S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#64


__ADS_3

"Baiklah, ini sudah malam. Bagaimana jika kita makan malam?" tanya Andre.


"Iya aku setuju, aku juga sudah sangat lapar." ucap Lucy.


"Itu kan karena teman mu yang membuat kita semua terlambat untuk makan malam." ucap Leon ketus.


"Sudah, ayo kita pergi. Lagian urusan di sini sudah selesai." ucap Andre menggandeng tangan Lucy.


Mereka pun pergi meninggalkan apartemen Carlo dan mencari restoran terdekat untuk mengisi perut. Lucy membantu Carlo, Andre dan Leon memesan beberapa menu makanan untuk di santap. Tak menunggu waktu lama makanan yang di pesan pun datang dan mereka segera menyantapnya karena memang sudah lewat jam makan malam.


Setelah selesai makan malam mereka duduk-duduk terlebih dahulu di restoran sambil menikmati pencuci mulut yang di sediakan pihak restoran.


"Aku benar-benar minta maaf untuk hari ini karena telah merepotkan kalian semua." ucap Carlo tulus.


"Tidak masalah Carlo, memilih tempat tinggal memang tidak mudah." ucap Lucy.


"Iya, syukurlah karena kalian ini jauh lebih cepat daripada mencari sendiri. Dan juga untuk tuan Leon saya benar-benar sangat berterimakasih." ucap Carlo.


Leon tidak menanggapi ucapan dari Carlo, dia sedang asik memakan puding buahnya tanpa menghiraukan perasaan Carlo.


"Jadi, bagaimana jika malam ini kamu menginap dulu di rumah ku? Ini sudah malam dan juga tempat lama mu jauh dari sini. Besok aku akan membantu mu untuk pindah ke rumah baru." ucap Lucy bersemangat.


"Tidak usah Lucy, aku bisa pulang naik bus malam. Dan aku juga ingin menghabiskan malam terakhir di kontrakan yang selama ini aku tinggali." ucap Carlo menolak.


Lucy hanya diam sambil mengangguk namun raut wajahnya menunjukan mimik sedih mendengar ajakannya di tolak oleh sahabatnya sendiri.


"Kau tidak usah sedih, aku akan mengunjungi mu besok dan kita akan menata rumah baru ku bersama-sama besok. Bagaimana menurut mu?" tanya Carlo.


"Benarkah? Baiklah kalau begitu aku setuju, tapi apa aman bagi mu untuk pulang larut malam seperti ini?" tanya Lucy setengah percaya.


"Tenanglah, aku akan naik bus dan itu terjamin keamanannya. Aku janji setiba di rumah aku akan langsung menghubungi mu." ucap Carlo.


Lucy mengangguk mendengar ucapan sahabatnya itu, tiba-tiba ia melirik ke arah Andre berharap kekasihnya mengerti akan pandangannya itu.


"Baiklah, ini sudah malam kita harus pulang. Tidak baik jika kalian masih di luar jam segini." ucap Andre tidak memperdulikan tatapan Lucy.

__ADS_1


Leon berjalan terlebih dahulu meninggalkan yang lain, dan Andre langsung berdiri sambil menggenggam tangan Lucy dan mengajaknya berjalan. Sedangkan Carlo hanya bisa mengikuti mereka dari belakang dengan pandangan iri.


"Mas, apa kamu tidak bisa mengantar Carlo ke apartemen lamanya? Ini sudah larut malam, aku sedikit takut membiarkannya naik bus." tanya Lucy berbisik pada Andre.


"Kau kan tau mobil ku tertinggal di kantor, dan kita ke sini memakai mobil Leon. Bagiamana bisa aku akan mengantar sahabat mu itu." ucap Andre.


"Bagaimana jika kamu yang berbicara pada tuan Leon untuk mengantarkannya? Aku benar-benar khawatir." ucap Lucy.


"Baiklah aku akan bertanya padanya, aku yakin dia mau membantu untuk mengantarnya." ucap Andre.


"Benarkah? Terimakasih sayang." ucap Lucy manja.


"Aku tidak memberikan ini gratis, kau harus membayarnya nanti." ucap Andre tersenyum licik.


"Ahh, aku benar-benar berpacaran dengan seorang pebisnis yang tidak mau rugi." ucap Lucy sambil menyipitkan matanya.


"Kau bisa mengantar aku dan Lucy kembali ke kantor, aku akan mengambil mobil ku di sana." ucap Andre memberitahu Leon.


"Aku juga tidak ingin mengantar mu, cukup hari ini aku menjadi supir mu." ucap Leon kesal.


Leon menatap Andre dengan wajah kesal sambil mengerutkan dahinya.


"Apa? Kau benar-benar kelewatan." ucap Leon marah.


"Apa kau tega membiarkannya naik bus malam, ini tidak baik bagi wanita." ucap Andre santai.


"Oh tuhan, aku benar-benar kesal hari ini. Bisakah aku memukul mu sekali saja?" tanya Leon kesal.


"Kau akan melakukan itu di awal jika kau tak menganggap ku sahabat mu." ucap Andre.


Leon hanya diam tak menanggapi ucapan Andre, ia benar-benar tak bisa berbuat jahat kepada sahabatnya itu mengingat Andre juga sudah banyak membantunya selama ini.


"Tuan Leon, maaf karena merepotkan mu. Lain kesempatan aku akan mengajak mu makan siang." ucap Lucy membujuk.


"Aku akan menagih janji mu." ucap Leon melunak.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak perlu di antar juga tidak apa-apa, kalau memang tuan Leon sangat sibuk." ucap Carlo.


"Jangan buat aku seolah-olah lelaki yang tidak berperasaan. Kau cukup beritahu alamat mu dan aku akan mengantar mu." ucap Leon dingin.


Carlo diam mendengar ucapan Leon yang dingin, ia merasa Leon adalah lelaki yang sulit untuk di bujuk. Andre dan Lucy turun di depan kantor, sedangkan Carlo tetap berada di mobil Andre dengan posisi kini dia duduk di depan bersebalahan dengan Leon.


"Tuan Leon terimakasih banyak karena telah mengantar kami dan sahabat ku. Aku tidak akan lupa untuk membalas Budi nantinya." ucap Lucy manis.


"Bagilah kalau begitu aku akan pulang dulu, selamat malam." ucap Leon.


"Aku pulang dulu ya, sampai jumpa esok." ucap Carlo.


"Hati-hati di jalan dan hubungi aku jika kau sudah sampai." ucap Lucy.


Carlo hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lucy, mereka pun berangkat meninggalkan Andre dan Lucy. Lucy melambaikan tangannya dan berbalik ke arah Andre yang berdiri di belakangnya.


"Ayo kita juga harus pulang, aku sudah agak mengantuk." ucap Lucy manja.


"Kau...? Mengantuk...? Tumben?" tanya Andre heran.


"Iya, aku butuh tenaga ekstra untuk besok. Aku harus bekerja dan membantu Carlo menata rumah barunya." ucap Lucy.


"Kau bisa menolaknya jika kau lelah, kau harus memikirkan tubuh mu sendiri sebelum membantu orang lain." ucap Andre.


"Mana mungkin, Carlo aalah sahabat ku jadi aku harus membantunya karena dia juga selalu membantu ku selama ini." ucap Lucy.


Andre hanya diam tidak menanggapi ucapan kekasihnya itu, ia melangkahkan kakinya menuju tempat parkir mobilnya dan segera masuk ke dalam mobil untuk mengantar Lucy pulang.


Di sisi lain Carlo dan Leon hanya diam seribu bahasa di dalam mobil tanpa ada yang mau memulai untuk berbicara. Carlo merasakan aura kebencian yang keluar dari tubuh Leon membuatnya takut untuk berbicara.


"Apa kau sudah lama mengenal Lucy?" tanya Leon tiba-tiba.


"Owh, iya. Aku bertemu dengannya saat pertama kali kami menjadi kasir di sebuah minimarket pinggiran kota." ucap Carlo.


"Jadi kau juga kenal dengan ayahnya bukan? Dan kenapa sekarang kau ada di kota ini? Kenapa tidak menetap di pinggiran kota?" tanya Leon penasaran.

__ADS_1


__ADS_2