
Andre dan Lucy datang bersamaan memenuhi undangan Tiara yang mengajak untuk makan siang di sebuah restoran. Setiba di depan restoran nampak wajah gugup dari Lucy, sepertinya dia benar-benar masih merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan saat berjumpa dengan Tiara.
"Apa kau gugup? Tenang, dia hanya wanita biasa." ucap Andre menenangkan.
"Aku sedikit bingung harus bagaimana jika bertemu dan bertatap muka dengan nya nanti." ujar Lucy menunduk.
"Sudahlah, ayo kita masuk. Aku akan selalu di samping mu, dan juga kau adalah wanita ku bukan?" tanya Andre memberikan semangat.
Lucy mengangguk sambil menghembuskan nafas panjang. Mereka turun dari mobi dan berjalan masuk menuju restoran. Andre menggandeng tangan Lucy yang dingin bukan karena cuaca, melainkan karena gugup.
Andre melihat-lihat sekeliling restoran, ternyata Tiara sudah sampai duluan dan melambaikan tangan kearahnya saat melihat Andre masuk. Andre mendatangi Tiara an duduk di hadapannya, diikuti oleh Lucy yang duduk di samping Andre.
"Hy, kamu sudah lama menunggu?" sapa Andre.
"Owh tidak, aku juga baru sampai. Aku sudah memesan beberapa makanan, aku harap kalian suka." ucap Tiara tersenyum manis.
"Ini Lucy." ucap Andre singkat memperkenalkannya kepada Tiara.
Tiara menatap Lucy yang sedikit gugup, wanita mungil dengan rambut bergelombang dan bermata biru.
"Hy Lucy, aku Tiara. Senang bertemu dengan mu dan terimakasih sudah mau di undangan ku." ucap Tiara menyapa.
"Hy, maaf aku ikut bergabung bersama kalian." ucap Lucy merendah.
Tiara hanya tersenyum mendengar ucapan Lucy. Setelah makanan tiba, mereka menyantap makanan tersebut sambil berbincang-bincang. Tiara sangat menyukai Lucy yang apa adanya dan cerdas, ia yakin Andre telah menemukan wanita yang tepat untuknya saat ini.
Hampir satu jam mereka menghabiskan waktu untuk makan dan berbincang-bincang bersama. Tiba-tiba Tiara mengeluarkan sebuah kertas, ya kertas undangan.
"Aku mengundang kalian ke acara pernikahan ku." ucap Tiara sambil tersenyum.
"Kau...? Maksud ku, kau akan menikah?" tanya Andre terkejut.
"Ya, aku sudah memutuskan untuk menjalani kehidupan yang baru dan memulai semua dari awal lagi." ucap Tiara.
"Selamat, kamu berhak mendapatkannya." ucap Andre sedikit pelan.
__ADS_1
"Ya, aku harap kalian bisa datang." ujar Tiara tersenyum.
Tiara memandang Lucy yang tidak banyak bicara sedari tadi. Tiara meraih tangan Lucy dan menggenggamnya erat. Lucy yang melihat hal itu sedikit terkejut dan menatap Tiara.
"Lucy, terimakasih karena dapat meluluhkan hati dia. Aku harap kamu dapat menjaganya dengan baik, aku yakin kamu wanita yang tepat untuk Andre." ucap Tiara tersenyum.
"A-aku? Aku akan berusaha. Selamat akan pernikahan mu." ucap Lucy.
Dia benar-benar tak percaya jika Tiara akan berkata seperti itu. Tiba-tiba rasa bersalah merasuki relung hati Lucy yang sudah berfikir buruk sebelumnya kepada Tiara yang nyatanya tidak sama sekali menginginkan Andre.Ya, di mata Tiara Andre hanyalah sahabatnya masa kecil yang selalu ada di saat dia butuh.
"Aku akan undur diri terlebih dahulu. Maaf karena hal ini, aku harus mengurus beberapa persiapan." ucap Tiara undur diri.
"Ya silahkan, aku tau calon pengantin akan sangat sibuk menjelang resepsi pernikahannya." ucap Andre.
"Terima kasih, dan sekali lagi aku minta maaf." ucap Tiara berdiri.
Tiara pergi meninggalkan Lucy dan Andre yang masih duduk di restoran tersebut. Mereka sedikit terdiam satu sama lain, entah apa yang membuat mereka terdiam. Entah karena Andre yang merasa sedikit terpukul akan berita yang barusan di dengarnya atau Lucy yang tak menyangka akan mendapat sambutan hangat dari Tiara.
"Baiklah, bagaimana kalau kita pergi nonton." ajak Andre tiba-tiba.
"Ah mungkin itu saran yang baik. Film apa yang akan kita tonton nanti?" tanya Lucy.
Lucy meraih uluran tangan dari Andre dengan senyum yang merekah dan ikut berdiri. Mereka berjalan keluar restoran sambil bergandengan tangan. Namun ada rasa sedikit mengganjal di hati Lucy saat ini. Bagaimana tidak, Andre tidak membahas masalah undangan dari Tiara sedari Tiara pergi meninggalkan mereka. Ia sedikit berharap kalau Andre akan merundingkan sesuatu kepadanya.
Setiba di bioskop, Andre dan Lucy bergandengan sambil melihat-lihat film apa yang akan mereka tonton untuk menghabiskan waktu bersama. Tiba-tiba ada yang memanggil Lucy dari arah kasir.
"Lucy... Lucy..." teriak seorang wanita.
Sontak saja itu membuat Lucy menoleh ke sumber suara. Ternyata yang memanggilnya adalah Caren temannya, ia menghampiri Lucy dengan langkah sedikit berlari.
"Hy Caren sedang apa kau di sini?" sapa Lucy.
"Aku bekerja paruh waktu di sini, kau sendiri sedang apa di sini?" tanya Caren.
"Aku berencana mau nonton. Owh ya kenalkan dia Andre, Andre ini Caren." ucap Lucy memperkenalkan.
__ADS_1
Caren mengulurkan tangan memperkenalkan diri. Ia memandang wajah tampan Andre dengan postur tubuh proporsional. Dan wajar saja jika Lucy sangat tertarik dan jatuh hati kepada Andre.
"Kalian akan menonton film apa? Mau aku rekomendasikan film yang bagus untuk kalian tonton?" tanya Caren.
"Boleh, mungkin kami akan menontonnya." ucap Lucy.
Caren dan Lucy berjalan didepan Andre yang mengikuti mereka dari belakang. Setelah menyetujui untuk menonton satu film yang di sarankan oleh Caren, mereka berpisah dan masuk kedalam bioskop.
"Apa kamu tidak menyukai Caren? Kamu tidak banyak bicara terhadapnya." ucap Lucy.
"Bukan begitu, aku hanya susah untuk bergaul dengan orang baru." ucap Andre memberi alasan.
"Dia teman ku waktu aku tinggal di pinggiran kota, dan bertemu dengannya dan mengundangnya ke rumah kemarin karena sudah lama tak berjumpa." cerita Lucy.
"Apa dia mengenal ayah mu?" tanya Andre serius.
"Ya, dia mengenal ayahku termasuk tabiatnya yang suka mabuk dan berjudi." ucap Lucy.
"Bagaimana jika dia mengadukan keberadaan mu kepada ayah mu?" Tanya Andre.
"Tidak mungkin, dia sangat menjaga ku selama ini. Kalaupun ayah tau keberadaan ku, aku tidak akan mau kembali kepadanya." ucap Lucy mencoba menjelaskan.
"Ya, jika kau sempat kembali kepadanya aku akan menarik paksa mu untuk tinggal di tempat ku." ucap Andre setengah mengancam.
Lucy tersenyum mendengar ucapan Andre, ia yakin Andre pasti akan melindunginya mau bagaimanapun orang berusaha menyakitinya.
"Jangan menatap ku terus, kau akan ketinggalan filmnya nanti." ucap Andre.
"Menatap lebih baik di bandingkan menonton film itu." ucap Lucy tersenyum.
"Sejak kapan kau pandai merayu?" tanya Andre tersenyum dan mendekatkan wajahnya.
"Menjauh dari ku, disini banyak orang." ucap Lucy menjauhkan wajahnya dan mendorong Andre.
"Jadi, sekarang kau takut di keramaian? Baiklah, aku akan memintanya saat kita hanya berdua saja." ucap Andre merayu.
__ADS_1
"Berhenti bicara omong kosong, lihat filmnya sudah mulai." ucap Lucy mengalihkan pandang.
Andre hanya tersenyum melihat tingkah Lucy yang tiba-tiba tersipu malu.