
Setelah Lucy memutuskan untuk mempelajari agama Islam, Andre dengan sabar mengajari dan memberi pemahaman kepada kekasihnya itu. Sudah hampir 3 bulan Lucy mencoba untuk mendalami agama Islam, ia masih sangat antusias untuk mengetahui seluk beluk dari agama yang ia pelajari saat ini.
Hari ini Andre tidak dapat menemaninya karena ada pekerjaan penting, jadi Lucy memutuskan untuk pulang cepat dan berjalan-jalan menyusuri jalanan kota. Langkahnya terhenti setelah melihat sebuah mesjid dan tanpa sadar kini ia telah berada di halaman mesjid itu. Lucy menatap lekat ke dalam bangunan itu, jantungnya berdegup kencang seakan-akan semua orang dapat mendengar detak jantungnya itu.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang laki-laki.
Lucy yang masih terpana melihat bangunan itu sontak terkejut karena kedatangan laki-laki itu.
"Ah, maaf s-saya hanya kebetulan lewat dan melihat-lihat." ucap Lucy gagap.
"Oh tidak apa-apa, anda baru pulang bekerja? mau istirahat di sana?" tanya lelaki itu sopan sambil menunjuk teras mesjid.
"T-tidak, saya langsung pulang saja. Terima kasih." ucap Lucy langsung melangkahkan kakinya.
"Jika kamu ingin bertanya-tanya saya akan menjawabnya, datanglah kapan anda suka." ucap laki-laki itu setengah berteriak.
Lucy membalik badannya sambil tersenyum simpul, ia langsung melanjutkan langkah kakinya dan pergi meninggalkan pekarangan mesjid. Ia sesekali memukul kepalanya dan mengumpat, sampai saat ia sadar telah jauh ia berjalan langkah kakinya pun terhenti.
"Ah, apa yang aku lakukan? Bukankah sebaiknya aku menanyakan secara langsung kepada pria itu tentang muslim? Kenapa aku mengelak dan pergi? Apa aku belum siap untuk ini semua?" pikir Lucy termenung.
Ia melanjutkan langkah kakinya sambil berpikir dalam-dalam apa yang ia lakukan saat ini, tak lama ia tiba di apartemen dan masuk ke dalamnya. Ia membaringkan badan sambil menatap langit-langit kamarnya, sesekali ia memejamkan mata sambil berpikir apa yang barusan terjadi padanya. Tiba-tiba ia di kejutkan dengan dering ponselnya yang berbunyi, dengan segera Lucy mengangkat telepon yang ternyata itu dari Luna.
"Lucy, maafkan aku karena telah mengganggu waktu mu. Apa kau sibuk?" tanya Luna berterus-terang.
"Ah tidak nona Luna, aku sedang tidak melakukan apa-apa saat ini. Apa aku bisa membantumu?" tanya Lucy balik.
__ADS_1
"Ya aku butuh teman saat ini, aku akan menjemputmu sekarang." ucap Luna.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap dan menunggu mu." ucap Lucy sambil menutup ponselnya.
Lucy bergegas mengganti pakaiannya, sebenarnya ia sangat enggan untuk pergi dengan Luna, tapi mengingat Luna sudah banyak membantunya ia merasa segan dan mengikuti keinginan temannya itu. Setelah mengganti pakaiannya, Lucy langsung turun dari apartemen dan menunggu Luna di lobby. Ia berpikir mungkin harus berbagi dan menceritakan perasaannya saat ini pada Luna, siapa tau Luna punya solusi untuknya yang masih bimbang.
"Lucy aku sudah di luar, ayo keluarlah" sebuah pesan singkat dari Luna menandakan bahwa ia sudah sampai.
Lucy bergegas keluar dan mendapati Luna di dalam mobilnya, sesegera mungkin Lucy masuk ke dalam mobil Luna dan ikut entah kemana Luna akan membawanya.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengajakmu secara mendadak seperti ini." ucap Luna.
"Tidak apa-apa, aku juga bingung apa yang harus aku lakukan di rumah. Anda tau kan jika aku tidak mempunya teman sama sekali di kota ini." ucap Lucy dengan senyum bersemangat.
"Benarkah? Apa kau sudah tidak menganggap Carlo sebagai sahabat mu lagi?" tanya Luna meyakinkan.
"Takut jika Carlo akan merebut Andre dari mu?" tanya Luna mendadak.
Lucy hanya terdiam sambil menundukkan wajahnya, apa yang di ucapkan oleh Luna itu benar dan ia tak dapat memungkiri itu.
Tak berapa lama mereka tiba di sebuah cafe bernuansa santai dengan pemandangan pantai di belakangnya, debur ombak seakan menyambut kedatangan mereka berdua.
"Baiklah, mari kita pesan beberapa minuman dan makanan." ucap Luna.
Luna mengambil buku menu dan memilih-milih makanan yang akan di pesannya.
__ADS_1
"Kamu pesan apa? Aku tidak tau selera mu yang bagaimana." ucap Luna.
"Aku pesan sama seperti yang nona Luna pesan saja." ucap Lucy polos.
"Baiklah kalau begitu."
Luna memanggil pelayan dan memesan beberapa menu, tak lama kemudian pelayan pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Lucy, jangan terlalu menaruh harapan besar pada pasangan mu saat ini." ucap Luna memulai percakapan.
"K-kenapa anda berbicara seperti itu?" tanya Lucy sambil mengerutkan dahi.
"Kau tahu? Andre adalah seorang pebisnis muda yang sangat digandrungi oleh wanita muda, tidak hanya kesuksesannya. Agamanya tidaklah mudah untuk tergoyahkan, aku bukan menggurui mu hanya saja aku takut jika harapan mu untuk menjalani kejenjang yang lebih serius akan pupus." ucap Luna.
"Aku sudah memutuskan itu semua nona Luna, aku berencana akan ikut dengan ajaran Andre." ucap Lucy sedikit kurang yakin.
"Apa kau yakin? Aku tidak mempermasalahkan jika memang kau ingin seperti itu, hanya saja apa kau dapat menerima rasa kecewa keluarga mu? Dan apa kau yakin keluarganya akan menerima mu seutuhnya hanya karena kau sudah memeluk muslim? Saat ini saja ibu Andre belum bisa menerima keberadaan mu sebagai pacar anaknya, maaf jika aku mengatakan ini semua. Aku hanya mewanti-wanti agar dirimu tidak terlalu menderita nantinya." ucap Luna.
Lucy hanya terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Luna, ia tidak bisa memungkiri apa yang di katakan Luna semuanya benar.
"Nona Luna, apa ini juga alasan mu tidak pernah mengutarakan perasaan mu kepada Andre selama ini?" tanya Lucy tiba-tiba.
Luna menatap lekat wajah Lucy yang seakan-akan putus harapan dan menanti jawaban dari Luna.
"Ya, aku mencoba menahan dan menyadarkan diriku sendiri. Hubungan seperti itu, yang sudah salah dari awalnya akan menjadi duri yang menyakitkan semakin lama kita menjalaninya. Jadi aku lebih memilih diam." ucap Luna menjelaskan.
__ADS_1
Lucy kembali diam mendengar ucapan Luna, wanita sekelas Luna saja tidak mampu mengutarakan perasaanya kepada Andre. Bagaimana bisa ia yang dari wanita biasa menaruh harapan besar kepada lelaki yang sempurna seperti itu.