S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#22


__ADS_3

Keesokan harinya, dokter sudah mengizinkan Lucy untuk keluar dari rumah sakit. Sebelumnya dokter memeriksa secara detail kondisi keadaan Lucy saat ini. Dan ternyata Lucy pulih lebih cepat di banding perkiraan.


"Ya, kondisi mu sekarang jauh lebih baik. Ingatlah untuk selalu berhati-hati dan menjaga diri, kau akan jauh lebih sulit untuk pulih jika terluka lagi." Ucap dokter.


"Apa dia sudah bisa keluar hari ini?" Tanya Andre.


"Ya tentu, setelah kau menyelesaikan administrasinya. Siang ini Lucy sudah boleh keluar." Ucap dokter sambil tersenyum.


"Baiklah, terima kasih dok." Ucap Andre.


Lucy hanya mengangguk mendengar percakapan antara Andre dan dokter. Entah kenapa, yang seharusnya ia merasa senang karena akan keluar dari rumah sakit ini, tapi ia merasakan hal yang sebaliknya. Mungkin ia sedikit sedih karena harus berpisah dengan Andre yang sudah beberapa hari ini merawatnya.


Andre keluar untuk mengurus administrasi Lucy, dan ia berkemas-kemas barangnya dan bersiap untuk pulang. Baju-baju yang di susunnya saat ini semuanya adalah pemberian dari Andre.


"Ahh, entah perasaan apa ini. Tiba-tiba hatiku terasa sakit memikirkan akan berpisah dengan lelaki dingin itu." Gumam Lucy.


Ia melanjutkan mengemas pakaiannya dan mengalihkan pikirannya dari Andre.


Di sisi lain, Andre menyelesaikan administrasi Lucy dan berjalan menuju kamar tempat Lucy di rawat.


"Apa kau sudah menyiapkan barang-barang mu? Kau sudah bisa keluar siang ini. Aku sudah menyelesaikan semuanya." Ucap Andre.


"Iya, aku sudah siap dan semuanya sudah ku kemas." Ucap Lucy sambil mengangguk pelan.


"Baiklah kalau begitu, ayo pergi dari sini. Rumah sakit ini sangat membosankan bagi ku." Ucap Andre sambil membawa tas berisikan barang-barang Lucy.


"Ah tuan, biar saya yang bawa." Ucap Lucy, namun tidak di hiraukan oleh Andre yang tetap berjalan keluar kamar.


Lucy mengikutinya dari belakang seperti anak itik, ia sesekali memandang tubuh Andre yang tinggi dengan bahu lebar. Mereka berjalan menuju mobil Andre dan menaikinya. Setelah itu, Andre melajukan mobilnya menjauh dari rumah sakit.


"Tuan, anda bisa menurunkan saya di stasiun kereta api? Saya berencana akan pulang ketempat nenek dan bekerja di sana." Ucap Lucy memulai percakapan.


Andre hanya diam seribu kata, ia benar-benar tidak menghiraukan ucapan Lucy yabg keluar dari bibir tipisnya.

__ADS_1


"Saya tidak akan kabur dan akan mengganti semua kerugian yang sudah tuan alami karena menolong saya." Ucap Lucy lagi.


"Duduklah diam dan ikut dengan ku. Kau harus sedikit lebih patuh setelah apa yang selama ini menimpa mu." Ucap Andre tanpa melihat kearah Lucy.


Lucy terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Andre dan duduk diam seperti yang di perintahkan.


Mobil Andre tiba-tiba berhenti kesebuah toko kue. Andre turun terlebih dahulu, dan Lucy tetap duduk manis di dalam mobil yang sudah di matikan oleh Andre. Melihat hal itu, Andre berbalik kedalam mobil dengan tatapan menusuknya.


"Apa kau mau mati kehabisan oksigen di dalam mobil ini? Kau tidak melihat mobil ini di matikan? Turun." Perintah Andre kesal.


Melihat Andre yang marah, Lucy bergegas turun dan tidak berani berkomentar. Mana dia tau kalau Andre mengajaknya turun dan menyuruhnya mengikuti Andre.


Mereka duduk di sebuah meja toko kue itu, Andre memesan beberapa kue coklat dan minuman hangat. Mengingat hari semakin dingin dan salju sudah semakin deras turun.


"Makanlah, setelah ini aku akan membawa mu ke apartemen." Ucap Andre sambil menyeruput kopi nya.


"Kenapa kita ke apartemen tuan?" Tanya Lucy heran.


"Kau sudah banyak menghabiskan uang ku, dan sebagai gantinya kau harus bekerja di perusahaan ku dengan gaji yang di potong setiap bulannya." Ucap Andre serius.


"Aku harus memantau mu agar kau tidak lari. Jangan berpikir terlalu jauh." Ucap Andre menegaskan.


Lucy tersenyum lebar, ia tak menyangka jika dapat bekerja di suatu perusahaan. Mengingat Lucy hanyalah seorang tamatan SMA dari sebuah sekolah di desa. Tiba-tiba air mata Lucy mengalir dan membasahi pipinya yang merona. Melihat itu Andre sedikit terkejut dan merasa bersalah.


"Apa perkataan ku terlalu menyakiti mu? Kenapa kau menangis? Hentikan itu, orang akan berpikir aku sedang menyakitimu." Ucap Andre memberikan tisu kepada Lucy yang tertunduk.


"Tidak, bukan itu tuan. Saya hanya sedikit bersyukur karena bisa bertemu dengan tuan. Entah apa jadinya jika saya bertemu dengan orang lain." Ucap Lucy sambil menggeleng.


"Berhentilah menangis, aku juga manusia. Mana mungkin membiarkan mu mati di tangan David." Ucap Andre lembut.


"Terima kasih tuan, aku benar-benar sangat berterimakasih." Ucap lucu lagi.


"Baiklah, berhentilah menangis. Jika tidak, kue mu itu tidak akan enak di makan lagi nantinya." Ucap Andre

__ADS_1


Lucy menyeka air matanya dan tersenyum. Ia melanjutkan memakan kuenya dan menikmati minuman hangatnya. Setelah selesai menikmati kue, mereka berjalan menuju apartemen yang di belikan Andre untuk di tinggali Lucy.


Andre mengurus semua keperluan Lucy di apartemen itu, sedangkan ia menunggu di lobby. Lucy memandangi Andre dari kejauhan.


"Ya, kau benar-benar tampan dan baik. Tapi entah kenapa sifat mu Dangan dingin." Gumam Lucy sambil melihat kearah Andre.


Andre berjalan mendekati Lucy yang duduk manis di sofa lobby. Ia pun ikut duduk di hadapan Lucy dan meletakan kunci apartemen dan beberapa berkas-berkas kepentingan apartemen.


"Itu kunci kamar mu dan surat-surat nya. Kau harus menyimpannya dengan baik." Ucap Andre.


"Apa aku tinggal di sini sendirian tuan?" Tanya Lucy polos.


"Apa kau berharap aku juga tinggal dan mengurus mu lagi?" Tanya Andre sambil mengerutkan dahinya.


"Tidak, bukan begitu. Saya bisa mencari kontrakan yang jauh lebih murah tuan. Ini pasti sangat mahal." Ucap Lucy melihat sekeliling bangunan itu.


"Apa kau berfikir aku akan memotong gaji mu lagi jika kau tinggal di sini?" Tanya Andre.


Lucy mengangguk kencang mendengar pertanyaan Andre. Ia benar-benar takut jika gajinya yang sudah sedikit akan di potong lagi dengan iuran tempat tinggal mewahnya ini.


"Tenanglah, aku memberikan ini gratis untuk mu. Selama kau tidak kabur, kau aman tinggal di sini. Tapi jika kau pergi, aku akan mengurus semuanya sampai kau tidak dapat kemana-mana." Ancam Andre.


"Tuan, sudah saya katakan saya tidak akan kabur." Ucap Lucy sedikit kesal.


"Baiklah, istirahatlah dan bawa ini sebagai pegangan mu." Ucap Andre memberikan sebuah kartu kredit.


"Ini... Tidak usah tuan, saya akan bekerja dan menghasilkan uang nantinya." Ucap Lucy.


"Kau menerima gaji mu setelah bekerja. Sekarang kau belum bekerja. Sudahlah, terima dan masuklah ke kamar mu. Aku juga harus pulang." Ucap Andre meninggalkan Lucy.


"Tuan.... Terima kasih." Teriak Lucy.


Andre hanya tersenyum tanpa melihat kearah Lucy. Ia terus berjalan meninggalkan wanita itu di tempat yang menurutnya lebih aman di bandingkan rumahnya. Andre memasuki mobilnya dan menghidupkan mesinnya untuk berjalan pulang.

__ADS_1


"Ah, kau akan benar-benar dalam masalah besar kali ini. Kenapa harus berurusan dengan wanita lagi? Apa kau tidak takut untuk di sakiti lagi?" Gumam Andre sambil memijit dahinya.


__ADS_2