
"Mungkin kau berpikir jika aku menyetujui perjodohan antar orang tua ku dengan orang tua Andre, tapi kenyataannya aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan yang seperti ini. Aku juga ingin merasakan jatuh cinta dan di cintai, aku bukan anak jaman dahulu yang selalu menuruti permintaan orang tua. Itu konyol." ucap Ratih.
"Jadi maksud mu?" tanya Lucy.
"Ya aku tidak menyukai Andre, aku hanya berpura-pura baik di hadapan ibu Andre. Dan aku mempunyai rencana ku sendiri." ucap Ratih menjelaskan.
"Rencana? Tapi ku lihat kau seakan-akan menyetujui perjodohan ini." ucap Lucy.
"Kau sudah melihatnya bukan? Bagaimana aku memperlakukan ibu Andre, apa kau pikir itu semua benar-benar pure tingkah laku ku? Apa kau pikir aku yang seperti ini tidak bisa memasak dan hanya bisa malas-malasan? Aku melakukan itu semua agar kau mendapatkan pandangan jauh lebih baik di mata ibu Andre." ucap Ratih.
Lucy tercengang mendengar ucapan Ratih, ternyata selama ini ia bersandiwara untuk menyelamatkan Lucy agar dia di pandang oleh ibu Andre.
"Ratih, maafkan aku yang sudah berpikir jahat tentang mu dan bahkan aku sempat sangat cemburu dengan kamu yang sangat sempurna sebagai seorang wanita." ucap Lucy tulus.
"Sempurna? Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Ratih.
"Ya, kau cantik, berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan yang baik bahkan dari keluarga terpandang sangat jauh berbanding terbalik dengan kehidupan ku. Jadi aku benar-benar irisan merasa kurang bersyukur dengan apa yang sudah aku miliki. Aku bahkan ingin menyerah dengan hubungan ku dan Andre." ucap Lucy.
"Apa yang kau lihat saat ini mungkin tidak sebaik yang kau lihat jika dulu kau kenal dengan ku. Aku tidak sebaik dan sesempurna itu Lucy, keluarga ku bahkan bukanlah keluarga yang seutuhnya hidup harmonis. Aku hidup di bawah tekanan, tidak semua kemauan ku bisa terpenuhi. Semua yang ku lakukan harus mengikuti perkataan orang tuaku dan jika sesuatu kesalahan terjadi pada jalan hidup ku, mereka tidak akan segan-segan memaki ku karena mereka menganggap aku membuat nama keluarga tercoreng. Aku benar-benar tertekan Lucy." ucap Ratih dengan wajah sedih.
"Ah aku minta maaf Ratih jika aku membuat mu bersedih dan tidak tau kalau kau seperti itu. Aku benar-benar minta maaf dan merasa bersalah." ucap Lucy.
"Tidak masalah, aku sudah tidak memikirkan itu lagi. Saat ini aku sudah hampir sedikit bebas, saat aku sudah mendapatkan kedudukan ku di rumah sakit nanti aku bisa melakukan apapun yang aku mau." ucap Ratih.
"Apa kau akan memberontak? Bagaimana jika orang tuamu memarahimu lagi, dan mereka menyalahkan dirimu lagi?" tanya Lucy khawatir.
"Tenang, kekuatan ku akan lebih banyak jika rumah sakit itu sudah aku kuasai." ucap Ratih sambil tertawa.
__ADS_1
Lucy pun ikut tertawa mendengar ucapan Ratih, ia benar-benar salah menganggap Ratih selama ini. Kini hatinya sedikit lega karena nyatanya Ratih tidak menaruh hati kepada Andre.
"Ratih, aku akan mendoakan mu agar mendapatkan pendamping yang sesuai dengan keinginanmu dan kalian akan hidup bahagia." ucap Lucy tersenyum.
"Terimakasih Lucy, baiklah kalau begitu aku harus memanggil lelaki yang menunggu kabar mu di luar sana. Aku yakin dia sangat khawatir dengan keadaan mu saat ini." ucap Ratih.
"Ratih, tapi aku masih bingung dengan hubungan kami." ucap Lucy sambil memegang tangan Ratih.
"Bingung akan hal apa? Tenanglah, Andre benar-benar mencintaimu dan itu tersirat jelas di wajahnya." ucap Ratih.
"Tapi apa menurut mu aku aku dan Andre akan bisa bersama jika keyakinan kami berbeda?" tanya Lucy langsung.
Ratih terdiam mendengar ucapan Lucy, ia lupa jika yang di hadapi Lucy saat ini bukan hanya persetujuan dari ibu Andre melainkan status agamanya pun harus ia pertaruhkan dalam hubungan ini.
"Lucy, aku tidak terlalu mengerti dengan hal ini. Tapi apa aku bisa bertanya pada mu?" tanya Ratih.
"Jika ibu Andre telah menyukai mu, apa kau bersedia merubah keyakinan mu itu?" tanya Ratih gugup.
Lucy terdiam mendengar pertanyaan Ratih, ia tidak pernah mendapatkan pertanyaan seperti ini sebelumnya dan bahkan belum pernah memikirkannya.
"Aku tidak bisa memilih hal seperti itu, aku benar-benar tidak tau pilihan apa yang sebaiknya aku ambil." ucap Lucy.
"Baiklah, pilihlah dengan kata hatimu. Jika kau tidak keberatan, kau juga sesekali harus mencari tahu tentang ajaran kekasih mu. Karena Andre tidak akan pernah meminta mu untuk meninggalkan ajaran mu, kau sendiri yang harus memilihnya Lucy." ucap Ratih.
Ratih berdiri dan meninggalkan Lucy yang masih duduk di atas kasur, ia keluar dari kamar dan melihat sosok Andre yang mondar-mandir di depan pintu.
"Sudah berapa kali kau bolak-balik?" Tanya Ratih heran.
__ADS_1
"Jadi bagaimana keadaanya? Apa ada sesuatu yang serius?" tanya Andre panik.
"Wow wow tenanglah pak, kekasih mu itu tidak mengalami masalah apa-apa. Dia hanya sedikit kelelahan dan juga stres berlebih, sakit di perutnya itu di akibatkan karena memang bawaan bulanan." ucap Ratih mejelaskan.
"Benarkah? Syukurlah jikalau begitu, aku bisa sedikit tenang mendengarnya." ucap Andre pergi meninggalkan Ratih dan masuk ke dalam kamar Lucy.
Andre melihat Lucy yang masih duduk di atas kasur dengan selimut membungkus separuh badannya. Ia mendekati gadis itu dan duduk di sampingnya.
"Apa kini kau merasa jauh lebih baik?" tanya Andre.
Tiba-tiba Lucy menundukkan kepalanya dan menangis, Andre bingung melihat kekasihnya yang tiba-tiba ia jumpai menangis di hadapannya.
"Ada apa? Apa perut mu sakit lagi? Ratih masih ada di luar, aku akan menyuruhnya masuk dan memeriksa mu lagi." ucap Andre panik.
Andre berdiri dari kasur untuk menemui Ratih di luar namun tangan Andre tiba-tiba di tarik oleh Lucy dan seketika langkahnya terhenti.
"Aku baik-baik saja." ucap Lucy.
"Jika kau baik-baik saja, jadi kenapa kau menangis?" tanya Andre heran.
"Aku hanya menangisi kebodohan ku, kenapa aku berpikir jika Ratih berniat mengambil mu dari ku. Dan aku bahkan berpikir jika kalian sudah benar-benar bertunangan." ucap Lucy sambil menangis.
"Bertunangan? Yang benar saja, kau tau informasi itu dari mana?" tanya Andre heran.
"Itu, aku melihat mu memakainya dan aku sangat sedih melihat itu saat kau tiba di sini tadi." ucap Lucy sambil menunjuk cincin yang melingkar di jari manis Andre.
Andre melihat jarinya yabg terpasang cincin pembelian dari ibunya kemarin, ia yang di paksa oleh ibunya memakai itu mau tak mau harus menuruti kemauan ibunya demi Lucy. Andre memeluk tubuh Lucy dan mengelus-elus kepalanya mencoba untuk menenangkan kekasihnya itu.
__ADS_1