
Andre mengantar Lucy pulang ke apartemennya setelah menyelesaikan makan malam bersama yang lainnya. Wajah Lucy di penuhi rasa puas karena hari ini dia menghabiskan waktu bersama-sama orang yang baik kepadanya.
"Mas, terimakasih karena telah mengajak ku pergi hari ini. Mengenalkan ku dengan orang-orang yang baik, aku tidak tau apa jadinya jika aku tidak bertemu dengan mu." ucap Lucy tulus.
"Jadi bagaimana cara mu membalas kebaikan ku ini?" tanya Andre dengan tatapan mesum.
"Berhenti menatap ku seperti itu, aku benar-benar tulus berterimakasih kepada mu mas." ucap Lucy sedikit takut.
"Ha ha ha, kau selalu memikirkan ku dengan pikiran kotor mu itu. Aku yakin kau telah membayangkan yang tidak-tidak barusan." ucap Andre.
Lucy mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela dengan wajah yang memerah.
"Turunlah, kita sudah sampai." ucap Andre.
Lucy melihat sekelilingnya dengan tatapan bingung, jelas-jelas ini bukanlah lingkungan apartemennya melainkan pertokoan.
"Kenapa kita pergi ke sini?" tanya Lucy bingung.
"Ayo turun, aku ada sesuatu untuk mu." ucap Andre melepas sabuk pengamannya.
Lucy menuruti ucapan Andre dan ikut turun walau ia bingung dengan apa yang di maksud Andre. Mereka memasuki pertokoan dan melewati beberapa toko, Lucy dibuat bingung dengan tujuan Andre. Akhirnya mereka memasuki sebuah toko jewelry yang mewah, Andre menunju sebuah etalase dan memanggil pelayan toko.
"Permisi, saya mau mengambil pesanan saya." ucap Andre pada pelayan itu.
"Atas nama tuan Andre benar? Tunggu sebentar tuan, saya akan mengambil pesanan anda." ucap pelayan itu.
Andre mengangguk dan pelayan tersebut pergi meninggalkan mereka berdua di sana. Lucy semakin terheran-heran kenapa Andre memesan perhiasan?.
"Untuk apa kamu memesan sebuah perhiasan?" tanya Lucy.
__ADS_1
"Kita lihat dulu, perhiasan ini cocok atau tidak dengan mu." ucap Andre.
"D-dengan ku? Kamu membeli perhiasan untuk ku mas? Untuk apa?" tanya Lucy tak percaya.
"Tenanglah, kita lihat dulu hasilnya." ucap Andre.
Tak lama pelayan toko jewelry tiba dengan sebuah kotak persegi di tangannya dan memberikannya pada Andre. Andre membuka kotak persegi itu dan melihat isinya yang terdiri dari kalung, anting, gelang dan cincin yang semuanya terbuat dari berlian. Mata Lucy langsung terbelalak lebar melihat perhiasan mewah yang ada di hadapannya itu.
"Bagaimana menurut mu?" tanya Andre.
Lucy hanya bisa terdiam melihat perhiasan mewah itu, ini kali pertamanya melihat barang semewah itu di depan matanya langsung.
"Bagiamana kalau kau mencobanya langsung?" tanya Andre.
"Untuk apa aku harus mencobanya? Tidak perlu, ini terlalu mahal. Aku takut ini akan rusak nanti." ucap Lucy gugup.
"Aku membelikan ini untuk mu, bagaimana bisa kau tidak mencobanya terlebih dahulu." ucap Andre.
Dengan cepat Andre menarik tangan Lucy dan merasa heran dengan Lucy. Kenapa Lucy terlihat tidak senang saat dia membelikan sebuah perhiasan untuknya?
"Apa kau tidak menyukainya?" tanya Andre lagi.
"Mas, aku mau pulang sekarang. Dan lagi bukan aku tidak suka dengan perhiasan itu, tapi tolonglah aku benar-benar ingin pulang saat ini." ucap Lucy mengiba.
"Katakan alasan yang tepat kenapa kau menolak aku memberikan ini kepada mu?" tanya Andre serius.
"Ini, bukan hal yang pantas untuk aku miliki. Ini terlalu berlebihan." ucap Lucy singkat.
Lucy telah sampai duluan di dalam mobil dan masih menunggu Andre yang ia tinggalkan di pertokoan. Ia benar-benar merasa tidak pantas mendapatkan perhiasan yang di beli oleh Andre untuknya, karena yang statusnya hanya seorang pacar. Belum tentu Andre akan menjadi suaminya kelak, dan lagi perhiasan itu bukanlah hal yang murah yang dapat di beli oleh orang awam sepertinya.
__ADS_1
Andre masuk ke dalam mobil namun sebelumnya ia membawa beberapa paper bag dan di letakan di kursi belakang mobil. Kini Andre telah masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, ia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tujuannya kini ke apartemen Lucy untuk mengantarkannya pulang. Melihat Andre yang hanya diam sedari masuk ke dalam mobil, Lucy menjadi merasa bersalah namun tak berani menyapanya.
Setiba di depan apartemen Lucy, ia tidak langsung turun untuk masuk ke dalam. Ia mencoba memberanikan diri untuk berbicara pada Andre yang sedari tadi hanya diam membisu.
"Mas, aku minta maaf jika aku mengecewakan mu." ucap Lucy.
Namun Andre hanya diam tanpa reaksi mendengar ucapan Lucy.
"Mas, aku bukan bermaksud untuk menolak perhiasan itu. Tapi perhiasan itu bukanlah harga yang murah dan juga tidak sembarangan orang yang dapat menerima perhiasan berharga seperti itu." ucap Lucy mencoba menjelaskan maksudnya.
"Aku sudah berkali-kali mengatakan pada mu bukan? Kau adalah kekasih ku, dan hal yang wajar bagiku untuk memberikan itu semua kepada mu." ucap Andre tanpa melihat ke arah Lucy.
"Aku tau mas, tapi kita belum ke tahap ang lebih jauh. Perhiasan itu benar-benar sangat mahal dan hanya bisa di beli saat kita memutuskan untuk bertunangan atau melanjutkan ke tahap yang lebih dari gaya sekedar kekasih." ucap Lucy sambil memegang tangan Andre.
Andre hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Lucy, hatinya masih merasa kesal dengan penolakan yang tidak masuk akal menurutnya.
Lucy membuka pintu mobil berniat untuk turun dan meninggalkan Andre yang masih menahan emosinya. Namun Andre lebih dulu turun dan mengambil paper bag yang di kursi belakang dan membuka lebar pintu mobil depan tempat Lucy akan turun. Ia melempat paper bag itu ke pelukan Lucy dan membuat Lucy terkejut.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun dari mulut mu, aku ingin kau memakai ini saat kita menjemput kedatangan ibu ku dari Indonesia." ucap Andre memaksa.
Lucy melihat isi di dalam paper bag itu yang tak lain adalah perhiasan yang tdi di pesan oleh Andre da juga beberapa gaun yang harganya juga tidaklah murah. Lucy tidak berani untuk menolaknya karena saat ini emosi Andre masih tinggi.
"Kalau begitu, aku pulang dulu mas. Kamu hati-hati di jalan dan juga jangan lupa kabari aku saat sampai di rumah nanti." ucap Lucy.
Andre hanya diam dan kembali ke dalam mobilnya, Lucy menunggu kepergian Andre sambil melambaikan tangannya. Sekali lagi Lucy melihat ke dalam paper bag itu, barang-barang mahal an bermerk yang tidak mungkin sanggup ia beli dengan gajinya sendiri. Melihat mobil Andre yang sudah pergi meninggalkan apartemennya, ia pun masuk sambil menjinjing belanjaan yang di belikan oleh Andre. Saat melewati lobby Lucy menghentikan langkahnya dan melihat sosok ayahnya yang sudah menunggu di sana, ia pun menghampiri ayahnya yang duduk di sebuah sofa lobby itu.
"Ayah kemari? Kenapa tidak menghubungiku sebelumnya?" tanya Lucy.
"Aku hanya ingin berkunjung dan melihat keadaan mu, ternyata kau pergi berakhir pekan dengan kekasih mu. Itu hal yang wajar menurut ku." ucap Boris sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ayo kita masuk, aku akan membuatkan makanan dan kopi untuk ayah." ucap Lucy menggandeng tangan ayahnya.