
Andre berangkat ke kantor dengan mengenakan kemeja biru muda yang ia gulung sedikit lengannya. Andre merupakan seorang laki-laki yang menjaga penampilannya namun ia juga sangat menjunjung kenyamanan dalam berpakaian. Setiba di kantor ia langsung menuju ruangannya dan melihat komputernya. setelah memeriksa beberapa schedule pekerjaan hari ini di komputernya, ia melihat ponselnya yang sudah menunjukan pukul 9.00 pagi. Dan belum ada pesan dari Lucy di ponselnya seperti ini biasanya.
Andre melanjutkan pekerjaannya tanpa memperdulikan masalahnya dengan Lucy. Ia sudah terlanjur fokus dengan pekerjaannya. Tiba-tiba ada sebuah telepon dari asistennya yang berada di luar ruangan.
"Ada apa? Aku sangat sibuk sekarang." ucap Andre kesal karena di ganggu.
"Tuan, ada nona Lucy ingin berjumpa dengan anda. Ada sesuatu yang ingin ia bahas, katanya sudah ada janji dengan tuan." ucap asistennya.
Andre terdiam mendengar ucapan asistennya itu, ada masalah apa sampai-sampai ia datang ke ruangannya.
"Biarkan dia masuk." ucap Andre.
Asisten Andre mempersilahkan Lucy masuk ke dalam ruang kerja Andre. Lucy melangkah dengan pelan sambil melihat-lihat ruangan tuan CEO itu. Benar-benar elegan dan mewah, terlebih lagi Andre yang nampak serius di depan komputernya membuat ketampanan Andre bertambah.
"Aku akan menyelesaikan ini secepatnya, kau tunggu saja di sana." ucap Andre tanpa menatap wajah Lucy.
Lucy menuruti perkataan Andre, ia duduk di sofa yang sudah di sediakan di ruangan itu sambil menatap Andre yang fokus bekerja.
"Apa dia saat ini sangat sibuk? Sepertinya aku datang di jam yang salah." batin lucy.
Lucy meletakan sebuah kotak makan di atas meja di depannya dan berdiri. Ia merasa tidak enak untuk mengganggu Andre yang sangat sibuk bekerja.
"Ahh, aku membuatkan mu sarapan. Sepertinya kau sangat sibuk, kalau begitu aku akan meletakan nya di sini. Jangan lupa untuk memakannya." ucap Lucy sambil melangkah keluar ruangan.
"Heiii... Apa aku sudah menyuruh mu pergi?" tanya Andre.
"Pekerjaan ku juga menumpuk, aku ke sini mengantar sarapan untuk mu. Apa kau sudah sarapan?" tanya Lucy.
"Kemari dan bawa kotak makan itu, saat ini aku sangat lapar. Aku tidak sempat sarapan tadi." perintah Andre yang masih fokus pada komputernya.
Lucy berjalan mengambil kotak makannya dan mendekat ke arah Andre. Ia meletakan kotak makan itu di meja Andre dan membukakan tutupnya.
"Suapi aku...." ucap Andre.
Lucy terkejut dengan apa yang barusan ia dengar.
__ADS_1
"Kenapa aku harus menyuapi mu? Kau bukan anak-anak lagi." ucap Lucy bingung.
Andre langsung menarik tangan Lucy dengan kuat membuat Lucy terjatuh ke pangkuan Andre. Saat ini wajah Lucy tepat di hadapan Andre dengan posisi tubuhnya yang berada di atas pangkuan Andre.
"Aku benar-benar sibuk, duduk diam dan suapi aku." ucap Andre dengan wajah serius.
Lucy mengambil kotak makan dan menyuapi sandwich yang ia buat tadi sebelum berangkat kerja. Dengan tangan gemetar dan detak jantung yang berdegup kencang Lucy berusaha menetralkan pikirannya dan fokus kepada sarapan Andre. Namun tetap saja, matanya mengarah ke bibir tipis Andre.
"Turunkan aku, kau sudah menghabiskan makanan mu." ucap Lucy yang masih tertunduk malu.
"Kenapa terlalu cepat? Buatkan aku minum, aku butuh minum sekarang." ucap Andre.
"Ya sudah, turunin aku dulu. Gimana aku mau ambil minum kalau kamu pangku gini terus?" tanya Lucy.
"tidak perlu, ambil di sana. Minum ku sudah di sediakan di sana." ucap Andre menunjuk sebuah botol air mineral di atas mejanya.
Dengan wajah heran Lucy langsung mengambil botol itu dan membukakan minum untuk Andre. Andre mengambil minum dan meneguk air dengan menyunggingkan senyuman.
"Ahh aku sudah kenyang sekarang." ucap Andre kembali fokus pada pekerjaannya.
"Apa aku sudah menyuruh mu pergi? Kau harus menemani ku menyelesaikan ini semua." ucap Andre.
"Aku juga banyak pekerjaan, bagaimana kalau aku tidak dapat menyiapkan itu nanti?" tanya Lucy merengek.
"Tidak akan ada yang bisa memarahi mu." ucap Andre.
Lucy benar-benar tidak tau harus alasan apa lagi untuk menghadapi tingkah Andre yang sangat suka mengganggunya.
Melihat wajah Lucy yang cemberut Andre tersenyum puas karena sudah menganggu pacarnya itu.
"Apa kau marah pada ku?" tanya Andre.
Lucy hanya menggeleng dengan menundukkan wajahnya.
"Baiklah, jika kau ingin kembali ke meja mu, kau harus membuat semangat ku bangkit terlebih dahulu." ucap Andre tersenyum nakal.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Kau sudah bersemangat dari pagi tadi bukan? Bahkan saking semangatnya kau sangat senang menganggu ku." ucap Lucy dengan wajah merajuk.
"Terserah bagaimana cara mu. Bila aku senang, aku akan menyuruh mu kembali ke meja mu dan akan melepaskan mu untuk bekerja lebih cepat." ucap Andre serius.
Lucy terdiam memikirkan apa maksud dari perkataan Andre. Jelas saja saat ini Andre terang-terangan sedang menggodanya. Lucy mencoba memberanikan diri untuk menatap mata Andre.
"Apa kau sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu?" tanya Andre dengan tatapan nakal.
Lucy mengarahkan wajahnya mendekati wajah Andre dengan tangannya yang membelai dada Andre. Lucy pun mencium kening Andre dengan mesra. Saat ia merasakan rangkulan Andre mengendur, Lucy langsung melompat turun dari pangkuan Andre dan berlari menuju pintu.
"Hei siapa yang menyuruh mu kabur?" tanya Andre terkejut.
"Ha ha ha.... Maaf tuan CEO aku sengaja menipu mu, kalau tidak begini aku pasti tidak akan kau lepaskan bukan." ucap Lucy sambil mencibir Andre yang nampak kesal.
Lucy berlari keluar ruangan Andre dengan penuh senyuman puas karena sudah menipu Andre. Ia benar-benar tak menyangka kekasihnya itu sangat mengharapkan sesuatu terjadi di antara mereka di kantor.
"Ahh kucing liar ku sekarang sudah pandai bermain-main dengan ku. Sepertinya aku harus memberinya pelajaran tambahan." gumam Andre tersenyum nakal.
Andre kembali fokus kepada pekerjaannya dan menyelesaikan pekerjaannya saat itu. Ia benar-benar senang dengan kedatangan Lucy ke ruangannya. Yang menunjukan Lucy sudah mulai terbuka dengan hubungan mereka.
Lucy duduk di depan komputernya dan menyelesaikan setumpuk pekerjaannya yang sudah menunggu. Ia tersenyum bahagia karena sudah membalas permainan yang dilakukan Andre kepadanya tadi. Saat sedang serius bekerja, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dan itu adalah sebuah telepon dari sahabatnya Carlo.
"Hy Carlo, tumben pagi-pagi menelepon ku. Ada apa?" tanya Lucy dengan suara riang.
"Lucy, barusan aku bertemu dengan ayah mu. Ia mencari mu selama ini dan mengancam ku jika tidak memberi tau keberadaan mu. Maaf Lucy aku tidak bisa menyembunyikan mu dari ayah mu." ucap Carlo menyesal.
Lucy terdiam mendengar ucapan Carlo. Yang benar saja, saat hidupnya kini mulai berubah jauh lebih baik bagaimana mungkin ayahnya akan mengacaukan semua kehidupannya yang ia miliki.
"Ahh tidak apa-apa Carlo, terima kasih karena sudah memberitahu ku. Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang." ucap Lucy dengan suara gemetar.
"Sebaiknya kau tidak usah pulang malam ini Lucy, aku yakin ayah mu sedang menunggu di apartemen mu." ucap Carlo menasehati.
"Baiklah, aku akan mendengar nasehat mu. Sekali lagi terima kasih." ucap Lucy menutup telepon.
Badan Lucy gemetar mendengar ayahnya menunggu kedatangannya di apartemen. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan ayahnya jika mereka bertemu. Ia sangat takut jika ayahnya memaksanya pulang dan menjualnya lagi ke klub malam.
__ADS_1