
Sepulang kerja Lucy tidak langsung pulang ke apartemennya, ya berjalan-jalan menyusuri pinggiran toko sambil menikmati pemandangan. Sesekali ia keluar masuk toko untuk melihat-lihat mungkin saja ada barang yang akan dia beli. Tiba-tiba langkahnya terhenti, ia memandang sebuah bangunan yang sudah hampir jarang untuk ia kunjungi. Ya, sebuah gereja tempat biasa ia beribadah, ia melangkahkan kakinya dan memasuki gereja. Sudah cukup lama ia tidak datang ke gereja dan di sibukkan dengan kehidupan dunia yang membuatnya lupa akan Tuhan.
Luna menatap lekat kearah patung bunda Maria dan tertegun, beberapa menit ia berdiri mematung tanpa berkata apa-apa. Kini Lucy duduk di kursi perjamuan dengan mata masih menatap lekat ke arah patung bunda Maria. Tiba-tiba semua kenangannya bersama Andre melintas di salam benaknya, semua suka duka yang ia lewati bersama dan kebaikan Andre yang selama ini telah ia terima. Ia benar-benar merasakan bahwa dirinya dicintai oleh seseorang lagi setelah ibunya pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Nak, apakah mengalami masalah yang serius? aku sudah lama memandangimu sedari tadi, apa kau ingin berbagi cerita denganku?" tanya seorang pendeta mendekati Lucy.
"Ah selamat sore bapa, saya baru pulang kerja dan tak sengaja lewat. Jadi, saya sekalian mampir." ucap Lucy.
"Terkadang tanpa kita sadari Tuhan memanggil kita dengan caranya. Untuk mengingatkan kepada diri kita jika Dia selalu dekat dengan umatnya. Hanya saja terkadang kita tidak menyadarinya dan menyepelekan itu semua." ucap pendeta itu.
__ADS_1
"Begitu juga dengan saya saat ini bapa, sepertinya saya terlalu di lena oleh kehidupan di dunia ini dan melupakan sang pencipta." ucap Lucy.
"Setidaknya sekarang kau sudah mengingat-Nya, buktinya kau sampai di sini dan duduk di kursi ini. Melipat tangan mu dan memohon kepada-nya." ucap pendeta itu sambil tersenyum.
"Bapa, saat ini aku benar-benar bimbang. Antara hati ku atau iman ku." ucap Lucy.
"Ya, dia sangat baik kepada ku. Berulang kali dia menyelamatkan ku dari keadaan yang buruk, kami bahkan sudah menjalin hubungan tapi tidak terlalu jauh. Dulu aku tidak terlalu memikirkan masalah perbedaan diantara kami, tapi semakin ke sini aku di sadarkan bahwa ada jurang yang dalam di antara hubungan kami. Dan itu membuat ku menjadi sesak setiap harinya, aku selalu berusaha tidak ingin memikirkannya. Tapi semakin aku mencoba lari dari kenyataan, semakin kuat kusadari jika kami tidak bisa bersama." ucap Lucy.
Air mata Lucy tiba-tiba mengalir deras, ia mencoba mencurahkan semua gelisah yang ada di dadanya kepada pendeta itu. Ia sangat berharap agar pendeta itu dapat membantunya dan memberikan solusi yang terbaik untuknya. Setidaknya, dengan mendengarkan saja sudah cukup bagi Lucy yang tidak memiliki tempat untuk mengadu.
__ADS_1
"Nak, semua agama di dunia ini mengajarkan cinta dan kasih. Tapi jangan sampai kau terluka karena terlalu mencintai ataupun mengasihi seseorang. Apakah aku boleh bertanya sesuatu pada mu?" tanya pendeta.
"Tentu saja, Bapa ingin bertanya apa?" tanya Lucy balik.
"Apakah dia juga mencintaimu sebesar kau mencintainya? Dan apakah dia sudah mengatakan keseriusannya kepada mu?" tanya pendeta itu.
Lucy terdiam mendengar ucapan pendeta itu, sejauh ini Andre masih belum melamarnya bahkan membicarakan dengan serius tentang hubungan mereka yang sudah cukup lama. Ia benar-benar tercekat dengan pertanyaan pendeta itu, antar bingung ataupun tidak tau harus menjawab apa.
"Apakah kekasihmu yang membuat mu bingung dan membuat pilihan antara dia dan agama mu?" tanya pendeta itu lagi.
__ADS_1