
Lucy mengangkat kepalanya dan memandang wajah ibu Andre yang sedari tadi seakan mengintimidasi dirinya secara sepihak. Ia menarik panjang napasnya dan menghembuskannya perlahan.
"Nyonya, sebelumnya saya sangat meminta maaf kepada anda dengan segala perlakuan saya terhadap anak anda. Namun yang harus anda ketahui, saya adalah wanita yang sangat mengerti apa arti dari harga diri. Saya sama sekali tidak menginginkan harta anak anda ataupun kekuasaan yang di milikinya. Saat pertama saya bertemu dengannya, anak anda yang terlebih dahulu memberikan pertolongan kepada saya. Dan apakah menurut anda salah jika saya menyukai anak anda? Mungkin saya dari keluarga yang berantakan dan tidak berada, tapi seperti yang anda ceritakan barusan, kehidupan seseorang siapa yang dapat menebaknya di kemudian hari. Jadi nyonya, maaf saya tidak bisa meninggalkan Andre hanya karena status. Saya akan meninggalkan dia jika Andre sendiri yang meminta saya untuk pergi meninggalkannya." ucap Lucy sambil menatap wajah ibu Andre.
Ibu Andre terkejut dengan ucapan Lucy yang sama sekali tidak merasa gentar dengan serangannya sedari tadi. Namun di sisi lain ia menikmati tempramen Lucy yang berani memperjuangkan apa yang dia inginkan.
"Baiklah jika kau tidak ingin mundur dari kehidupan Andre, aku tidak akan memaksa mu. Tapi jika kau sudah terbangun dari mimpi mu, segeralah pergi tanpa melihat kebelakang lagi." ucap ibu Andre pergi meninggalkan ruang kerja Andre.
Setelah memastikan ibu Andre benar-benar keluar dari ruangan, Lucy menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dan menghela napas panjang. Jantungnya berdebar kencang mengingat apa yang baru saja ia katakan, ini kali pertama baginya berbicara se-yakin itu kepada orang lain.
"Ahh apa yang sudah ku lakukan, seharusnya aku mengambil hati ibu Andre secara baik-baik tapi aku malah mengacaukannya dan memberi kesan buruk kepada beliau. Arrgh aku benar-benar gila." ucap Lucy membanting-banting tangannya.
Lucy keluar ruangan namun tidak mendapati ibu Andre dan Ratih, hanya nampak Alex yang sedang bermain game di ruang keluarga.
"Mereka berdua pergi keluar untuk melihat-lihat suasana apartemen dan berbelanja." ucap Alex yang mengetahui isi pikiran Lucy.
__ADS_1
"Ah benarkah? Aku akan menyusul mereka, takutnya mereka akan tersesat dan bingung mencari jalan pulang." ucap Lucy khawatir.
"Tenang saja, Ratih sudah kenal dengan seluk beluk kota ini. Dia sering liburan ke Paris." ucap Alex yang fokus terhadap permainannya.
Lucy hanya mengangguk mendengarkan ucapan Alex, kini ia bingung harus berbuat apa di apartemen kekasihnya itu. Rasanya sangat canggung mengingat biasanya hanya ada dia dan Andre di apartemen ini.
"Hei kesini, temani aku bermain Vidio game." ucap Alex sambil menepuk sofa di sebelahnya.
Lucy berjalan mendekati Alex dan duduk di sebelahnya. Ia menatap ke layar televisi, permainan yang sangat tidak ia mengerti.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Lucy heran.
"Aku tidak mempermasalahkan siapa yang akan menjadi jodoh kakak ku, hanya saja merebut seseorang dengan cara yang tidak fair itu dilarang. Ratih menggunakan titel dan ibu ku demi mendapatkan apa yang dia mau, dan kini dia mencoba mengintimidasi diri mu melalui ibu ku. Itu perbuatan yang memalukan." oceh Alex.
Lucy hanya tersenyum mendengar ocehan Alex yang terdengar seakan membelanya walaupun itu tidak sepenuhnya membela.
__ADS_1
"Ahh aku tidak pandai dalam bermain Vidio game ini. Aku tidak akan ikut bergabung dengan mu, aku melihat saja." ucap Lucy.
"Kalau begitu apa kau punya cemilan? Aku butuh makanan ringan saat bermain seperti ini." tanya Alex.
"Apa kau mau biskuit? Aku membuatnya semalam dan menyiapkannya untuk kalian." ucap Lucy.
"Kenapa kau tidak mengeluarkannya dari tadi?" tanya Alex.
"Aku tidak terlalu pandai dalam membuat biskuit, dan juga aku tidak yakin kalian akan menyukainya." ucap Lucy.
"Bagaimana bisa kau mengetahuinya jika kau tidak menyuruh orang lain untuk mencobanya. Kau harus membuang sifat buruk seperti itu jika kau ingin menang dari Ratih, kau harus jauh lebih percaya diri." ucap Alex.
"Baiklah kalau begitu aku akan mengambil biskuitnya terlebih dahulu." ucap Lucy meninggalkan Alex sendiri bermain Vidio game.
Lucy membuka bingkisan yang ia bawa dari rumahnya tadi yang berisikan beberapa toples biskuit. Ia mengeluarkan biskuit itu dari kantong dan membuatkan dua gelas susu. Setelah selesai Lucy pun menghampiri Alex yang masih asyik main Vidio game.
__ADS_1