
Melihat jam di ponselnya sudah menunjukan jam 22.47 Andre bangkit dari sofa dan mengenakan pakaian hangatnya. Melihat akan hal itu Lucy berdiri dengan kepala tertunduk.
"Kenapa ekspresi mu seperti itu?" Tanya Andre merasa heran.
"Tidak, saya hanya sedikit sungkan untuk menatap tuan. Apa tuan akan pulang sekarang?" Lucy berbalik bertanya.
"Ya, ini sudah larut malam. Kau harus istirahat dan jangan begadang. Kau harus benar-benar menjaga kesehatan mu sendiri." Ucap Andre menasehati.
"Umm, baiklah tuan. Aku akan mengingat semua apa yang tuan katakan. Berhati-hatilah di jalan." Ucap Lucy.
"Baiklah, aku pulang." Ucap Andre berjalan menuju pintu.
Lucy mengantar Andre menuju pintu dan melihatnya melangkah keluar dari apartemennya. Ia masuk setelah melihat aba-aba dari Andre yang menyuruhnya masuk.
"Ohh jantung ku.... Tolong berhentilah berdebar, jangan berharap lebih dengannya. Kau harus sadar, dan jangan melewati batas." ucap Lucy sambil meletakkan kedua tangannya di dada.
Andre langsung memasuki mobil di parkiran, dan lagi-lagi ia menyandarkan kepalanya ke setir mobil.
"Ahh, entah apa yang aku lakukan pada wanita itu. Dia hanya seorang anak kecil yang lugu, jangan sampai kau terjebak di kisah rumit wanita lagi." ucap Andre sambil merapikan duduknya.
Ia menghidupkan mobilnya dan pergi meninggalkan gedung apartemen tempat Lucy tinggal. Jarak antara apartemen Lucy dan Andre tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit.
______________
Andre tiba di apartemennya, ia membuka pintu dan menggantungkan baju hangatnya. Ia berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya di sofa itu. Andre kembali mengecek ponselnya dan kembali melihat-lihat fotonya dengan Tiara yang masih belum terhapus.
Tiba-tiba wajah Lucy muncul di dalam benarnya dan membuatnya tersentak. Andre mematikan ponselnya dan meletakannya di atas meja.
"Aku lupa, dia tidak ada ponsel. Sepertinya besok aku akan membawanya untuk membeli ponsel. Tapi, Kenapa aku harus membelikannya? Dia bahkan hanya bisa menyusahkan ku saja." gumam Andre
Andre bangkit dari sofa menuju kamarnya. Ia mengganti pakaian dan mencoba untuk tidur. Namun hatinya masih terasa gelisah, entah karena apa ia pun kurang mengerti.
"Ahh sialan. Baiklah, besok akan aku temani kau membeli ponsel. Anggap saja itu bonus karena sudah bertahan hidup." ucap Andre mencoba berdamai dengan hatinya.
__ADS_1
Andre memejamkan mata dan mencoba tidur. Tak butuh waktu lama ia terlelap dalam mimpinya dan melupakan segala kelelahan duniawi.
_________________
Pagi-pagi sekali Lucy bangun dan bergegas mandi. Ia juga merapikan apartemennya dan menyusun beberapa perabotan yang menurutnya kurang pas. Setelah selesai, Lucy duduk dengan nafas terengah-engah.
"Ahh melelahkan sekali. Tapi ini cukup lebih baik di bandingkan kemarin." ucap Lucy kelelahan.
Tiba-tiba perutnya terasa lapar, dan ia bergegas untuk bangkit menuju dapur mininya. Ia melihat-lihat apa yang ada di dapur saat itu. Dapur itu cukup komplit walaupun berukuran kecil. Lucy berinisiatif untuk membeli beberapa makanan dan memasaknya.
Ia mengambil baju hangat dan mengenakannya, cuaca hari ini sangat cerah namun tetap terasa dingin. Lucy berjalan menuju mini market yang ada di seberang jalan gedung apartemennya dengan membawa kartu kredit yang di berikan oleh Andre.
Dengan sedikit ragu-ragu ia menggunakan kartu kredit itu, ia takut jika terlalu banyak menggunakan uang Andre akan memarahinya. Lucy membeli beberapa mie instan, bubuk coklat hangat, dan susu. Setelah membayar ia bergegas menuju kembali ke apartemennya.
Di sisi lain, ponsel Andre berdenting akan notifikasi pemberitahuan dari kartu kreditnya. Andre yang masih tertidur seketika bangun dan melihat ponselnya.
"Pembayaran menggunakan kartu kredit anda sukses" Tulis pesan itu.
Andre kembali menjatuhkan tubuhnya dan menarik selimutnya. Tapi ia kembali bangun dengan mengerutkan keningnya.
Andre bangkit dengan perasaan malas, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dan berpakaian rapi ia menuju mobil dan menghidupkan mobilnya, ia pergi menuju ke apartemen Lucy.
Setiba di sana Andre mengetuk pintu, tak butuh waktu lama Lucy membukakan pintunya dan melihat Andre di sebalik pintu apartemennya.
"Tuan, kenapa pagi-pagi sekali anda sudah kemari?" Tanya Lucy penasaran.
Andre tidak menghiraukan ucapan Lucy dan masuk tanpa minta persetujuannya pula. Andre duduk di sofa sambil memperhatikan sekeliling. Ternyata, ia melihat Lucy yang sedang memasak mie instan. Mata Andre seketika melotot melihat akan hal itu.
"Ganti pakaian mu dan ayo pergi." Perintah Andre.
"Kemana kita akan pergi tuan? Saya sedang membuat sarapan." ucap Lucy mematikan kompornya.
"Apa kau berani membantah ku?" Tanya Andre.
__ADS_1
"Tidak-tidak, baiklah aku akan bergegas mengganti pakaian." ucap Lucy berlari menuju kamarnya.
Benar saja, tak butuh waktu lama Lucy sudah kembali keluar dengan menggunakan dress terusan bermotif kupu-kupu yang di belikan Andre. Ia mengenakan baju hangatnya dan syal ke lehernya.
Andre mendekati Lucy dan membuat Lucy sedikit terkejut. Andre semakin mendekat dan mencoba merapikan syal yang melilit di lehernya.
"Kau bukan akan kecil lagi, untuk memaki ini pun kau tidak paham." ucap Andre.
Dan seketika jantung Lucy kembali berdebar kuat dengan diiringi pipinya yang terasa panas. Tanpa memperdulikan reaksi Lucy, Andre pergi meninggalkan Lucy yang masih mencoba mengatur nafasnya.
Lucy mengunci pintu apartemennya dan berlari mengejar Andre yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya.
Mereka menaiki mobil dan bergegas pergi meninggalkan apartemen Lucy. Andre membawa Lucy kesebuah pusat perbelanjaan, ia membeli beberapa pakaian dan menuju toko ponsel.
"Pilih salah satu yang kau suka. Aku akan membelikannya untuk mu." ucap Andre.
"Tidak perlu tuan, saya tidak memerlukan itu. Ini semua sangat mahal." ucap Lucy.
"Aku menyuruhmu membeli ini agar aku bisa menghubungimu tanpa harus datang ke apartemen mu itu." ucap Andre.
Memang masuk akal apa yang di katakan oleh Andre barusan, ia sedikit kerepotan jika harus mondar-mandir ke apartemen Lucy. Walau pun itu hanya sekedar alasannya saja.
"Baiklah kalau begitu saya pilih yang ini saja." ucap Lucy menunjuk sebuah ponsel.
"Aku tidak suka dengan model seperti itu, berikan aku ponsel keluaran terbaru." ucap Andre kepada pegawai toko.
"Tuan, itu sangat mahal." ucap Lucy.
"Itu mahal menurut mu, tapi tidak menurut ku." ucap Andre tanpa melihat kearah Lucy.
Lucy terdiam mendengar ucapan Andre, ia merasa malu mendengarnya dan juga ada sedikit rasa kesal.
"Apakah semua laki-laki kaya seperti ini? Menghamburkan banyak uang tanpa memikirkannya terlebih dahulu." batin Lucy.
__ADS_1
Namun Lucy tidak memiliki kekuatan untuk membantah setiap omongan yang keluar dari mulut Andre. Ia hanya pasrah dengan kehidupannya yang sudah di ikat dengan "majikan" nya itu.