PRUSO : Perhatian Ratu Ular Sedang Online

PRUSO : Perhatian Ratu Ular Sedang Online
arc 4.55 istana laut selatan 1


__ADS_3

10 menit hingga baby nidhogg terbangun.



ISTANA LAUT SELATAN


Boa POV


Pemandangan fantasi yang aku bayangkan dari istana bawah laut terlihat jelas di depanku. Sebuah istana dengan didominasi warna hijau serta berbagai jens ikan berenang kesana kemari. Tapi yang membuatku bingung kenapa aku bisa bernafas dengan mudah di dalam air padahal aku tidak sedang memegang trisula 7 lautan. Dan juga aku tidak bisa menghubungi Nebula sejak aku tiba di tempat ini.


Banyak yang ingin aku tanyakan tapi semua pikiranku teralihkan saat beberapa dayang mendekatiku, mereka segera melihatku secara seksama sambil berenang mengelilingiku, tidak lama kemudian mereka saling bertatapan dan mengangguk pelan sebelum akhirnya kembali ketempat mereka berasal. Lalu 4 perempua lain dengan baju besi dan tombak mendekatiku dari arah para dayang menghilang.


‘Apakah para dayang tadi hanya sekedar memastikan jika aku bukan orang yang berbahaya?’ batinku melihat kearah para dayang pergi.


Di kawal oleh para prajurit perempuan aku dipersilahkan memasuki istana, mereka mengatakan jika sang ratu sedang menungguku.


‘Apa mungkin yang di maksud adalah ratu ‘itu’?. Ya siapa lagi bukan. tidak mungkin jika wanita siluman setengah ular itu yang berkuasa di sini.’


Aku terus berbicara dalam hati tidak ingin mengganggu para kesatria yang mengantarku. Semua dari mereka memilih stat yang luar biasa.


__________________________________________


[Dhira]


Ras : mermaid


Level : 507


Titel : guard of south sea palace


Hp : 7.500.000


MP :10.000.00


__________________________________________


Itu adalah status paling lemah dari 4 pengawal yang membawaku semakin kedalam istana


‘Sungguh level yang mencengangkan.’


Di sepanjang perjalananku suasana begitu sepi seakan tidak ada penghuni lain selain keempat prajurit perempuan yang mengantarku, walaupun sesekali ada beberapa wanita dengan pakaian kebaya berpapasan dengan kami.


Penerangan di dalam istana terlihat redup entah karena sengaja atau tidak, tapi aku pikir itu sangatlah cocok dengan suasana di sekitar. Lalu saat kami telah sampai di depan sebuah gerbang yang begitu besar hingga aku harus mengangkat kepala jika ingin melihat seberapa besar gerbang itu. Namun seakan bukan sebuah masalah, dua pengawal yang berada di barisan paling depan membuka daun pintu hanya dengan menggunakan satu tangan mereka sementara tangan yang lain masih memegang senjata.

__ADS_1


Aku sangat kagum dengan kekuatan mereka, stat tinggi yang mereka miliki bukanlah sebuah ilusi semata. Lalu mereka segera mempersilahkan aku masuk ke dalam ruangan yang ternyata sebuah ruang tahta.



Di atas singgasana duduk seorang wanita yang terlihat sedang tertidur dengan posisi miring kesamping sementara kepalanya ditopang oleh tangan kiri, bagaikan seperti seorang ratu yang sedang bosan. Tapi aku merasa jika dia sedang menatapku walaupun Matanya masih terpejam. Sementara di belakangnya dua kepala naga menatapku seakan penasaran.


“Dia seperti yang digambarkan oleh cerita-cerita rakyat.” aku bergumam saat melihat sosok yang tidak asing. Rambut hitam panjang khas Asia dan pakaian serba hijau dengan kain batik menutupi bagian bawah.


__________________________________________


[goddess of the southern sea Roro kidul]


Ras : Legendary God


Titel : ruler of the southern sea


LV : ????


Hp : ????


MP : ????


Keterangan : Dewi penguasa sebagian lautan vanaheim. Terus berseteru dengan dewa-dewa laut poseidon dan susanoo untuk memperebutkan kekuasaan seluruh lautan dunia para dewa.


__________________________________________


Baru kali ini aku melihat statistik tanda tanya selain kelereng skill milik belzebub yang sudah aku makan. Apakah tingkat penguasa laut Selatan setingkat 7 dosa mematikan?.


Karena terus melamun tanpa sadar aku telah berjalan mendekati singgasana, hanya ada beberapa penjaga ditempat ini. Selain 2 naga yang berada di belakang singgasana, ada juga 4 pengawal wanita yang berdiri di sudut ruangan, mereka jauh lebih kuat dari 4 pengawal yang mengantarku. Keempat penjaga itu terlihat seperti patung dengan tombak yang mereka bawa.


Beralih dari melihat sekeliling perhatianku kembali pada Dewi yang perlahan membuka matanya. Aku seketika menghentikan langkahku dan bersiap siaga saat merasakan tekanan yang begitu kuat darinya.


‘Sial terlalu kuat.’ batinku menjerit saat merasakan tekanan mirip seperti skill [gravitasi] yang membuatku hampir terjatuh.


‘Apa dia menginginkan aku berlutut?. Sial bunuh saja aku.’


Dengan sekuat tenaga aku mencoba terus berdiri, tulang-tulang ku mulai menimbulkan suara retakan seakan beban yang sangat berat menindih tubuhku dari atas. Darah mulai keluar dari mulutku menandakan organ dalam tidak dapat menahan ini lebih lama. Dengan wajah yang menegang seakan ingin membuktikan bahwa hanya dengan ini tidak akan cukup untuk membuat ku tunduk di depannya. Aku merasakan bibirnya mulai mengembangkan senyum kecil yang sangat mempesona.


“……narik.”


Guman Dewi itu pekan tapi seketika membuat para ikan yang berenang di sekitar tempat ini segera menjauh, begitu pula tekanan yang berusaha menindih tubuhnya menghilang begitu saja.


Setelah menarik auranya, Dewi Roro kidul kemudian membetulkan posisi duduknya, Sekarang dia terlihat sangat berwibawa Seperti yang terlihat dalam adegan film lama.

__ADS_1


“Wis rada suwe yen ana wong sing dolan mren…..”


Dewi itu menghentikan perkataannya Setelah melihatku memiringkan kepala karena tidak memahami setiap perkataan yang dia ucapkan. Menyadari hal tersebut dia hanya menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya.


“Dasar bocah jaman Saiki ora peduli koro tradisine wong tuwa.…. DiJak ngobrol kur plonga plongo tok!.”


Setelah mengucapkan kalimat yang tidak ada satupun bisa aku pahami, Dewi Roro kidul memijat kepalanya seakan bingung ingin mengatakan apa. Kemudian dari telapak tangannya muncul seekor gurita yang kemudian berenang kearah ku lalu hinggap di atas kepalaku.


[Mendapat berkah dari Dewi laut selatan]


[Mendapat kemampuan mahir bahasa Jawa kuno]


Wajahku langsung mengerut saat mendengar notifikasi yang baru saja aku dengar.


“Cara paling aneh untuk menghadiahi sebuah berkah untuk seseorang.” ucapku mengomentari berkah dari dewi Roro.


Tapi sepertinya aku salah bicara karena seketika ruangan ini bergetar hebat saat keempat penjaga yang dari tadi diam mematung mengeluarkan aura pembunuh yang membuatku sulit bernafas. Tapi mereka segera menarik aura pembunuh saat Dewi Roro mengibaskan telapak tangannya.


“Aku sangat meminta maaf jika penyambutan dari istana laut selatan sangat tidak memuaskan untukmu, saat ini kami sedang dalam kondisi pemulihan karena perang yang baru beberapa hari lalu kami tanganin.” ucap Dewi dengan penuh wibawa.


Dia masih menggunakan bahasa Jawa, tapi aku dapat memahami karena kemampuan yang baru aku dapat dari gurita yang masih belum menyingkir dari kepalaku. Sungguh apa dia ingin aku jadikan topi atau seafood?.


Tapi Perang, huh. Aku tidak mendengar informasi apapun tentang perang selain perang yang di timbulkan oleh perluasan kekuasaan five greater teocraci. Apa karena perang ini terjadi di bawah laut?. Itu mungkin lagi pula para pemain yang menjadi Fishman sangatlah sedikit dibandingkan dengan mereka yang menjadi mahluk daratan dan setengah burung.


“Aku sudah mengatakannya, sudah sangat lama ada yang berkunjung ke tempat ini apalagi kau bukanlah seorang dewa.” Dewi menatapku dengan tajam seakan ingin melihat jati diriku yang sebenarnya. Mungkin karena kacamata yang aku kenakan membuat dewa di depanku kesulitan melihat status yang aku miliki?.


“Tentu aku bisa.” ucapnya sambil memejamkan mata seakan telah berhasil melihat apa yang ingin dia lihat.


“Eh….” aku hanya kebingungan tidak mengerti. Apa mungkin dia juga bisa membaca pikiranku Seperti nebula?.


“Perlindungan dari item yang berada di wajahmu memang kuat, setidaknya bisa mengecoh dewa setingkat dewa tua, tapi beberapa dewa legendaris seperti ku dengan mudah dapat menembusnya.”


Mendengar penjelasan dari Dewi Roro, aku rasa tidak ada gunanya menyembunyikan wujud asliku darinya. Perlahan aku melepas [stranger's glasse] dan memperlihatkan wujud ku yang sebenarnya.


Aura kematian seketika merebak keseluruhan ruangan membuat keempat penjaga mengerutkan kening mereka, kedua naga juga terlihat bereaksi dengan aura milikku. Sementara Dewi Roro kidul hanya terdiam Seakan sudah menduganya.


Perlahan senyum merekah di bibir wanita itu.


“Haaahhh…. penuh potensi dan membuat ku teringat pada teman lama...” ucapnya dengan senyum hangat.



...***CHP 251 END...

__ADS_1


...BERSAMBUNG***...


__ADS_2