat kepalaku hampir pecah, aku sangat penasaran bagaimana cara para warga kota bisa bertahan dari suara ini.
Tapi buang soal itu, saat ini aku tengah terbang dengan kecepatan tinggi mengejar dewa ormes. Saat baby nighogg terbangun tiba-tiba bertingkah aneh dan mencoba untuk kabur. Seakan dia tidak ingin terjebak di dalam perut dewa kecil, itu cukup untuk memberi alasan jika dia tidak memiliki kemampuan berpindah dalam sekejap.
...***CHP 260 END...
...BERSAMBUNG***...
__________________________________________
arc 4 sebentar lagi akan berakhir, itu juga menandakan akhir dari season 1.
Author ingin meminta pendapat para pembaca. apakah lebih baik season 2 di lanjutkan di novel ini atau di novel yang berbeda, yang berarti novel ini tamat di season 1.
__ADS_1
Author mohon dengan sangat setidaknya beri masukan.
oke terimakasih sudah membaca