
Lucy dan Andre kini duduk di hadapan ibu Andre yang menatap bengis ke arah mereka berdua. Lucy menundukkan kepalanya ketakutan, sedangkan Andre seakan acuh tak acuh dengan apa yang terjadi.
"Jadi, apa yang akan kalian jelaskan kepada ku soal kejadian tadi?" tanya ibu Andre.
"Kan sudah ku katakan sebelumnya bu, ibu hanya salah paham. Saya mendobrak pintu kamar mandi karena khawatir dengan keadaan dia yang tidak bersuara saat di panggil." jelas Andre.
"Iya nyonya, saya benar-benar minta maaf. Karena kelelahan saya tertidur saat berendam tadi dan tidak mendengar ketika di panggil." ucap Lucy membenarkan.
"Tetap saja, apa yang kalian lakukan itu salah. Terlebih lagi kamu, bisa-bisanya tertidur saat mandi. Jika benar terjadi apa-apa dengan mu bagaimana? Jangan sampai kau menyusahkan anak ku." ucap ibu Andre marah.
"Maaf nyonya, saya tidak akan mengulanginya lagi. Ini memang kesalahan saya." ucap Lucy menyesal.
"Sudahlah bu, ini benar-benar bukan sesuatu hal yang harus di permasalahkan. Kami kan tidak melakukan hal-hal yang merusak norma." ucap Andre mencoba melerai.
"Ya ku akui kalian yang sudah lama hidup di sini tidak memikirkan hal sepele seperti itu. Tapi bagi kita orang Indonesia itu hal yang memalukan, bagaimana bisa laki-laki dan perempuan berada di dalam kamar mandi bersama-sama tanpa ikatan pernikahan? Jangan budaya barat mempengaruhi etika dan adab mu." ucap ibu Andre.
Andre hanya diam dan tida membalas ucapan ibunya. Mau bagaimanapun ia menjelaskan ibunya pasti akan mempunyai berbagai macam alasan untuk menjatuhkan kekasihnya itu.
"Jadi, apa kita tidak akan makan malam karena kejadian ini?" tanya Andre.
"Huuft sudahlah, aku akan memaafkan kalian kali ini. Ayo kita sholat magrib dulu." ucap ibu Andre.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memanggil Alex." ucap Andre pergi meninggalkan ibunya dan Lucy.
Ibu Andre beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar untuk menemui Ratih di dalam kamar. Tinggallah Lucy yang duduk terdiam di ruangan itu seorang diri.
"Ratih, ayo bersiap-siap untuk sholat magrib." ucap ibu Andre.
__ADS_1
"Baik bu, aku akan menyusul setelah ini." ucap Ratih bangkit dari kasur.
Tak lama kemudian mereka melangsungkan sholat magrib berjamaah, Lucy hanya memperhatikan mereka dengan seksama. Saat seperti ini ia di sadarkan akan tembok tinggi pemisah antara dia dan Andre. Walau selama ini ia berusaha menutup rapat tentang perbedaan yang ada di antara mereka, kini seakan tamparan kuat melekat di wajahnya untuk menyadarkan perbedaan dan jurang yang dalam antara kedua insan ini.
Lucy beranjak dari tempatnya menuju dapur, ia mempersiapkan makanan dan meletakan piring-piring di tempatnya. Ia mencoba menjernihkan dan berdamai dengan hatinya sendiri, ia tidak ingin terlalu memikirkan perbedaannya.
"Baiklah, ini bukanlah masalah besar. Aku harus jauh lebih kuat dan berpikir positif agar tidak mengacaukan semuanya." gumam Lucy sambil meletakan piring dan sendok di meja.
Tak lama berselang Andre dan keluarganya beserta Ratih tiba di ruang makan. Ibu Andre melihat semua sudah tertata rapi dan tidak ada satupun yang terlewatkan oleh Lucy.
"Baiklah, ayo kita makan malam bersama-sama. aku sudah mulai lapar." ucap ibu Andre.
Andre dengan sigap menarik kursi dan mempersilahkan ibunya untuk duduk, setelah itu ia juga melakukan hal yang sama kepada Lucy.
"Duduklah, kau sudah bekerja keras hari ini. Aku akan mengambilkan mu makanan." ucap Andre yang kini duduk di samping Lucy.
"Dia sudah dewasa, dia bisa mengambil makanan yang dia mau sendiri tanpa harus kau yang melakukannya." ucap ibu Andre.
"Kamu tidak perlu melakukannya sejauh ini, aku bisa mengambilnya sendiri." ucap Lucy.
"Sudah ku ambilkan, kau sudah bisa langsung makan. Atau kau mau aku suapi?" tanya Andre.
"Ah tidak-tidak, aku akan makan sendiri." ucap Lucy menolak.
"Baiklah,mungkin ini baru pertama kali bagi mu makan seperti ini. Tapi kau bisa memakan apa yang kau suka terlebih dahulu, tidak perlu memikirkan orang lain." ucap Andre.
Lucy hanya mengangguk mendengarkan ucapan Andre. Ia melihat sekelilingnya yang sudah mengambil nasi dan meletakkannya ke dalam piring, jujur ini pertama kali bagi Lucy untuk mencoba masakan dari Indonesia. Sebelumnya ia belum pernah mencicipi bahkan melihat masakan yang hari ini ia masak bersama ibu Andre.
__ADS_1
Lucy mencoba memakan masakannya hari ini, saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya ia benar-benar tercengang dengan rasa yang kini ada di dalam mulutnya itu. Ia benar-benar terdiam untuk sesaat sambil menatap kosong ke arah piringnya.
"Ada apa? Apa kau tidak menyukainya?" tanya Andre.
"Tidak, ini sangat enak. Walaupun agak pedas, tapi ini benar-benar enak." ucap Lucy tak percaya.
"Benarkah? Kau menyukainya? Sepertinya lidah mu cocok dengan masakan Indonesia. Dan kau juga sudah pandai memasaknya, lain kali buatkan aku masakan ini ok." ucap Andre.
Mereka menikmati makan malam bersama sambil bercerita-cerita hal-hal menarik. Setelah selesai makan malam, Lucy melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 20.00. Ia pun menghampiri Andre yang sedang berbincang dengan ibunya di ruang keluarga.
"Hey, kemarilah dan duduk di sini." ucap Andre sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
"Mas ini sudah malam, aku pamit mau pulang." ucap Lucy yang masih berdiri.
"Secepat ini? ah baiklah, tunggu aku akan mengantar mu." ucap Andre berdiri.
"Tidak usah, aku bisa naik angkutan umum. Dan lagi ini belum terlalu malam." ucap Lucy.
"Tidak, biarkan aku mengantar mu. Tunggu sebentar, aku akan mengambil kunci mobil." ucap Andre berlalu.
Lucy hanya terdiam melihat Andre yang bergegas pergi menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Nampak rasa tidak senang dari ibu Andre tersirat di wajahnya.
"Nyonya, saya pamit pulang." ucap Lucy sopan.
"Baiklah, hati-hati di jalan." ucap ibu Andre singkat.
"Ya, terimakasih telah mengajarkan saya cara memasak masakan Indonesia hari ini. Masakan anda benar-benar nikmat." ucap Lucy memuji.
__ADS_1
"Ya, tapi kau juga tadi sudah banyak membantu ku. Jadi terimakasih juga atas bantuan mu." ucap ibu Andre.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." ucap Lucy meninggalkan ruang keluarga.